logo


Strategi Holistik Pertahanan Wilayah Perairan Indonesia

Simak ulasan selengkapnya

16 Januari 2020 17:00 WIB

Blok Natuna
Blok Natuna Ist
dibaca 660 x

Baru-baru ini seperti yang telah kita ketahui bersama telah terjadi konflik di perairan Natuna Utara mengenai kapal Cina yang masuk ke wilayah Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia untuk mencuri ikan-ikan di perairan. Tindakan ini merugikan ekonomi bangsa dan untuk itu Indonesia perlu memberikan respon yang tepat guna menyelesaikan permasalahan ini.

Konflik di Pulau Natuna perlu disikapi sebagai permasalahan tingkat nasional. Dan seperti pada semua masalah nasional lainnya, solusi yang dibentuk harus bersifat holistik, yakni bentuk permasalahan ini perlu diperluas pada skala nasional lalu dibuat upaya penyelesaiannya, dimana selain untuk menetralisir konflik di Natuna tetapi juga dapat diterapkan untuk mencegah terjadinya konflik serupa di pulau-pulau lain di seluruh perairan Indonesia.

Untuk itu diperlukan strategi pertahanan dalam membuat solusi. Perlu ditekankan lagi bahwa ini adalah strategi bertahan bukan strategi offensive. Kita akan membagi strategi pertahanan ini kedalam tiga pendekatan; pertama pendekatan secara realistis dimana kita dapat bertindak segera menggunakan sumber-sumber daya yang ada sekarang, kedua adalah pendekatan jangka panjang dimana beberapa usaha yang cukup besar perlu dilakukan untuk mempertebal ketahanan laut Indonesia yang sangat tidak mungkin dapat direalisasikan dalam kurun waktu satu tahun namun jika langkah ini dilakukan maka kemungkinan peningkatan ketahanan akan sangat besar untuk berhasil, dan ketiga adalah pendekatan pola pikir yang dapat diterapkan pada setiap tindakan dan keputusan terkait perairan Indonesia.


Kilas Balik PS4: Strategi Sony merebut hati Gamer

Pertama-tama secara realistis, untuk meningkatkan kedaulatan perairan Indonesia adalah dengan membangun ikatan mental yang kuat terhadap perairan Indonesia. Untuk itu perlu dilakukan penyuluhan dengan mengingatkan kembali kepada orang pulau bahwa mereka adalah bagian dari negara Indonesia dan negara akan selalu melindungi mereka. Penyuluhan juga perlu diberikan kepada orang di pulau tengah Indonesia agar mereka memiliki compassion yang sama dengan penghuni di pulau perbatasan. Pondasi mental ini sangat penting sekali karena akan menjadi pertahanan terakhir setelah semua kekuatan Indonesia habis terpakai dan juga terutama untuk mencegah konversi kesetiaan penduduk ke negara lain secara sukarela.

Bersamaan dengan memberikan kesadaran pondasi mental yang mencintai pulau Indonesia, disertakan pula semangat yang serupa pada perairan di sekelilingnya. Kecintaan yang lemah pada perairan pulau sudah tentu akan membuat mereka enggan melaut atau mengelilingi menikmati lautnya sehingga perairan tersebut menjadi seperti tidak bertuan. Inilah yang menjadi salah satu penyebab yang membuat kapal asing berani masuk ke perairan Indonesia. Dengan menyibukkan laut Natuna dan disemua perairan Indonesia, diharapkan terbentuk situasi mental pada nelayan asing bahwa tidak ada tempat lagi bagi mereka untuk mencari ikan di Indonesia.

Selanjutnya pendekatan realistis untuk mempertahankan perairan Indonesia adalah dengan diplomatik. Pemerintah perlu senantiasa berkomunikasi dengan negara Singapura, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, dan Thailand untuk bekerja sama mempertahankan wilayah perairan dari klaim sepihak Cina. Ini adalah aksi yang pernah dilakukan oleh Founding Father Indonesia untuk menginspirasi negara terjajah agar retaliate dan melawan demi kemerdekaan. Konsep diplomatik ini tetap sama yakni menginspirasi negara tetangga untuk mencegah Cina menjajah perairan mereka sendiri. Disini Indonesia dapat hadir bagi mereka untuk ikut membantu mempertahankan wilayah perairan mereka. Diplomatik ini dapat berujung pada operasi militer gabungan. Hal ini seharusnya menguntungkan kedua pihak, negara tetangga mendapat bantuan untuk mempertahankan wilayah perairannya, Indonesia mendapat keuntungan sekunder pada perairan karena Cina perlu melewati wilayah perairan negara tetangga sebelum mencapai wilayah perairan Indonesia. Diplomatik ini seharusnya berhasil karena yang menderita akibat klaim sepihak cina tidak hanya Indonesia tapi juga Thailand, Brunei, Malaysia, Vietnam, dan Filipina.

Usaha diplomatik ini juga dapat diselingi dengan bahasan konflik pencurian ikan antara Indonesia dengan negara Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Brunei. Indonesia perlu menginspirasi mereka bahwa memiliki negara yang berdikari tanpa memihak poros manapun adalah kebebasan yang sangat membahagiakan kedua setelah merdeka dari penjajahan. Karena tindakan mereka tidak perlu didikte oleh negara manapun yang mana memberi kesan menghormati hak-hak mereka. Mati dalam berjuangan mempertahankan negaranya jauh lebih terhormat daripada mati dibawah perintah negara koloni. Hal ini seharusnya memberi pandangan bagi Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina bahwa kita akan mati-matian menjaga wilayah dan sumber daya kita untuk mencapai kebahagiaan pertama dan kedua ini, begitu pula mereka seharusnya, sehingga akan lebih baik bila kita semua tetap berada dalam wilayah kemerdekaan masing-masing tanpa mengusik negara lain. Kita semua paham bahwa orang-orang perlu makan dan penghidupan yang layak, tapi tentu saja itu tidak dicapai dengan membuat negara lain kekurangan makanan dan menderita. Oleh karena itu, mereka seharusnya percaya bahwa negara tetangga akan datang membantu mereka dikala mereka kesulitan dan itu akan terjadi secara sukarela sebagai sahabat bukan sebagai pedagang. Itu dimulai dengan tidak mencuri sumber daya dari wilayah negara tetangga, negara apapun baik Filipina-Malaysia, Indonesia-Thailand dan seterusnya.

Demikianlah pendekatan realistis jangka pendek yang cepat diterapkan untuk mempertahankan wilayah kedaulatan Indonesia. Membentuk pondasi mental yang kuat di pulau perbatasan dan diplomatik adalah usaha yang dilakukan untuk pemimpin yang baik. Tidak ada yang dapat kita lakukan secara realitis selain itu. Negara kita memiliki pola kembang yang salah soal teknologi sehingga kita tidak bisa mengandalkan teknologi sebagai solusi realistis. Kita tidak memiliki armada laut yang super kuat sehingga kita tidak bisa mengerahkan kekuatan militer Indonesia untuk menghadapi kemukinan terburuk.

Strategi kedua adalah pendekatan jangka panjang. Disebut demikian karena memerlukan usaha yang cukup besar untuk memperkuat kedaulatan perairan wilayah Indonesia yang tidak dapat dilakukan dalam tempo singkat. Pendekatan ini bertujuan membuat solusi setepat mungkin sesempurna mungkin karena jika tidak demikian kita tidak akan memiliki sumber daya yang tersisa untuk melakukan pembangunan yang lain dan waktu yang telah dipakai akan terbuang percuma. Untuk itu pendekatan ini harus dilakukan sekali jalan, sangat matang, dan menyeluruh tanpa pengulangan dan kesalahan.

Baik mari kita mulai, pertama adalah melakukan penataulangan menyeluruh mengenai desain pulau-pulau perbatasan. Pulau perbatasan harus difungsikan sebagai basis atau markas militer sempurna. Minimal perlu dibangun dua polar port, yakni pelabuhan yang menghadap perairan luar Indonesia dan pelabuhan yang menghadap perairan dalam Indonesia. Kedua pelabuhan polar ini dihubungkan oleh jalur darat yang lebih cepat. Ini perlu diterapkan di seluruh pulau dengan kategori terluar dan tak berpenghuni mengitari wilayah kedaulatan perairan Indonesia. Karena harus dibangun di semua pulau inilah yang menjadikan strategi ini masuk dalam pendekatan jangka panjang. Indonesia akan menghabis banyak waktu untuk ini. Natuna hanya salah satu konflik yang terjadi karena kita lengah. Nantinya di waktu akan datang, bila konflik semacam ini di sisi lain perairan terjadi, kita sudah siap menghadapinya.

Bersamaan dengan langkah militerisasi pulau-pulau, diperlukan pasukan perang untuk mengisinya. Oleh karena itu, perekrutan besar diperlukan untuk dengan cepat mengisi pulau ini tanpa perlu mengurangi kekuatan militer di tengah wilayah. Perlu diterapkan pola pikir baru mengenai pasukan ini. Karena situasinya berada di pulau terpencil (luar dan tak berpenghuni), kesehatan psikologi pasukan akan melemah (mereka tidak betah dan ingin pulang ke wilayah tengah). Oleh karena itu, perlu dilakukan rotasi terprogram bagi pasukan agar kesehatan psikologi mereka tetap bagus dengan menugaskan pasukan berpindah setiap 6 bulan antar pulau terpencil atau dari pulau terpencil ke pulau tengah.

Teknik rotasi dan sortir pasukan juga dapat digunakan sebagai filter alami. Mensortir dan merotasi pasukan akan memunculkan bibit hebat dalam populasi pasukan. Perlu diperhatikan bahwa ini adalah memunculkan bukan menciptakan, dengan kata lain diantara pasukan ini mungkin saja sudah terdapat pasukan bertalenta yang hebat. Mengapa begitu, karena pada dasarnya teknik rotasi dan sortir ini analogi dengan kehidupan sehari-hari kita dalam mengolah hasil alam. Katakanlah kita mengolah hasil tani berupa kopi. Tentu sebagai produsen yang baik, kita akan mengolah kopi lalu mensortirnya dengan memilih kopi yang berkualitas. Semua kopi sudah tentu melewati proses persiapan yang sama, yakni mereka dipanen, dijemur, dibersihkan, digoreng. Namun setelah itu perlu disortir mana-mana kopi yang bagus dan tidak. Kopi yang bagus ini sudah ada diantara batch-batch itu, yang perlu kita lakukan adalah memisahkannya dari yang lain. Persis sama dengan analogi tersebut, pasukan bertalenta mungkin sudah ada diantara para angkatan, yang perlu dilakukan instansi adalah mensortirnya. Disini tidak ada sama sekali proses menciptakan kopi yang enak, atau dalam konteks ini tidak ada proses penciptaan pasukan super.

Langkah selanjutnya adalah membangun fasilitas penelitian di beberapa pulau terluar. Fasilitas penelitian yang dibangun adalah pembudidayaan terumbu karang, pembudidayaan benih-benih biota lautan asli Indonesia, laboratorium pengamatan kualitas air dan ekosistem laut Indonesia. Selain itu perlu dibangun stasiun pengamatan aktivitas kulit bumi bawah laut. Alasan utama perlunya didirikan fasilitas penelitian adalah untuk menjaga sumber daya laut agar selalu tetap menghasilkan ikan bagi Indonesia dengan kata lain membuatnya sustainable. Seperti yang telah dijelaskan pada strategi jangka pendek, laut perlu diberi kesan sibuk. Oleh karen itu, ini adalah upaya lanjutan untuk menjadinya semakin kuat dan lebih bermanfaat besar, tidak hanya menjdikannya sibuk semata.

Bila kita perhatikan, ikan yang terus menerus diambil tanpa memberi kesempatan bagi ikan untuk berkembang biak pasti akan membuat jumlah ikan habis. Bila kita tidak dapat mendapatkan ikan, pertama-tama roda ekonomi akan bergeser, membuat beberapa pasar bahan makanan inti kelebihan permintaan seperti beras dan jagung. Dua kemungkinan dapat terjadi, pertama harga akan naik kemudian kemampuan daya beli menurun lalu terjadi predator uang untuk bertahan hidup (bisa dari pencurian, penipuan, dan korupsi). Yang kedua, mungkin kita akan menjatah makanan, semisal makan 3 kali sehari menjadi 1 kali sehari. Kondisi ini membuat orang Indonesia mengalami malnutrisi. Kedua kondisi tersebut berujung pada terjadi kematian akibat kelaparan pada tempo lambat namun karena pasokan ikan benar-benar tidak ada (kita asumsikan demikian) maka kejadian ini pasti terjadi.

Ini berakhir bila situasi berada dalam keadaan stabil sesuai daya produksi bahan makanan, denga kata lain populasi akan menurun hingga pada jumlah dimana jumlah bahan makanan mampu mendukung populasi mempertahankan nutrisi hariannya. Kita dapat mempertimbangkan kemungkinan ini sebagai opsi apakah memang demikian yang diinginkan atau kita tidak ingin hal ini terjadi, apakah kita perlu menurunkan populasi atau perlu menaikkannya. Tentu saja pertimbangan ini tidak diboleh dipaksakan ke orang lain, cukup kita hayati dalam hati. Namun bila kita menginginkan populasi yang dapat di pertahankan dalam keadaan alami, maka pasokan ikan perlu dijaga. Kita dapat berpikir bahwa cukup menggunakan aturan hukum saja untuk menganjurkan nelayan membuat jeda waktu penangkapan ikan sehingga ikan-ikan diberi waktu untuk berkembang biak. Namun hal ini tidak akan berhasil bila populasi Indonesia semakin besar dan terutama kita mengetahui bersama bahwa usia hidup manusia cukup lama, yang mengindikasikan perlunya pasokan masakan yang stabil selama masa hidupnya. Dikalikan dengan populasi Indonesia dan tingkat kelahiran yang saat ini belum dikendalikan, maka strategi pemakaian peraturan untuk menjadwal pengkapan ikan tidak akan berhasil memenuhi kebutuhan populasi Indonesia yang besar dan meningkat. Oleh karena itu perlu fasilitas pembudidayaan untuk merekayasa lingkungan ikan agar menghasilkan benih yang lebih banyak dari sebelumnya dan yang terpenting adalah kemampuan fasilitas untuk mengontrol laju penambahan jumlah ikan. Pembudidayaan dilakukan didalam fasilitas bukan di air lepas, barulah setelah ikan mencapai usia agak besar lalu dilepas ke laut agar membesar secara alami.

Tentunya pembudidayaan tidak hanya diterapkan pada ikan saja. Agar dapat tumbuh di perairan Indonesia secara alami, maka perlu juga dipersiapkan ekosistem yang membuat ikan tersebut betah tinggal di perairan Indonesia. Oleh karena itu perlu juga dibentuk fasilitas penelitian membudidayakan terumbu karang. Agenda utama fasilitas ini adalah mengembangkan terumbu karang yang mampu menarik ikan untuk hidup disekitarnya sekaligus mempercepat pematangan terumbu karang. Pengembangan ini perlu dilakukan di dalam laboratorium dengan teknik-teknik yang revolusioner. Sama halnya pada pembudidayaan ikan, setelah terumbu karang siap, maka mereka dapat ditempatkan secara strategis di perairan Indonesia. Terumbu karang juga menjadi pertahanan laut pasif dengan cara menyulitkan kapal selam untuk masuk ke laut dalam. Oleh karena itu fasilitas pembudidayaan terumbu karang ini harus dapat menciptakan terumbu karang yang besar dan kuat.

Sebelumnya telah dibahas beberapa cara untuk meningkatkan pertahanan perairan Indonesia. Taktik yang dapat diciptakan tentu saja tidak hanya itu, bahkan dapat lebih banyak lagi. Namun, apapun strategi yang akan direkayasa, kita perlu berpegang teguh pada pola pikir tertentu agar strategi yang diciptakan menjadi relevan untuk kebutuhan Indonesia. Kita seharusnya sepakat bahwa strategi yang jenius namun ternyata tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia akan membawa keburukan untuk kepentingan Indonesia. Oleh karena itu, pola pikir yang tepat dapat membantu menuntun Indonesia membuat strategi yang tepat dan jitu.

Pola pikir pertama yang harus kita hayati bersama adalah mengenai bagaimana kita menganggap laut. Kita memiliki dua cara pandang mengenai laut, yakni apakah laut sebagai penghubung antar pulau, atau laut sebagai pemisah antar pulau. Pilihan mengenai pola pikir ini bisa menjadi sangat subjektif, namun mari kita sepakat pada pemikiran yang dimiliki oleh Wakil Presiden pertama Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa laut sejatinya adalah penghubung antar pulau.

Dengan memandangnya seperti ini, maka kita otomatis dapat menganalogikan laut seperti jalan, bukan pagar seperti pemisah sesuatu. Dan seperti jalan, terdapat bermacam ornamen di atas struktur ini seperti pengontrol arus, pembeda jalur, jenis materi penyusun jalan, adanya ekstensi pada jalan, dan lain sebagainya. Selayaknya jalan pula, volume dan kecepatan orang berpindah menjadi lebih banyak dan sering bila melewati jalan. Ini mengisyaratkan bahwa semestinya penduduk Indonesia perlu menengok pulau di luar pulau kelahirannya. Silahkan membuat motivasinya masing-masing, apakah untuk mencari kerja, berlibur, bertempat tinggal, dan sebagainya. Intinya adalah itu semua menjadi mungkin karena kita memandang laut bukanlah pemisah melainkan penghubung tempat. Dan selayaknya jalan pula, kita tentu melihat pemandangan yang indah dalam perjalanan. Demikian pula seharusnya pada laut bila kita berpikir bahwa laut adalah penghubung antar pulau. Bila kita melihat horizon, pandangan tentu menjemukan, kecuali terdapat paus yang muncul kepermukaan yang umumnya menjadi atraksi alami yang menarik. Namun perlu diketahui bahwa di dasar laut terdapat keindahan yang beraneka ragam dengan warna dan corak yang indah. Bila kita berpandangan bahwa laut adalah penghubung antar pulau, maka sudah selayaknya kita menciptakan kapal penumpang yang melewati bawah permukaan. Ini secara langsung juga mengisyarakatkan bahwa kita harus merawat terumbu karang dan semua kehidupan bawah laut. Bayangkan bila seluruh dasar perairan Indonesia memiliki biota laut yang indah memukau. Kita tidak akan jemu melintasi perairan ini berulang kali dalam rangka melintasi pulau. Hanya dengan pemikiran seperti inilah (menganggap laut adalah penghubung) kita dapat memprioritaskan kapal selam sebagai kapal penumpang dan proyek reboisasi laut nasional dapat dimulai. Dan lagi, bukankah di jalan kita terkadang menemui polisi yang berjaga. Jika kita berpikir bahwa laut adalah penghubung antar pulau, penjaga perairan ini sudah senantiasa mudah ditemui di perairan manapun kita melintas. Dengan miliki pola pikir seperti ini saja, ketahanan perairan Indonesia akan sengat kuat dan solid. Strategi ketahanan laut yang telah dibahas sebelumnya semua tercipta menggunakan pola pikir ini, yakni bahwa laut adalah penghubung pulau.

Pola pikir kedua adalah memaknai bentuk geografis Indonesia sebagai dasar hidup sehari-hari. Dasar hidup orang Indonesia berasal dari agama pada umumnya. Namun dasar hidup yang bersumber dari kondisi geografis seharusnya menjadi rujukan yang membalut seluruh dasar hidup apapun yang dianut orang Indonesia. Mengapa demikian? Karena faktanya, aktivitas dan kondisi biologis manusia sangat dipengaruhi oleh alam sekitar. Sebagai contoh orang yang tinggal di sekitar kawah belerang akan memiliki rahang yang keropos daripada yang tidak. Kondisi geografis yang patut dipikirkan adalah kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan.

Mari kita bahas satu-persatu. Tidak ada satupun negara di dunia ini yang memiliki bentuk negara yang memiliki kondisi geografis seperti Indonesia yakni kepulauan. Negera lain yang mirip berupa kepulauan adalah oceania dan negara-negara di laut pasifik. Namun kondisi pembedanya sangat banyak, sebagai contoh ukuran pulau Indonesia bervariasi sedangkan mereka umumnya satu ukuran. Kemudian, Indonesia diapit oleh dua lempeng besar yang menentukan permusiman sedang negara-negara pan pasifik dikelilingi oleh lautan. Secara politik pun berbeda dimana Indonesia adalah negara yang merdeka penuh sedangkan negara oceania ini merupakan persemakmuran atau berada dibawah kekuasaan negara lain.

Oleh karena itu, bila jalan berfikir dan berperilaku orang Indonesia adalah satu-satunya yang unik di dunia, maka ini merupakan hal yang normal. Orang yang hidup di lingkungan kontinental, plateau, dan gurun tentu juga memiliki cara hidup unik mereka, namun disini alam kontinental dapat ditemukan di banyak tempat dan banyak negara, begitu pula dengan bentang alam plateau dan gurun. Namun sekali lagi yang berkondisi kepulauan masif dimana daratannya dikelilingi oleh perairan yang cukup luas dengan ukuran pulau yang bervariasi ini hanya ada di Indonesia.

Keunikan geografis ini menimbulkan kenyataan yang jelas bahwa keadaan ekosistem dan biota Indonesia menjadi turut unik, tak akan ditemukan di tempat lain di dunia. Sebagai contoh bunga reflesia adalah salah satu tanaman natif yang tumbuh di Indonesia. Contoh lain adalah biji kluwek yang juga hanya ada di Indonesia. Kekhasan biota ini terjadi karena organisme ini mengalami spesialisasi dalam proses evolusi menyesuaikan alam sekitarnya, yakni tanah Indonesia. Keadaan ini terjadi dalam waktu yang sangat lama sehingga genetik biota ini telah bermutasi sedemikian rupa untuk dapat hidup di alam Indonesia secara ekslusif. Tentu sekarang kita dapat menemukan flora dan fauna natif Indonesia di negara lain melalui tukar benih dan teknologi biologi yang canggih. Namun yang ingin ditekankan disini adalah bahwa keadaan geografis alam sekitar secara normal akan mempengaruhi pola kembang dan perubahan biologi suatu organisme, hingga mencapai suatu titik dimana mereka dapat tumbuh secara berkesinambungan.

Itulah yang seharusnya kita hayati sebagai orang Indonesia. Kita adalah makhluk yang berakal sehingga dengan kemampuan ini, seburuk apapun tempat dan lingkungan hidup ini, manusia akan selalu mencari cara untuk menyelesaikan permasalahannya. Penyelesaian ini dapat berarah negatif artinya solusi dibentuk berlawanan dengan kondisi lingkungannya (sebagai contoh, jika suatu daerah terdapat banjir musiman, bukan banjir karena kesalahan infrastruktur dsb, maka solusinya adalah bagaimana membuat agar banjir tidak terjadi), namun akan sangat baik dan natural apabila solusi yang dibentuk sejalan dengan keadaan geografis Indonesia atau berarah positif (sebagai contoh, pada kasus daerah yang banjir alami sebelumnya, maka solusi diciptakan untuk memanfaatkan gelombang banjir, seperti mengarahkan luapan air ke kanal-kanal untuk menciptakan pembangkit listrik, alih-alih meniadakan banjir sama sekali).

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, organisme yang tumbuh di Indonesia dengan kekhasannya yang ditempa selama berabad-abad menghadirkan organisme yang efisien menghadapi alam sekitarnya. Kita seharusnya mengambil pelajaran dari sini, bahwa dalam berfikir mengenai apapun, kita harus menyisipkan bayangan mental tentang keadaan geografis Indonesia, kemudian bentuklah solusi yang sejalan dengan itu, bukan dengan melawan kondisi alam Indonesia. Tentu dengan teknologi yang canggih, keburukan yang diberikan oleh alam dapat kita hilangkan, namun jika kita renungkan kembali secara menyeluruh, solusi dengan cara seperti mungkin akan menimbul masalah baru di tempat lain di luar negara Indonesia yang secara lambat laun akan datang kembali ke Indonesia. Dengan berfikir seperti ini, maka sudah jelas bahwa kita memiliki kesalahan besar dalam berfikir dan mengembangkan teknologi. Sebagai contoh, karena kita tidak menganggap bahwa laut adalah penghubung pulau dan kita hidup dalam negara kepulauan, teknologi kelautan Indonesia sama sekali tidak dikembangkan. Justru sebaliknya kita semakin memperkuat teknologi industri otomotif, yang mana ini juga keputusan yang buruk sebab industri otomotif kita hanya impor dari negara asing alih-alih mengembangkan sendiri. Kesalahan lainnya adalah sudah jelas terlihat kita kaya akan tambang inti, tapi kita sama sekali tidak membuat penelitian untuk memanfaatkannya. Jika kita berfikir bahwa penelitian hanya bisa dijalankan secara tepat oleh orang yang jenius, maka ini adalah cara berfikir yang salah. Penelitian yang baik akan menghasilkan teknologi yang baik, dimana ini diciptakan oleh orang yang baik pula. Orang yang baik ini sudah tentu adalah penghuni asli sumber daya tersebut. Menjual sumber daya ini secara mentah ke negara lain tentu merupakan kesalahan besar yang merugikan (jika terlihat untung secara finansial, maka silahkan hitung ulang).

Bersama dengan pola pikir yang sejalan dengan kondisi geografis Indonesia, maka bila ini kita terapkan, sudah menjadi hal yang wajar bila kita senantiasa memperkuat armada laut. Pemerintah secara otomatis akan menganggarkan dananya untuk mengembangkan kapal-kapal laut yang canggih dan dalam jumlah yang besar untuk mengcover seluruh perairan Indonesia. Para jenius Indonesia otomatis akan membuat alat pertahanan dengan memanfaatkan perairan, bukan daratan. Industri-industri kita akan membuat inovasi produk dan pasar yang menekankan kebutuhan antar pulau dan keuntungan lautan, bukan pada kebutuhan imajinatif yang berpusat pada satu pulau saja. Dan masih banyak lagi kemungkinan hebat yang akan terjadi bila kita menerapkan pola pikir kenusantaraan ini dengan tepat. Walaupun kita telah menyia-nyiakan 75 tahun kemerdekaan tapi tidak ada kata terlambat. Jalan sudah ditetapkan oleh pendahulu kita secara lurus tak berkelok-kelok dan tak bercabang, yang perlu kita lakukan adalah kembali ke jalan yang lurus ini dan mulai menapakinya.

Ditulis oleh: Alfiyatul Faiqoh

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Perdana! McGregor Berhadapan dengan Donald Cerrone 'Cowboy" di UFC 246

Halaman: 
Admin : Raka Kisdiyatma
 
xxx bf videos xnxx video hd free porn free sex