logo


Flexible Working Arrangement untuk PNS, Strategi Baik atau Buruk?

Strategi Flexible Working Arrangement untuk pegawai

17 Januari 2020 11:04 WIB

istimewa
dibaca 254 x

Pada Awal bulan Desember 2019 tahun lalu sempat berhembus kabar tentang adanya kebijakan baru tentang empat hari kerja yang akan diterapkan pada tahun 2020. Wacana penambahan hari libur bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari dua hari menjadi tiga hari, digagas oleh Komisioner Aparatur Sipil Negara (KASN) Waluyo Martowiyoto telah bergulir selama beberapa waktu dan menimbulkan banyak respon baik itu dari sejumlah Menteri Kabinet Indonesia maju hingga masyarakat.

Meskipun pada akhirnya, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo menyatakan tidak sependapat dengan penerapan kebijakan tersebut. Hal itu dinilainya bertentangan dengan semangat dalam melayani masyarakat sehingga cara yang terbaik adalah kebijakan lima hari kerja yang efektif dan efisien sehingga mengoptimalkan pendayagunaan aparatur negara di semua sektor.

Meskipun banyak suara yang menyatakan keberatan dan penolakan, tetapi sejatinya kebijakan empat hari kerja bukanlah sesuatu yang sangat kontroversial. Konsep sebenarnya dari kebijakan tersebut adalah penerapan flexible working arrangement (FWA). Jam kerja per minggunya tetap sama tetapi hari kerjanya dikurangi. Jadi semisal jam kerja per minggu instansi adalah 80 jam, dengan kebijakan empat hari kerja, jumlah jam tersebut tetap harus terpenuhi meskipun jumlah hari kerjanya dikurangi. Ada kesalahan persepsi tentang penerapan kebijakan empat hari kerja tersebut. Masyarakat menilai kebijakan itu hanya menambah hari libur bagi PNS padahal kenyataannya justru bisa dibilang menambah beban kerja pada hari kerja karena tuntutan memenuhi jam kerja per minggunya.


Strategi Bisnis Multi Level Marketing (MLM): Lebih Hemat Biaya?

Berkaca dari kejadian di Microsoft Jepang yang melakukan eksperimen terhadap para karyawannya, yaitu empat hari kerja justru mendapatkan hasil yang memuaskan untuk produktivitas karyawan. Dikutip dari CNBC Senin (04/11/2019) perusahaan teknologi tersebut mencatat kenaikan hampir sebesar 40% pada tingkat produktivitas setelah dilakukan pemotongan hari kerja. Tingkat produktivitas ini diukur berdasarkan penjualan per karyawan, yaitu peningkatan sebesar 39,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, Agustus 2018. Selain itu, dari segi biaya juga terjadi pemangkasan berupa penuruan biaya listrik sebesar 23% serta berkurangnya penggunaan kertas sebesar 58% selama masa uji coba tersebut. Dari contoh ini sebetulnya bisa disimpulkan bahwa penerapan FWA sebenarnya adalah suatu hal yang bisa bersifat positif, namun bisakah hal tersebut diterapkan di Indonesia? Terlebih, diterapkan pada instansi pemerintahan, bukan komersil.

Dalam menerapkan sebuah kebijakan di negara asing, tentunya perlu dilihat semua aspek yang membuat kebijakan tersebut bisa diaplikasikan di negara tersebut. Salah satu dari aspek tersebut adalah kultur yang dianut oleh masyarakat di sebuah negara. Jepang terkenal dengan kedisplinannya, sementara di Indonesia mungkin belum sampai pada tahap itu. Tentunya fakta tersebut menjadi salah satu penentu keberhasilan dari kebijakan yang ingin diterapkan.

Terkait dengan kebijakan Microsoft Jepang, proyek itu merupakan salah satu bagian dari pengembangan program yang mengampanyekan perbaikan kehidupan sehari-hari dan kehidupan bekerja (Work-Life Balance). Kampanye ini dirasa perlu oleh pemerintahan Jepang karena sifat dari masyarakatnya yang berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan bahkan mencapai tahap melewati dari yang dianjurkan. Jepang memiliki istilah sendiri untuk budaya ekstrem yaitu ”karoshi” yang diterjemahkan sebagai “kematian karena kerja keras”. Bahkan, perusahaan-perusahaan di Jepang diakui  memiliki jam kerja terpanjang di dunia.

Jumlah kerja yang sangat tinggi inilah yang menjadi pemicu timbulnya program Work-Life Balance. Para pekerja di Jepang justru harus dipaksa untuk beristirahat lebih di rumah karena sifat rata-rata mereka yang workaholic. Di Jepang, kebijakan semacam ini bisa berhasil karena budaya malu yang kental di lapisan masyarakatnya. Karyawan malu apabila target pekerjaan tidak tercapai sehingga bahkan dengan penerapan empat hari kerja pun, mereka justru semakin giat dalam bekerja di hari kerjanya, dan tetap menjalankan kekurangan pekerjaannya di rumah. Bisakah hal yang sama dilakukan oleh para PNS di Indonesia?

Berbicara sebagai seorang yang merasakan dunia kerja PNS, saya menyadari bahwa apabila kebijakan empat hari kerja dijalankan, banyak kendala yang akan terjadi. Parameter kinerja di lingkungan instansi digambarkan melalui pencapaian tahunan, dan seringkali pencapaian itu tidak terpenuhi. Dalam kondisi normal seperti itu pun banyak dari pencapaian yang tidak terpenuhi, sementara penerapan empat hari kerja memerlukan dedikasi yang sangat tinggi agar jumlah kerja per minggu tetap bisa tercapai meskipun hari kerjanya berkurang.

Di Jepang hal ini sangat mungkin terjadi karena kulturnya yang sangat disiplin. Sementara di Indonesia, sayangnya kulturnya belum mencapai tahap kesadaran diri seperti itu. Pegawai di Indonesia masih memerlukan pengawasan yang ketat agar mencapai kinerja optimal. Selain karena kendala kultur, sarana dan prasarana juga perlu menjadi bahan pertimbangan. Di era modern seperti sekarang ini, kebutuhan akan jaringan dan koneksi internet sangatlah dibutuhkan.

Pengaturan flexible working arrangement mengarah ke pekerjaan yang bisa diselesaikan tanpa harus menghabiskan waktu lama di kantor. Jaringan Internet yang dimiliki saat ini belum bisa secara optimal menampung kapasitas tersebut.

Bukan tidak mungkin untuk Indonesia, khususnya instansi pemerintahan menerapkan kebijakan flexible working arrangement, tetapi untuk sekarang, seperti kata Tjahjo Kumolo, sebaiknya mengoptimalkan kebijakan yang sudah ada terlebih dahulu. Apabila sudah optimal, barulah bisa dilakukan perubahan.

Rahman Triadi Putra - Pegawai Kementerian Keuangan

Ditulis oleh: Rahman Triadi Putra

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Olahraga Kalistenik, Strategi Milenial Tetap Sehat dan Tetap Eksis di Sosial

Halaman: 
Admin : Trisna Susilowati
 
xxx bf videos xnxx video hd free porn free sex