logo


Daging Kelelawar dan Ular Biang Kerok Penyebaran Virus Corona, Begini Kata LIPI

"Kandungan dominan mungkin protein. Bahayanya, karena hewan tersebut liar, potensi membawa penyakitnya juga tinggi. Kita tidak tahu mereka dari mana, mangsanya apa saja," kata Peneliti LIPI.

25 Januari 2020 13:02 WIB

Ular Sanca
Ular Sanca Sains Kompas

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Daging Kelelawar dan ular diduga menjadi pemicu menyebarnya virus corona di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Menurut Peneliti Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiyono Saputra, daging ular dan kelelawar mengandung banyak senyawa protein. Kendati demikian, potensi tertular penyakit usai mengkonsumsi dua hewan ini cukup tinggi mengingat keduanya merupakan hewan liar yang bisa saja membawa sejumlah penyakit pada tubuhnya.

"Kandungan dominan mungkin protein. Bahayanya, karena hewan tersebut liar, potensi membawa penyakitnya juga tinggi. Kita tidak tahu mereka dari mana, mangsanya apa saja," kata Sugiyono dikutip dari CNNIndonesia.com, Sabtu (25/1).

Tubuh ular sendiri juga berpotensi tinggi mengandung sejumlah bakteri, salah satunya Salmonella. Bakteri Salmonella dapat menyebabkan masalah pencernaan yang serius.


Dampak Coronavirus, Pemerintah China Batalkan Perayaan Imlek

Sugiyono mengatakan efek memakan daging ular dan kelelawar sama seperti memakan daging lain, kecuali daging tersebut sudah terpapar virus atau penyakit tertentu.

"Mungkin seperti makanan lain. Di beberapa daerah seperti di Minahasa, efek khasiat mungkin juga karena sugesti. Efek signifikan lain, kalau daging tersebut ternyata membawa toksin atau penyakit seperti virus rabies atau corona, yang tentunya berbahaya bagi kesehatan," tuturnya.

Waspada, Coronavirus Sudah Menyebar ke Perancis

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia