logo


Soal Pembongkaran Ornamen Cina, Begini Tanggapan Ketua PBNU

Said Aqil menilai pernyataan politikus PPP, Amri Cahyadi tentang peniadaan ornamen dan simbol Cina sangat bertentangan dengan sejarah Indonesia yang menjunjung tinggi persatuan dalam keberagaman

15 Januari 2020 13:31 WIB

Said Aqil Siroj
Said Aqil Siroj Nu.or.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj  menyinggung menyindir pernyataan politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Amri Cahyadi terkait pembongkaran ornamen Cina di Bangka Belitung.

Menurutnya, tindakan itu sangat berseberangan dengan semangat persatuan dalam keberagaman yang selama ini dijaga. Indonesia dan Cina, kata dia, sudah menjadi bagian sejarah yang tak terpisahkan.

"Tidak bisa begitu. Hubungan kita orang Nusantara dengan Cina tidak bisa dipisahkan. Sudah ribuan tahun. Bahkan bahasa Cina sudah jadi bahasa kita seperti baso, tahu, sate, becak. Itu bahasa Cina. Sekarang tinggal bagaimana saling menghormati," ujar Said Aqil di Pondok Pesantren Hidayatussalikin Pangkalpinang, dikutip dari Tempo pada Rabu (14/1).


Jadi Bakal Calon Wali Kota Solo, Gibran Disebut Salah Strategi

Lebih lanjut, Said Aqil menerangkan beberapa tokoh dalam sejarah Indonesia yang mempunyai garis keturunan Cina.

"Ada Wali Songo keturunan Cina. Raden Fatah raja muslim pertama di Jawa, ibunya Cina. Syekh Quro yang mengajar Islam di Jawa barat itu orang Cina. Gus Dur juga dari sisi ibunya keturunan Tan Kim Han," jelas dia.

Said Aqil mengingatkan agar tak menilai sesuatu berdasarkan suku dan agama. Menurut dia, kebenaran sejati adalah menempatkan kebenaran diatas segalanya.

"Kalau kotor walaupun dia Indonesia asli atau Islam, tetap musuh kita. Koruptor hanya karena dia pribumi asli dan Islam apa harus dibela? Begitu juga dengan narkoba, penjudi, perampok, pemerkosa. Yang orang Cina tidak korupsi, apa itu musuh kita? Jadi jangan karena Cinanya, tapi perilakunya," paparnya.

Gibran Tunggu Pernyataan Resmi Hasto Kristiyanto

Halaman: 
Penulis : Iskandar