logo


ADB: 2016, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 6%

ADB memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia akan mencapai 5,5% tahun ini, dan 6,0% tahun 2016

24 Maret 2015 14:51 WIB

Pembangunan infrastruktur di Jakarta (Ist)
Pembangunan infrastruktur di Jakarta (Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan naik kembali di dua tahun mendatang. Kenaikkan pertumbuhan ekonomi itu dapat terjadi apabila pemerintah yang baru dapat mempertahankan momentum reformasi struktural seperti pengurangan subsidi bahan bakar. Hal ini diungkapkan dalam laporan terbaru Asian Development Bank (ADB) yang dirilis hari ini.

“Pemerintahan Presiden Joko Widodo telah memulai reformasi kebijakan untuk memperbaiki iklim investasi. Kami berharap pemerintah dapat melanjutkan upaya ini dengan mengeluarkan berbagai kebijakan yang mempercepat pembangunan infrastruktur, mengurangi biaya logistik, dan memperkuat proses implementasi anggaran,” kata Deputy Country Director ADB Indonesia, Edimon Ginting melalui siaran persnya, Jakarta, Selasa (24/3).

Dalam publikasi ekonomi tahunannya, Asian Development Outlook (ADO) 2015, ADB memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia akan mencapai 5,5% tahun ini, dan 6,0% pada 2016. Pada 2014, perekonomian Indonesia tumbuh 5,0%.


Pemerintah Pajaki Pulsa dan Token Listrik, Rizal Ramli: Kreatif Dikit Kek

Salah satu pendorong utama bagi pertumbuhan yang diharapkan adalah pengurangan subsidi bahan bakar pada November lalu. Hal ini sangat memperbaiki kondisi fiskal dan menyebabkan tersedianya sumberdaya yang besar untuk dialokasikan ke hal-hal yang lebih produktif, termasuk infrastruktur fisik dan sosial.

Penghematan tersebut memungkinkan pemerintah untuk menambah alokasi belanja modal 2015 hingga lebih dari dua kali lipat, meningkatkan belanja program pendidikan dan kesehatan, serta menurunkan target defisit fiskal menjadi 1,9% dari PDB. Faktor-faktor lain yang dikutip oleh ADO adalah rencana untuk menaikkan penerimaan pajak, eksekusi anggaran yang lebih baik, reformasi kebijakan untuk mendorong investasi pihak swasta, pengeluaran rumah tangga yang besar, serta penurunan tajam angka inflasi.

Setelah mengalami perlambatan pertumbuhan selama empat tahun, 2014 menandai munculnya reformasi kebijakan untuk mendorong pemulihan ekonomi, yang dilaksanakan oleh pemerintah baru yang dilantik Oktober lalu. Selanjutnya, pelaku ekonomi menunggu apakah pemerintah dapat mempertahankan momentum reformasi tersebut dan mengembangkan sektor manufaktur yang berorientasi pada ekspor.

Menghidupkan kembali sektor manufaktur adalah salah satu tantangan kebijakan terbesar bagi Indonesia setelah commodity boom memudar. Indonesia memerlukan sumber pertumbuhan ekspor baru untuk mengembalikan pertumbuhan PDB di atas 6%. Meski demikian, sektor manufaktur masih terkendala oleh berbagai faktor, antara lain infrastruktur yang semakin tidak memadai, ketidakpastian aturan, dan biaya logistik yang tinggi. Terkait biaya logistik, pemerintah berencana untuk mengatasinya dengan berinvestasi besar-besaran pada infrastruktur pelabuhan dan transportasi, serta memperbaiki iklim investasi dengan layanan perizinan investasi satu atap.

ADB, yang berbasis di Manila, dikhususkan untuk mengurangi kemiskinan di Asia dan Pasifik melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pertumbuhan yang menjaga kelestarian lingkungan hidup, dan integrasi kawasan. Didirikan pada 1966, ADB dimiliki oleh 67 anggota—48 di antara berada di kawasan Asia dan Pasifik.

BRI Akuisisi Pegadaian, Faisal Basri Sebut Karena Ingin Masuk Fortune Global

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan