logo


Strategi Millenials Mengelola Keuangan Pribadi

Strategi mengelola keuangan

15 Januari 2020 08:20 WIB

https://all-free-download.com/free-vector/download/financial_icons_vector_287563_download.html
https://all-free-download.com/free-vector/download/financial_icons_vector_287563_download.html
dibaca 552 x

Pada saat ini Millenials sebagian sudah memasuki dunia kerja dan berpenghasilan. Karena uang yang dipegang sekarang adalah hasil keringatnya sendiri, seringkali para millenials kalap dalam menggunakan penghasilannya tersebut. Tanpa sadar mereka hanya dapat menghabiskan penghasilan yang mereka dapat tanpa dapat menabung untuk masa depan mereka sendiri.

Untuk dapat mengelola keuangan dengan baik, Millenials harus menetapkan hal yang paling penting dan mendasari strategi pengelolaan keuangan itu sendiri. Hal yang paling penting dan mendasar itu adalah menetapkan tujuan dari pengelolaan keuangan itu sendiri. Tetapkan skala tujuan dan jangka waktu yang ingin dicapai. Tujuan pengelolaan keuangan bisa berupa mengumpulkan dana untuk beli rumah, sekolah anak, membayar biaya resepsi pernikahan, atau sebagai dana darurat.

Setelah menetapkan tujuan, lalu apa saja strategi yang dilakukan untuk pengelolaan keuangan yang baik? Berikut ini enam strateginya :


Kurang Percaya Diri? Lakukanlah 5 Strategi Jitu ini

1. Fokus dan komitmen pada tujuan

Tujuan adalah hal yang penting. Millenials harus terus mengawal komitmen pada tujuan. Tujuan bukan hanya sebuah angan-angan belaka. Setiap kelolaan dana harus sesuai dan selaras dengan tujuan.

2. Tetapkan proporsi

Berapapun penghasilan yang diterima, sebaiknya sudah ditetapkan proporsi penghasilan yang akan digunakan. Proporsi yang tepat tidak sama bagi semua orang karena kebutuhan masing-masing orang berbeda. Bisa saja memakai proporsi 50-30-20 dimana 50% untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan, listrik, pulsa, dan paket data, 30% untuk ditabung dan/atau diinvestasikan, serta 20% untuk hiburan. Atau Millenials memakai proporsi 40-30-20-10 dimana 40% kebutuhan sehari-hari, 30% untuk cicilan, 20% untuk tabungan/investasi, dan 10% untuk hiburan. Proporsi tersebut hanya contoh saja karena tidak bisa diterapkan kepada setiap orang. Millenials harus dapat menentukan proporsi sendiri. Proporsi dapat dihitung dengan menghitung pengeluaran yang rutin termasuk kebutuhan sehari-hari. Kemudian tetapkan berapa proporsi tabungan atau investasi yang disesuaikan dengan tujuan. Proporsi tabungan atau investasi ini penting karena harus selaras dengan tujuan awal. Sering kali orang menabung atau investasi jika ada sisa, maka pemikiran seperti ini harus diubah. Karena Millenials sudah menetapkan tujuan diawal, maka menghitung proporsi tabungan atau investasi dapat dilakukan dengan baik. Sisanya sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan.

3. Catat pengeluaran

Mencatat pengeluaran adalah hal yang sulit diterapkan. Mencatat pengeluaran cukup menyita waktu jika pengeluarannya banyak. Akan tetapi, hal ini perlu dilakukan sebagai kontrol atas pengeluaran yang dilakukan. Sekarang banyak aplikasi pencatat keuangan pribadi di smartphone yang dapat diunduh . Millenials dapat memanfaatkan aplikasi-aplikasi itu. Jika jenis pengeluaran cukup banyak, cukup catat secara umum berdasarkan kategorinya agar tidak terlalu menyita waktu. Lagi-lagi strategi ini butuh komitmen dan konsistensi agar terus dapat dilakukan.

4. Hindari belanja karena diskon

Millenials sering kalap jika ada diskon-diskon yang menggiurkan. Baik itu diskon di mal-mal saat event tertentu ataupun diskon Harbolnas di marketplace online. Seringkali diskon yang ditawarkan cukup besar sehingga Millenials membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Millenials harus bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan. Belilah barang karena butuh bukan karena keinginan apalagi karena diskon yang ditawarkan.

5. Hindari pengeluaran remeh yang sering

Secara tidak sadar atau sadar, Millenials sering kali mengeluarkan uang untuk hal-hal tertentu yang dianggap remeh terus menerus hingga menggerus keuangannya. Recehan untuk pak ogah, kang parkir, pengamen, dan pengemis walau sedikit tetapi lama-lama menjadi bukit. Jika recehan itu diakumulasi selama sebulan bisa jadi nilainya lebih besar dari yang Millenials perkirakan. Jika niatnya untuk sedekah maka itu tidak masalah asal sesuai proporsi yang telah ditetapkan dan tidak mengganggu pencapaian tujuan keuangan.

6. Menabung pada instrumen yang tepat

Uang yang telah disisihkan sesuai proporsi untuk ditabung lebih baik diinvestasikan ke dalam instrumen keuangan. Jika tabungan hanya disimpan di rekening, maka tabungan itu tidak akan bertambah nilainya. Investasikan tabungan anda ke dalam deposito, reksa dana, saham, atau SUN agar mendapat nilai lebih dan pelindung dari inflasi. Sayang jika uang yang Millenials dapat dari hasil keringat tetapi nilainya berkurang karena inflasi. Selain itu jika Millenials investasikan tabungan ke dalam instrumen keuangan, maka tujuan Millenials bisa lebih cepat tercapai. Tentu saja Millenials harus mempelajari instrumen apa yang sesuai dengan keinginan Millenials.

Itulah keenam strategi yang dapat dilakukan Millenials dalam mengelola keuangan pribadi untuk mencapai tujuan finansial di masa yang akan datang. Semoga artikel ini membantu Millenials agar lebih bijak dalam mengelola keuangannya.

Ditulis oleh: Andi Solikin

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Jadi Bakal Calon Wali Kota Solo, Gibran Disebut Salah Strategi

Halaman: 
Admin : Trisna Susilowati