logo


Legenda Hidup! Jika Dua Orang dari Desa Ini Bersatu Akan Terjadi Malapetaka

Mitos dibalik Desa Golan dan Mirah yang terletak di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, hingga kini masih menyimpan misteri.

30 Januari 2020 15:00 WIB

Ilustrasi Pertarungan Warok Reog Ponorogo
Ilustrasi Pertarungan Warok Reog Ponorogo istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kisah cinta Romeo dan Juliet karya seorang penyair William Shakespeare jelas begitu melegenda. Uniknya, kisah serupa juga pernah terjadi di sebuah kawasan pedesaan di wilayah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, tepatnya di Desa Golan dan Desa Mirah. Bagaimana legendanya?

Dahulu, konon ada sepasang kekasih yang saling mencintai dan ingin segera menikah yaitu Joko Lancur dan Kencono Wungu. Keduanya berasal dari desa yang saling berbatasan. Joko Lancur adalah anak dari Ki Ageng Honggolono penguasa Desa Golan, sedangkan Kencono Wungu merupakan putri dari Ki Ageng Mirah, penguasa Desa Mirah.

Kedua figur baik Ki Ageng Honggolono dan Ki Ageng Mirah merupakan dua sosok sakti namun dengan perilaku yang bertolak belakang. Ki Ageng Mirah tidak setuju jika putri kesayangannya menjadi menantu Ki Honggolono yang dinilai berperilaku buruk. Namun, ia juga tidak bisa serta merta menolak karena alasan diplomasi tentunya.


5 Negara Terkecil di Dunia, Ada yang Seukuran Kelurahan di Jakarta

Alhasil, ia mengajukan persyaratan yang sangat sulit untuk dipenuhi agar pernikahan kedua pasangan tersebut urung terjadi. Salah satunya, Ki Ageng Mirah menginginkan seserahan berupa lumbung padi yang bisa berjalan sendiri menuju tempat pernikahan.

Dengan kesaktiannya, Ki Honggolono berhasil memenuhi persyaratan tersebut. Namun, Ki Ageng Mirah menyuruh seorang anak buahnya untuk menggagalkannya. Ternyata, siasat tersebut diketahui oleh salah satu anak buah Ki Honggolono, Bajul Kowor. Kedua bawahan tersebut kemudian terlibat duel yang akhirnya dimenangkan oleh anak buah Ki Honggolono.

Tak terima dengan kecurangan tersebut, akhirnya terjadi pertarungan yang sengit antara Ki Ageng Mirah dengan Ki Ageng Honggolono.

Tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya, Joko Lancur dan Kencono Wungu memutuskan untuk bunuh diri. Melihat putranya mati, Ki Ageng Honggolono mengeluarkan sumpah yang isinya:

1. Warga Desa Golan dan Mirah tidak akan bisa bersatu dalam pelaminan.
2. Segala jenis benda yang terdapat di Desa Mirah tidak bisa dipindahkan ke Desa Golan, dan sebaliknya.
3. Segala jenis benda dari kedua desa tidak bisa disatukan.
4. Warga Desa Golan tak diijinkan membuat atap rumah dari bahan jerami.
5. Warga Desa Mirah tak akan bisa menanam kedelai.

Percaya atau tidak, kelima pantangan tersebut benar-benar terjadi hingga kini. Bahkan, pernah ada warga yang menceritakan jika pernikahan antara warga Desa Golan dan Desa Mirah akan berakhir dengan malapetaka. Beberapa warga juga mengisahkan pernah suatu kali ada mobil yang mengangkut hasil panen dari kedua desa tersebut. Namun, sopir mobil seakan tidak menemukan jalan keluar dari salah satu desa itu. Bahkan, aliran air dari kedua desa tersebut terlihat tidak bisa bercampur saat bertemu di muara sungai.

 

Di Desa Ini, Jangan Harap Bisa Tidur di Atas Kasur

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia