logo


Komersialisasi Tubuh SPG Dalam Praktek Personal Selling

Pekerjaan sebagai SPG memang cukup menggiurkan karena gaji yang ditawarkan pun lumayan besar

7 Februari 2020 23:28 WIB

Dina Sekar Vusparatih
Dina Sekar Vusparatih Dok. Pribadi

Komersialisasi Tubuh SPG Dalam Praktek Personal Selling Apa yang terlintas di kepala anda ketika mendengar iklan adanya pameran otomotif? Mobilnya atau mbak-mbak cantik yang berdiri didekat mobil yang dipamerkan? Jika anda adalah perempuan, mungkin akan biasa saja atau cenderung tidak peduli jika ada pameran otomotif. Tetapi reaksi anda akan berbeda jika anda adalah kaum adam, apalagi sedang punya niat untuk membeli mobil baru atau mengganti mobil lama. Namun tidak jarang, banyak kaum laki-laki yang datang dengan niat untuk melihat-lihat karena memang pengamat otomotif yang tertarik dengan otomotif atau pengamat yang memang hanya mampu mengamati tanpa membeli. Membandingkan kualitas mobil merek yang satu dengan yang lain.

Terlepas dari apapun tujuan anda ketika memiliki ketertarikan untuk datang ke pameran otomotif, tentu anda sudah membayangkan akan bertemu, sekali lagi, dengan mbak-mbak cantik. Sales Promotion Girl (SPG) adalah sebutan untuk mereka. Berbaju ketat dan terbuka disana sini serta tidak lupa riasan wajah yang memikat, sudah menjadi “trademark” mereka. Sehingga tidak dipungkiri bahwa kehadiran mereka juga menjadi daya tarik selain mobil yang dipamerkan.

Pekerjaan sebagai SPG memang cukup menggiurkan karena gaji yang ditawarkan pun lumayan besar dengan durasi kerja yang pendek. Mengutip dari berita di salah satu media digital, tarif untuk SPG ada yang memperoleh Rp 700.000 per shift dimana 1 shift adalah 7 jam. Dengan lamanya pameran setingkat internasional yang biasanya 11 hari maka total penghasilan SPG adalah Rp 7.700.000. Tarif yang diterima para SPG ini berbeda tergantung pada brand otomotif yang mereka wakilkan. Semakin terkenal sebuah brand otomotif maka akan semakin tinggi tarif pendapatan yang diperoleh. Begitu pun sebaliknya. Pendapatan itu sudah termasuk makan namun tanpa penginapan. Biasanya para SPG ini memiliki komunitasnya sendiri sehingga mereka terbiasa membayar bersama satu penginapan yang berlokasi tidak jauh dari tempat pameran. Menyewa 1 apartemen untuk dihuni 3-4 SPG adalah hal yang biasa karena toh mereka bekerja pada waktu yang berbeda. Dari tahun ke tahun, pendapatan para SPG terus meningkat. Pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIASS) 2019 yang berlangsung mulai tanggal 18-28 Juli 2019 di ICE, BSD City, Tangerang, SPG ini memperoleh pendapatan 10 hingga 20 juta. SPG yang sebenarnya berprofesi model pun tidak keberatan untuk menjalani rutinitas sebagai SPG mengingat penghasilan yang lumayan ini.


Wow, SPG Kelas Wahid Ramaikan IIMS 2017

Hal yang menarik adalah justru semakin terkenal sebuah brand otomotif maka semakin tinggi tarif yang ditawarkan kepada SPG namun penampilan dari SPG justru semakin terlihat lebih “tertutup”. Menggunakan blazer hitam dan rok hitam setinggi lutut biasanya akan ditemui di brand-brand papan atas atau yang lebih diminati oleh kalangan ekonomi atas. Tetapi pemandangan berbeda akan ditemui untuk brand-brand mobil menengah bagi kalangan ekonomi menengah. Pakaian tanpa lengan dan panjang diatas lutut atau berkerah rendah, menjadi pemandangan biasa.

Dari sisi SPG sendiri, profesi ini merupakan pekerjaan yang menyenangkan karena durasi pekerjaan yang pendek tetapi pendapatan yang besar melebihi gaji bulanan pekerjaan kantoran. Mengikuti pelatihan dan mempelajari informasi mengenai otomotif yang akan mereka wakilkan adalah kewajiban yang harus dijalani. Kemampuan berbicara dan menghadapi publik adalah skill lain yang harus dimiliki selain tentu saja menjaga tubuh agar tetap sedap dipandang dan mempercantik diri dengan dandanan yang mampu menarik perhatian. Beberapa SPG berpendapat bahwa menjadi SPG harus mampu menarik perhatian pengunjung hingga sampai pada titik membeli. Oleh karena itu mereka merasa perlu membekali diri dengan berbagai informasi mengenai otomotif yang diwakilkan dan mampu mereprentasikan citra otomotif dengan baik.

SPG adalah salah satu contoh dari seseorang yang sesungguhnya menjalankan personal selling di dunia nyata dan sangat mudah ditemui. SPG dapat ditemui di departemen store, mall, berbagai acara musik, dan masih banyak lagi. Personal selling adalah kegiatan komunikasi tatap muka yang melibatkan presentasi tentang produk dan bertujuan untuk menjual. Terbagi menjadi beberapa kriteria, dan SPG merupakan kriteria yang paling sering ditemui di kehidupan sehari-hari yaitu kriteria retail selling. Biasanya transaksi yang terjadi adalah transaksi langsung dengan konsumen sebanyak sekali lalu bisa jadi berkali-kali (repeat transaction). SPG akan menghabiskan waktunya kepada konsumen untuk menjelaskan tentang produk yang dijual sampai konsumen dapat terpengaruh untuk membeli. Ketika pembelian berkali-kali terjadi pada produk yang sama maka hubungan antara produk dengan pembeli menjadi semakin dekat. Oleh karena itu, peran SPG dalam mempengaruhi konsumen untuk membeli pada transaksi pertama, sangat penting sekali.

Menjadi SPG tidaklah semudah yang terlihat pada pameran otomotif. Seperti asal cantik, asal seksi, asal berani berpakaian minim, atau pandangan negatif lainnya. SPG dalam arti personal selling yang sebenarnya adalah mereka yang memiliki elemen komunikasi antar manusia yang baik. Elemen komunikasi yang dimaksud adalah karater pribadi dari SPG, kemampuan verbal dari SPG dan komunikasi nonverbal dari SPG.

Karakter pribadi yang dimaksud disini adalah mereka yang percaya diri, punya motivasi tinggi, fleksibel, optimis, dan memiliki citra diri yang bagus ketika berhadapan dengan situasi sosial dan bisnis. Semua karakter itu bisa dipelajari dan dilatih dengan semangat dan dedikasi yang tinggi. Hanya saja memiliki citra diri merupakan sesuatu yang lebih rumit. Dalam ilmu psikologi, citra diri merujuk pada prilaku dan perasaan seseorang terhadap orang lain dan terhadap peranan seseorang dalam kaitannya dengan yang lain.

Sebagai contoh, dalam konteks karakter pribadi seperti percaya diri, dapat memberikan pengaruh yang sangat besar dalam keberhasilan seorang SPG. Jika dalam dirinya merasa percaya diri mampu untuk mempengaruhi konsumen untuk membeli produknya maka dengan sendirinya ia akan terus berusaha semaksimal mungkin memberikan penjelasan dan solusi hingga konsumen teryakinkan untuk membeli. Tentu saja didukung dengan kemampuannya berbicara dengan baik secara verbal. Elemen terakhir yaitu komunikasi nonverbal adalah bagian yang cukup rumit dan sulit yaitu mengontrol bahasa tubuh. Inilah yang harus hati-hati dipraktekkan agar tidak menimbulkan adanya pesan negatif yang diterima oleh calon konsumen.

Selain dari elemen komunikasi bagi seorang SPG, terdapat beberapa pengetahuan yang juga seharusnya diketahui oleh SPG yaitu pengetahuan tentang produk yang akan ditawarkan, pengetahuan tentang perusahaannya dam pengetahuan tentang pesaing atas produknya. Mengetahu semua informasi tentang produk tentu saja hal yang utama dan menjadi hal pertama yang harus dipelajari. Namun pengetahuan tentang perusahaannya dan pesaing atas produknya kadang sering terlupakan. Padahal kedua pengetahuan ini sangat penting.

Mengetahui tentang perusahaan yang mereka wakili dapat memberi informasi bagaimana mereka harus bersikap, bergaya untuk penampilannya, berprilaku dan berkomunikasi dengan para konsumen dan masyarakat pada umumnya. Karena SPG ini adalah kontak pertama yang ditemui oleh konsumen, yang mewakili perusahaan. Sebagaimana yang sering kita dengar, kesan pertama begitu menggoda, atau cinta pada pandangan pertama. Semua itu menggambarkan bagaimana pentingnya sebuah pertemuan pertama dalam suatu proses yang berkelanjutan. Oleh karena itu harus dipastikan bahwa SPG mampu mewakili nilai-nilai yang dianut oleh perusahaan dan mampu merefleksikan nilai itu kepada konsumen dan masyarakat pada umumnya.

Mengetahui informasi tentang pesaing memang terdengar seperti negatif atau curang. Namun arti sebenanrnya adalah agar dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan dari produk pesaing lalu kemudian dapat menjadi sumber dalam membuat strategi penjualan. Strategi disini adalah untuk mencari informasi dari produk yang diwakilkan/dijual agar mampu menjawab pertanyaan dari konsumen yang coba membandingkan dengan produk lain dari pesaing. SPG dapat terus memberikan penjelasan lebih banyak pada kelebihan produknya sehingga secara jelas akan memberi pesan bahwa produknya memiliki kelebihan dimana menjadi kelemahan dari produk lain. Dalam melakukan hal ini, tentu saja etika harus tetap terjaga. Berbicara hal ini maka kita kembali pada bagaimana citra diri kita harusnya terbentuk di mata konsumen. Atau citra diri yang kita sebagai SPG ingin terlihat di mata konsumen.

Semua hal-hal yang harus dimiliki SPG pada akhirnya tidak hanya menjadi kewajiban dari SPG itu sendiri. Tetapi juga menjadi kewajiban dari perusahaan terutama pada tim Marketing Communication. Personal selling adalah bagian dari Integrated Marketing Communication dan SPG adalah praktisi dari personal selling yang sesungguhnya. Sehingga penting sekali jika perusahaan membekali para SPG dengan semua pengetahuan yang harus dimiliki berikut elemenelemen kunci dari komunikasi seorang SPG. Tidak hanya sekedar memilih yang cantik, yang mau berpakaian seksi, yang dapat berdandan cantik dan menggoda, yang mau menari didepan umum, yang sanggup berdiri selama 7 jam penuh atau yang mampu menahan dinginnya ruangan dengan pakaian terbuka dan tipis.

SPG bukanlah sekedar pemanis dari sebuah pameran otomotif. Meskipun diakui bahwa pemandangan seksi dan menggoda yang dilihat para kaum adam yang merupakan pengunjung terbesar, mampu menarik mereka untuk datang mendekat dan bertanya. Sebagaimana diakui oleh beberapa SPG seperti yang dikutip dari salah satu media digital lainnya, bahwa banyak juga pengunjung yang bertanya nomor telepon pribadi mereka, menganjak bertemu di lain waktu atau ajakan liar lainnya. Diakui oleh para pengunjung laki-laki bahwa bagian-bagian terbuka di tubuh dari SPG menjadi pemandangan yang dicari. Jadi selain keinginan melihat otomotif itu sendiri, keinginan melihat pemandangan indah nan seksi juga menjadi motivasi mereka membeli tiket ke pameran otomotif tersebut. Tiket yang dijual pun tidak murah. Seperti pada GIASS 2019 kemarin, tiket yang dijual adalah seharga Rp 50.000 untuk hari kerja dan Rp 100.000 untuk akhir minggu (Sabtu dan Minggu). Harga tiket yang menyerupai harga tiket menonton bioskop bahkan jauh lebih mahal ketika di akhir minggu. Namun tiket selalu habis terjual dan tentu secara langsung memberi keuntungan bagi pengelola acara GIASS. Sisi lain juga membeir keuntungan bagi perusahaan otomotif yang mampu menjual produknya.

Tidak seharusnya perusahaan atau pengelola acara (biasa disebut Event Organizer) “menjual” tubuh wanita (SPG) untuk menarik keuntungan. Terbukti pada otomotif papan atas, mereka tidak memerlukan SPG berpakaian minim bahkan cenderung menunggu pengunjung yang datang untuk kemudian memberi penjelasan produk. Bukan memberikan tarian erotis di tengah acara hingga pada kegiatan menari sambil mandi sampai memperlihatkan lekuk tubuh. Karl Marx memperkenalkan konsep komersialisasi ketika mengenalkan tentang komodifikasi dalam Ekonomi Politik. Komersialisasi adalah sebuah proses dimana struktur dan isi sebuah media diatur dan disesuaikan dengan keinginan konsumen atau khalayak, sehingga konten dari media tersebut hanya berdasarkan profit oriented saja, yang mengakibatkan isi media menjadi seragam, stereotipikal, dangkal dan tidak otentik. Pada konteks SPG, maka komersialisasi SPG di hadapan publik/pengunjung adalah ketika SPG diwajibkan tampil layaknya harapan dari para pengunjung. Berpakaian seksi, cantik, muda, dan terus tersenyum apapun yang diterima dari pengunjung. Bahkan harus mampu tetap “manis” menghadapi prilaku pengunjung yang tidak semua baik dan terhormat. Dengan pakaian minim tentu kesan yang didapat pengunjung pun sesuai dengan pakaian yang dilihat yaitu”minim”, dalam artian menjadi negatif dalam memandang SPG.

Untuk pihak pengelola acara, penjualan tiket sebanyak-banyaknya adalah keuntungan besar baginya. Otomotif dan SPG adalah bagian yang tidak terlepaskan dan menjadi penantian dan harapan ketika pengunjung membeli tiket. Untuk pihak perusahaan otomotif, hasil dari penjualan di pameran yang banyak artinya profit yang besar untuk perusahaan. Semua berorientasi profit. Bagi SPG, pendapatan yang didapat adalah profit untuknya tetapi tanpa menyadari bahwa profit yang didapat adalah hasil dari bagaimana perusahaan “mengkomersilkan” tubuhnya untuk memberikan profit bagi perusahaan dan pengelola acara, yang berkali-kali lipat dari yang ia dapat. Semoga anda, yang berniat melihat kembali pameran otomotif di tahun-tahun berikutnya, dapat lebih menghargai para SPG ini.

Penulis:
Dina Sekar Vusparatih, S.IP., M.I.Kom
Kepala Program Pendidikan Indonesia Jakarta Intercultural School,
Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Strategi Jitu Lulus UTBK & SBMPTN 2020

Halaman: 
 
×
×