logo


Micro-Influencer, Strategi Pemasaran yang Efektif

Konsep micro-influencer tersebut sebenarnya sama dengan konsep pemasaran dengan influencer

17 Januari 2020 19:00 WIB

Salah satu contoh micro-influencer
Salah satu contoh micro-influencer
dibaca 277 x

Sejauh ini, telah lahir banyak sekali brand atau perusahaan yang baru merintis. Sebagai perusahaan start-up, alokasi dana yang tebatas dan masih terfokus pada dalam banyak strategi menjadi salah satu kendala. Selain itu, influencer marketing belum menjadi prioritas karena membutuhkan dana yang tidak dapat dikatakan kecil. Akan tetapi, kini banyak pemilik bisnis baru mulai melirik untuk berkolaborasi dengan micro-influencer dalam strategi marketing untuk mengenalkan produk, meningkatkan awareness dan menarik konsumen mereka karena diniliai terjangkau dan efektif dalam menyasar konsumen potensial.

Konsep micro-influencer tersebut sebenarnya sama dengan konsep pemasaran dengan influencer. Umumnya, influencer merupakan seseorang yang terkenal dan terpercaya serta memiliki banyak pengikut dalam media sosial untuk mempromosikan dan mengenalkan produk melalui content di media sosial mereka seperti selebritis, public figure, ataupun seorang pakar. Dalam pemasaran micro-influencer, brand atau produk bermitra dengan individu yang memiliki pengikut yang terbilang tidak banyak di media sosial (sekitar di bawah 100 ribu pengikut), berbeda dengan kategori macro-influencer (sekitar 100 ribu-1 juta pengikut) dan selebritis (lebih dari 1 juta follower).

Micro-influencer adalah individu biasa dengan pengikut yang wajar dan seseorang yang memiliki passion, ketertarikan dan minat tertentu. Dapat berupa apa saja, mulai dari kecantikan, otomotif, bisnis, kesehatan, teknologi, travelling, makanan dan lainnya. Mereka dapat dikategorikan sebagai individu pengguna sosial yang menjalin hubungan erat, setia dan dapat dipercaya dengan para pengikutnya.


Mau Pekerjaan Yang Tidak Terikat Waktu? atau Hanya Untuk Menambah Penghasilan? Berikut 5 Jenis Freelance Yang Boleh Dicoba!

Kemudian, mengapa micro-influencer dapat mencapai hasil yang efektif dalam strategi pemasaran?

Mudah

Seorang micro-influencer biasanya mengelola akun media sosial mereka secara pribadi tanpa melibatkan orang lain ataupun manajer, sehingga akan memudahkan pemilik bisnis dalam berkomunikasi dan bekerja sama dengan mereka. Berbeda dengan akun media sosial macro-influencer atau selibritis yang biasanya harus menghubungi manajer mereka terlebih dahulu untuk dapat berkerja sama.

Terjangkau

Saat menggunakan influencer yang terkenal seperti selebritis atau artis, terkadang dikenakan biaya yang tinggi hanya untuk satu posting media sosial. Sebaliknya, micro-influencer mengenakan biaya yang lebih rendah untuk hanya sekedar posting promosi. Walaupun pemilik bisnis biasanya akan bekerja sama dengan lebih dari satu micro-influencer untuk memaksimalkan jangkauan, tetapi biaya untuk membayar 100 micro-influencer akan lebih rendah dibandingkan harus membayar satu selebritis terkenal. Bahkan untuk micro-influencer dengan pengikut yang lebih kecil, dapat dikompensasi dalam bentuk pemberian produk gratis sebagai balas jasa promosi.

Tingkat Enggagement atau Keterlibatan yang Tinggi

Dengan micro-influencer, tingkat engagement atau keterlibatan pengikut mereka akan lebih tinggi karena hubungan yang mereka bangun dengan pengikut benar-benar murni dan asli atau tidak dibuat-buat. Selain itu, akan lebih banyak percakapan yang timbul melalui like, komentar atau pesan terutama karena mereka bersemangat dan berpengetahuan luas tentang bidang minat khusus mereka. Micro-influencer juga akan lebih responsf dalam menjawab ketika ada pengikutnya yang ingin menggali informasi mengenai produk yang di"endorse"nya.

Menarik Potensial Konsumen yang Spesifik

Ketika seorang pemilik bisnis fashion akan bermitra dengan seorang selebritis dengan jutaan pengikut di Instagram, selebritis tersebut memiliki pengikut yang banyak namun belum tentu semuanya tertarik dengan bidang fashion. Sebaliknya, jika produk fashion terhubung dengan 100 blogger fashion dengan 1.000 pengikut masing-masing, hal tersebut akan dapat lebih terhubung ke pengikut yang lebih kecil tetapi jauh lebih bertarget dan terlibat karena pengikut micro-influencer memiliki basis dan demographic ketertarikan, keahlian dan minat yang sama dengan sang micro-influencer yang diikutinya.

Kreatif dan Inovatif

Seorang micro-influencer biasanya memiliki ide-ide segar dan kreatif yang dapat mempengaruhi para pengikutnya untuk membeli atau mencoba produk yang dipromosikan. Seorang micro-influencer biasanya memiliki ciri khas masing-masing dalam melakukan promosi. Sebagai contoh, micro-influencer biasanya memiliki seni fotografi yang dapat diandalkan sehingga akan memudahkan dalam menciptakan content iklan yang segar dan memberikan branding yang baik bagi suatu bisnis.

Lebih Otentik

Micro-influencer juga seperti kita, membagikan apapun sesuai keinginan sendiri di media sosial. Mereka kemungkinan memposting konten mereka sendiri, membalas komentar, dan berperilaku lebih otentik daripada selebriti dengan manajer di media sosial. Jika micro-influencer terlibat dengan posting promosi di suatu media sosial, pengikut mereka mungkin lebih cenderung untuk mempelajari atau mencari informasi lebih lanjut tentang produk yang mereka posting di media sosial.

Lebih Meningkatkan Kepercayaan

Banyak konsumen yang akan lebih percaya pada rekomendasi dari orang lain daripada hanya melihat atau mendengarkan dari suatu iklan. Micro-influencer juga akan mempromosikan produk yang sudah mereka sukai. Jadi bagi mereka, saat membagikan konten tentang suatu produk, mereka harus sudah memiliki produk atau pergi dan membelinya.

Akhirnya, micro-influencer adalah strategi pemasaran yang sangat efektif dari segi biaya, terutama untuk bisnis baru yang sedang berkembang yang ingin meningkatkan awareness dan mengenalkan produknya kepada pasar tetapi tidak dapat menginvestasikan anggaran yang besar.

Oleh: Wahyu Andika / Mahasiswa D IV Akuntansi PKN STAN

Ditulis oleh: Wahyu Andika

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Flexible Working Arrangement untuk PNS, Strategi Baik atau Buruk?

Halaman: 
Admin : Tino Aditia