logo


Menyongsong Era Disrupsi, Perguruan Tinggi Harus Beri Bekal Literasi Digital

Direktur ISED, Julie Trisnadewani mengatakan kehadiran teknologi harus dilihat dari sisi positif. Perlunya persiapan keterampilan yang disesuaikan dengan perkembangan jaman

15 Januari 2020 15:08 WIB

Acara diskusi publik "ISED Series Discussion" di Sarinah, Jakarta, Rabu (15/1)
Acara diskusi publik "ISED Series Discussion" di Sarinah, Jakarta, Rabu (15/1) Dok. Jitunews/Khairul

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Semua negara di dunia termasuk Indonesia telah memasuki era baru yang dikenal sebagai era disrupsi, yakni saat teknologi digital memasuki dan mengubah kehidupan sosial, ekonomi, politik dan pendidikan.

Penerapan teknologi kecerdasan buatan dan Big Data, yang dahulu hanya dikenal sebagai matakuliah di jurusan ilmu komputer (Informatika) di Indonesia, saat ini telah bertransformasi menjadi aplikasi teknologi yang diterapkan di berbagai sektor yang mempengaruhi dan mengubah pelbagai lini pekerjaan terutama yang bersifat repetitif, berhubungan dengan pengolahan data dan layanan kepada pelanggan.

Direktur ISED, Julie Trisnadewani mengatakan kehadiran teknologi merupakan realitas yang tidak dapat dihindari sehingga masuknya teknologi ini harus dilihat dari kacamata yang positif yaitu perlunya perubahan cara pandang dan pentingnya mempersiapkan keterampilan baru yang sesuai dengan perkembangan jaman.


Penghasilan Ninja dan Shroud Lebih Banyak Daripada Rata-rata Pemain Sepakbola Liga Inggris

Julie menyebut penelitian yang dilakukan oleh McKinsey & Company pada tahun 2019 menunjukkan, diperkirakan jumlah lapangan kerja baru yang muncul karena masuknya teknologi digital ke sektor layanan kesehatan, konstruksi, manufaktur dan ritel di Indonesia jauh Iebih besar dari lapangan kerja yang hilang.

“Secara khusus, laporan penelitian tersebut memperkirakan akan ada 26 Juta hingga 46 juta pekerjaan baru yang diakibatkan oleh masuknya teknologi ini ke sektor sektor tersebut. Namun perlu digaris bawahi bahwa ada kurang Iebih 10 juta jenis pekerjaan baru yang berbeda dengan jenis pekerjaan sebelumnya,” kata Julie dalam acara diskusi publik di Sarinah, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Julie menambahkan implikasi temuan ini adalah perlunya perubahan di sektor pendidikan yang menuntut penyesuaian terhadap kebutuhan tenaga kerja.

Menurutnya, dunia pendidikan tinggi sebaiknya menyediakan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar yaitu jiwa kewirausahaan, digital literacy dan kemampuan berinteraksi dengan stakeholder yang baik.

“Dengan kesiapan perguruan tinggi tersebut, maka diharapkan di masa mendatang, lulusan perguruan tinggi dapat mengisi kesenjangan antara kebutuhan tenaga kerja terampil dengan ketersediaan tenaga kerja terampil di Indonesia sebagaimana ditunjukkan oleh OECD economic Outlook for South East Asia. China dan India 2020,” pungkasnya.

4 Peralatan Canggih Samsung Bikin 'Ngeces' di CES 2020

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Iskandar