logo


700 Ribu Orang Berisiko Terinfeksi Covid-19 di Indonesia

Data tersebut berdasarkan penelusuran kontak dekat terhadap pasien positif corona.

25 Maret 2020 16:21 WIB

Upaya Mencegah Virus Corona
Upaya Mencegah Virus Corona dok PLN

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Juru bicara pemerintah terkait penanganan virus corona Covid-19 Achmad Yurianto menyebut 600 ribu hingga 700 ribu warga Indonesia berisiko terinfeksi virus corona di Indonesia.

Yurianto mengatakan, data tersebut berdasarkan penelusuran kontak dekat terhadap pasien positif corona.

"Data perhitungan yang kami miliki, jumlah orang yang berisiko kisaran 600 ribu sampai 700 ribu orang," kata Achmad Yurianto di Gedung BNPB, Jakarta, Jumat (20/3).


Sebut Pemerintah Bisa Lockdown Jakarta, Habiburokhman: Telah Memenuhi Kriteria Kedaruratan

Jika ramalan itu benar terbukti maka dipastikan Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet tidak cukup menampung pasien. Kapasitas total Wisma Atlet hanya mencapai 24 ribu orang.

Untuk mencegah membludaknya pasien Covid-19, maka faktor-faktor penularannya perlu diperhatikan baik dari sisi hulunya hingga hilir. Yang saat ini belum menjadi perhatian publik adalah di sisi hilir yakni banyaknya limbah medis B3 yang dihasilkan dari operasional rumah sakit. Limbah medis B3 ini juga dapat berperan dalam penularan dan mengancam lingkungan jika tidak diolah dengan baik.

Sementara itu, peneliti di Pusat Pemodelan dan Simulasi Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) sebelumnya telah memperkirakan bahwa wabah akan berakhir pada pertengahan April dan menginfeksi sekitar 800 ribu orang.

Nuning Nuraini, yang terlibat dalam penelitian itu mengatakan, angka tersebut didapatkan dengan model estimasi parameter berdasarkan penyebaran infeksi di Korea Selatan.

Lain lagi peneliti surveilans penyakit dan biostatistik, Iqbal Ridzi Fahdri dan timnya yang tergabung dalam Eijkman Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) menyebut bahwa lonjakan kasus Covid-19 bisa mencapai lebih dari 70 ribu kasus, yang diprediksi terjadi pada bulan April, menjelang hari raya Idul Fitri.

Ia mengungkapkan bahwa semakin cepat waktu penggandaan, semakin tinggi pula prosentase kematian yang disebabkan oleh virus tersebut. Untuk diketahui, di Indonesia, tercatat jumlah kasus meningkat dua kali lipat dalam 3 hari, sementara Italia dan Iran yang kini merupakan negara dengan kasus terbanyak, memiliki waktu penggandaan yang lebih lama, yakni 5 dan 7 hari.

"Semakin pendek waktu penggandaan, semakin berbahaya," katanya seperti dikutip The Jakarta post, Rabu (25/3).

Perkiraan yang ia ungkapkan ini bermaksud agar pemerintah lebih waspada dan mengeluarkan kebijakan yang lebih besar dan efektif dalam mencegah penyebaran wabah, serta meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat Indonesia.

"Tujuh puluh satu ribu kasus mungkin terdengar menakutkan, tapi itulah yang akan terjadi tanpa intervensi yang tepat. Presiden telah mendesak publik untuk mempraktikkan jarak sosial dan kami berharap semua orang mendengarkannya sehingga kami dapat mengurangi waktu penggandaan," paparnya.

Tambah 105, Ada 790 Kasus Positif Corona

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan,Tino Aditia