logo


Jadi Bakal Calon Wali Kota Solo, Gibran Disebut Salah Strategi

Kok Bisa?

14 Januari 2020 18:00 WIB

sumber: Instagram (@gibran_rakabuming)
sumber: Instagram (@gibran_rakabuming)
dibaca 3896 x

Gelaran Pemilihan Kepala Daerah atau yang disingkat dengan Pilkada semakin dekat. Beberapa daerah di Indonesia akan memilih pemimpin daerahnya yang baru bulan September 2020 mendatang. Salah satu daerah yang akan turut dalam Pilkada yang diselenggarakan secara serentak ini adalah Kota Surakarta, sebuah kota yang memiliki dikenal dengan nama Kota Solo serta kota yang mengantarkan sosok Joko Widodo menaiki tangga pemerintahan hingga menjadi seorang Presiden.

Menyebut nama Presiden Jokowi, tentu tak bisa dipisahkan dari nama anaknya yang bernama Gibran Rakabuming Raka. Gibran yang selama ini dikenal sebagai seorang pengusaha kuliner yang sukses, mulai akhir tahun 2019 lalu mulai diberitakan akan mulai menapaki karir politik. Tak tanggung-tanggung, kala itu media memberitakan bahwa Gibran akan maju sebagai calon Walikota Solo di Pilkada 2020.

Awalnya, masyarakat Solo pun tak terlalu percaya dengan kabar yang beredar. Pertama karena sosok Gibran selama ini terlihat tidak terlalu tertarik dengan urusan politik di setiap wawancara yang menghadirkan dirinya. Kedua, Kota Solo sudah memiliki sosok prominen yang akan maju sebagai Calon Wali Kota periode mendatang yang tak lain adalah sosok petahana yaitu Wakil Wali Kota Solo, Achmad Purnomo.


Terkait Aksi Bela Anies Baswedan, Pendukung Pilih Tuliskan Nama "Anis" Daripada "Anies"

Hingga pada akhirnya pada 12 Desember 2019 lalu, Gibran secara resmi mendaftarkan dirinya menjadi calon Walikota Solo di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP Jawa Tengah. Langkah yang diambil Gibran ini menuai beragam reaksi. Salah satu dari banyaknya reaksi yang muncul adalah adanya indikasi pecahnya suara internal PDIP.

Seperti yang publik tahu, Achmad Purnomo diusung menjadi bakal Calon Walikota Solo berpasangan dengan Teguh Prakosa yang merupakan anggota DPRD Kota Solo dari Fraksi PDIP. Pasangan Purnomo-Teguh lebih dulu diusung oleh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kota Solo, sehingga hadirnya Gibran dengan dukungan DPP PDIP Jawa Tengah di bursa Pilkada Solo menunjukkan adanya konflik internal di tubuh PDIP.

Publik pun berpendapat, hadirnya "anak Presiden" mengusik keputusan yang telah dibuat di level DPC PDIP Kota Solo.

Dinamika bursa calon Walikota Solo juga terlihat jelas di jalanan Kota Solo. Berbagai spanduk dukungan untuk pihak Gibran maupun Purnomo nampak menghiasi beberapa titik di jalan utama kota ini.

Nampaknya masyarakat Kota Solo juga sudah mulai memiliki pilihan tersendiri untuk calon pemimpinnya. Beberapa survei elektabilitas yang dilakukan oleh lembaga survei menunjukkan bahwa Gibran masih kurang populer dan belum bisa mengambil hati masyarakat setempat.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Median pada tanggal 3-9 Desember 2019, Purnomo mendapatkan perolehan suara tertinggi sebesar 45% dan Gibran berada di posisi kedua. Begitupun dengan hasil survei yang diadakan oleh Universitas Slamet Riyadi di Solo, Purnomo menempati posisi pertama.

Panasnya bursa calon Wali Kota Solo ini juga terlihat di Rakernas PDIP 2020 yang telah dilangsungkan di JI-Expo Kemayoran. Dalam rakernas tersebut, muncul spanduk yang berisi dukungan untuk pasangan Purnomo-Teguh, hal tersebut tentu semakin menegaskan adanya beda suara di dalam internal PDIP terkait pengajuan calon Walikota Solo di pilkada mendatang.

Ketua DPC PDIP Kota Solo yang juga merupakan Walikota Solo periode sekarang, FX. Hadi Rudyatmo, nampak absen dalam rakernas ini. Ketika dikonfirmasi apakah ketidakhadirannya dalam rakernas merupakan bentuk perlawanan ke DPP PDIP, Rudi menampiknya. Kecurigaan tersebut muncul setelah Sekjen PDIP Hasto Kristianto menegur para kader dan pengurus DPC PDIP Kota Medan dan Kota Solo karena mereka enggan mengusung putra Presiden Jokowi Gibran di Pilwalkot Solo.

Terkait teguran tersebut, FX. Hadi Rudyatmo menolak jika dikatakan menolak pencalonan Gibran. Ia berpendapat bahwa DPC PDIP Kota Solo sudah melaksanakan tugas sesuai Peraturan Partai No 24 tahun 2017? dengan melaksanakan penjaringan bakal calon kepala daerah secara tertutup di internal partai? yang memunculkan nama pasangan Purnomo-Teguh.

Menurut saya, langkah Gibran di Pilwalkot Kota Solo ini termasuk tergesa-gesa. Manuver-manuver politiknya pun semakin berani. Entah apa yang mendorong Gibran dan DPP PDIP Jawa Tengah yang mengusungnya untuk maju bersaing melawan rekan separtainya sendiri dan memunculkan kegaduhan.

Di lain sisi, saya menghargai niat dan keberanian pilihan Gibran untuk memulai karir politiknya di Pilkada 2020 ini, itu hak Gibran sebagai warga negara. Terkait siapa yang akhirnya akan meraih posisi Wali Kota Solo di pemilihan umum nanti, kita hanya bisa menunggu hasil pilihan rakyat September mendatang.

Ditulis oleh: Annisa Sekar Irsa Fajrina

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Dugaan Dinasti Politik Gubernur Riau, Tjahjo: Jangan Ada KKN

Halaman: 
Admin : Raka Kisdiyatma