logo


Pengamat Sebut Demokratisasi Sudah Matang, Partai Golkar Sebagai Contoh

Dinamika internal Partai Politik, sangat erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah

19 Januari 2020 11:30 WIB

Ilustrasi Partai Golkar.
Ilustrasi Partai Golkar. Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemerhati politik, Muhammad Irsyad Rumagia menilai, hingga saat ini, proses demokratisasi Indonesia sudah mulai menunjukkan kematangannya. Mulai dari proses pemilihan umum, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, hingga dalam lingkup kecil seperti proses pemilihan Ketua Umum sebuah organiasi maupun Partai Politik.

Pernyataan Irsyad tersebut mengacu pada proses konsolidasi di internal Partai Golkar menjelang dan pasca Musyawarah Nasional yang digelar Desember 2019 lalu.

“Ambil contoh saja, di internal Partai Politik kematangan demokrasi itu sudah sangat tampak. Awalnya bergejolak, dinamikanya hebat, tetapi proses konsolidasinya selalu berakhir dalam suasana kekeluargaan serta mampu menonjolkan kedewasaan,” tutur Irsyad di Jakarta, Minggu (19/1
1/2020).


Minta Amien Rais Tak Ikut Campur, PAN: Bikin Ruwet

Menurutnya menjelang Munas ke X, gejolak dinamika di internal partai berlambang pohon beringin begitu kencang. Namun, pada akhirnya selesai dengan proses musyawarah mufakat, dimana Airlangga Hartarto kembali dipercaya sebagai Ketua Umum.

“Bayangkan, bagaimana kedewasaan demokrasi itu ditunjukkan oleh elit-elit Partai Golkar. Sebelum Munas dibuka, mereka mengadakan pertemuan, dan terjadilah kesepakatan untuk mengangkat kembali pak Airlangga,” tuturnya.

“Kekisruhan yang dikhawatirkan akan terjadi saat Munas Golkar, terpatahkan dengan sendirinya. Semua kembali cair dan saling berangkulan. Ini adalah bukti kedewasaan demokrasi kita,” tambahnya.

Tak cukup sampai disitu, kata dia. Pasca Munas Golkar, sebagai orang yang diamanatkan forum Munas untuk kembali memimpin Partai Golkar, Airlangga dan para elit partai terus melakukan konsolidasi, hingga terbentuknya kepengurusan baru.

Dalam hal ini, Irsyad mengapresiasi sikap politik Airlangga. Menurutnya, Menko Perekonomian itu sama sekali tidak mengutamakan ego dalam menyusun struktur partai. Bahkan, ia mampu menyatukan segala perbedaan pandangan politik di internal Golkar.

Sandiaga Dapat Kode 2024 dari Jokowi dan BG, Pengamat: Belum Tentu Baik

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Aurora Denata