logo


KKP Genjot Produksi Si Bungkuk Melalui Penggunaan Induk Unggul

Menurut Slamet, target produksi udang tahun 2015 sebesar 785.900 ton

27 Maret 2015 06:40 WIB


TANGERANG, JITUNEWS.COM – Udang masih merupakan komoditas primadona baik bagi pembudidaya dan eksportir karena harganya yang cukup tinggi dan pasar yang masih terbuka. Namun kenyataannya, budidaya udang saat ini masih kerap belum lepas dari ancaman penyakit.

“Saat ini, budidaya udang kita masih bebas dari serangan penyakit. Tetapi kita harus tetap waspada dengan melakukan langkah-langkah pencegahan dan antisipasi munculnya serangan penyakit yang sudah menyerang beberapa Negara di Asia,” tutur Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto kepada wartawan, kemarin.

Lebih lanjut Slamet mengatakan bahwa langkah pencegahan yang saat ini dilakukan adalah melarang penggunaan induk yang berasal dari tambah pembesaran. “Penggunaan induk udang yang berasal dari tambak pembesaran, sangat rentan terhadap munculnya penyakit baik itu Early Mortality Syndrome (EMS) maupun White Faeces Disease (WFD). Seleksi induk yang tidak memenuhi kaedah selective breeding dan tidak dilakukan oleh orang yang mempunyai kompetensi akan mendorong munculnya penyakit-penyakit tersebut”, kata Slamet.


Penolakan Program Bantuan KKP kepada Pembudidaya Ikan adalah Hoax

Untuk itu, Slamet telah menugaskan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perikanan Budidaya khususnya Budidaya Air Payau, untuk mengawasi dan mencegah terjadinya seleksi induk dari tambak tersebut.

“Ini adalah salah cara untuk mencegah munculnya penyakit WFD tersebut. Saat ini, untuk mencegah penyakit ini yang perlu dilakukan adalah melakukan persiapan lahan sesuai anjuran antara lain melakukan pengeringan lahan secara sempurna, kemudian menggunakan benih udang dari unit pembenihan bersertifikat. Hindari menggunakan benih udang dari unit pembenihan yang belum menerapkan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB). Karena dikhawatirkan adanya penggunaan induk udang tanpa melakukan selective breeding secara tepat, sehingga benih yang dihasilkan kurang bermutu dan mudah terserang penyakit,” tutur Slamet.

Slamet juga terus mendorong penerapan CPIB dan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) di semua unit usaha budidaya perikanan. “Penerapan CPIB di unit pembenihan dan CBIB di unit pembesaran secara tepat dan sesuai anjuran akan menghasilkan hasil yang berkualitas dan usaha nya pun dapat terus berjalan dan berproduksi. Penerapan Good Aquaculture Practices (GAP) baik itu CPIB dan CBIB merupakan cerminan perikanan budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan”, jelas Slamet.

Menurut Slamet, target produksi udang tahun 2015 sebesar 785.900 ton dengan rincian, udang windu 189.700 ton, vaname 518.600 ton, dan udang lainnya 77.600 ton dengan luasan tambak 722.650 ha.

“Strategi untuk mencapai target itu, antara lain dengan pengembangan kawasan minapolitan yang terintegrasi dengan pengolahn produk perikanan, pengelolaan saluran tambak partisipatif, pengingkatan produksi induk unggul udang dan benih udang bermutu, serta pengembangan naupli center untuk penyediaan benih udang bermutu,” paparnya.

KKP Restocking Ribuan Ikan Nemo dan Kuda Laut di Pulau Tegal Lampung

Halaman: 
Penulis : Riana
 
×
×