logo


Catat! Ini Strategi Membangun Personal Branding di Era Digital

Strategi membangun personal branding

13 Januari 2020 08:15 WIB

pexels.com/pixabay
pexels.com/pixabay
dibaca 315 x

Di era digital, istilah personal branding menjadi populer. Berbeda dengan branding yang identik dengan bisnis, istilah “personal branding” merujuk kepada bagaimana persepsi masyarakat terhadap individu. Personal brand atau citra diri adalah kombinasi unik dari kemampuan dan pengalaman yang membentuk diri kita saat ini dan bagaimana kita merepresentasikannya kepada dunia.

Istilah ini sudah ada sejak sebelum era digital. Seseorang dengan citra diri yang kuat terlihat lebih ahli dan lebih menonjol dari orang lain di bidangnya. Ia mendapat semua perhatian media, dapat menjadi pembicara utama di seminar atau konferensi, dan dapat menarik klien terbaik.

Namun seiring dengan kemunculan dan kenaikan penggunaan media sosial, citra diri menjadi semakin penting bagi hampir semua orang dengan beragam latar belakang mulai dari karyawan, pengusaha, hingga profesional. Salah satu alasannya karena, seperti dilansir dari Forbes, 70% perusahaan menggunakan media sosial dalam proses rekrutmen untuk menentukan kredibilitas para pelamar. Selain itu, ada fenomena gig economy yang terus berkembang yang ditandai dengan peningkatan rekrutmen pekerja kontrak dan pekerja lepas atau freelance daripada pekerja penuh waktu. Sehingga memiliki citra diri yang kuat di era digital ini penting untuk meningkatkan reputasi dan karir kita.


Strategi Menghilangkan Stres di Kantor Versi Kaum Milenial


Namun sepanjang tahun 2019 kita melihat kerapuhan gambaran di media sosial dimana kenyataan tidak sebaik yang digambarkan. Salah satunya terjadi di pertengahan tahun 2019 saat kita dihebohkan oleh pemberitaan Livi Zheng, seorang anak bangsa yang menjadi inspirasi dalam menembus Hollywood, setelah kabar film dimana ia berperan sebagai aktris, sutradara, dan produser masuk dalam seleksi nominasi piala Oscar diberitakan secara masif. Tetapi seiring berjalannya waktu, fakta-fakta yang bertentangan muncul ke permukaan hingga akhirnya publik mempertanyakan reputasinya.


Menurut Craig Fisher, Head of Employer Brand di CA Technologies dan CEO of TalentNet LLC, sebagaimana dilansir dari The Economist, citra diri umumnya dipandang keliru sebagai padanan langsung dari apa yang digambarkan oleh media sosial dan jejak digital kita padahal sesungguhnya citra diri jauh melebihi hal tersebut. Citra diri bukan hanya tentang terlihat populer di dunia maya namun tentang mengenali siapa kita, bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan bagaimana kita ingin dikenal.


Saya setuju dengan pernyataan Craig Fisher diatas. Menurut saya, media sosial merupakan alat untuk mewartakan personal branding yang sudah kita miliki agar gaung kita lebih terdengar. Bukan menjadi tujuan atau fokus utama dari pembentukan citra diri itu sendiri. Sehingga hal pertama yang harus kita lakukan adalah memiliki dan membangun citra diri yang kuat. Setelah itu, baru kita pelajari cara membangun citra diri di media sosial seperti rutin mengunggah konten dan berinteraksi dengan audiens. Niscaya hal seperti view, likes, dan followers akan mengikuti.


Clement Lim, dalam artikelnya di Entrepreneur.com memberikan lima langkah membangun citra diri dari dasar. Kelima strategi ini bermuara pada pembentukan nilai atau values diri kita. Nilai ini lah yang harus kita pegang dan wujudkan dalam segala hal yang kita lakukan termasuk dalam berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata maupun maya.


Pertama, discover your opportunity. Mulailah dengan mencari tahu kebutuhan atau kesulitan yang dihadapi orang-orang di sekitar kita. Lalu pikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka. Gali diri kita secara dalam dan cari tahu apa yang bisa kita berikan.


Kedua, know your audience. Semuanya dimulai dari mengenali siapa yang hendak kita bantu. Mulai dari mencari tahu hal standar seperti pekerjaan yang mereka lakukan dan dimana mereka tinggal hingga berdiskusi dengan mereka. Dengan mengenal audiens, kita dapat mengetahui apa yang penting bagi mereka dan seberapa banyak yang mereka ketahui tentang apa yang kita tawarkan.


Ketiga, craft your message. Tahukah anda tentang elevator pitch? Di Hollywood, banyak sineas muda merangkum gagasan film mereka dalam frasa pendek dan mudah diingat yang dapat digunakan untuk menjual ide mereka kepada para petinggi rumah produksi yang sibuk sehingga mereka akan siap walaupun harus menjual ide dalam waktu yang singkat seperti di dalam lift. Pakailah strategi ini untuk menyampaikan ide atau gagasan kita kepada audiens. Keep it simple and memorable. Jangan lupa untuk melakukan apa yang kita katakan sehingga gambaran kita sebagai pribadi yang profesional dapat terbentuk.


Keempat, hone your uniqueness. Poin terpenting dari menjadi unik adalah menjadi yang terbaik dan ada banyak cara untuk menjadi yang terbaik. Namun jika kita tidak bisa menjadi yang terbaik, jadilah lebih terspesialisasi. Misalnya, alih-alih menawarkan jasa konsultan keuangan secara umum, kita dapat menawarkan jasa konsultan keuangan khusus pasangan yang akan menikah atau baru menikah.


Kelima, define your values. Keautentikan adalah landasan citra diri kita. Keaslian kita adalah yang memungkinkan orang untuk memberikan kepercayaan mereka, untuk berinteraksi dengan kita, bahkan merekomendasikan kita ke teman-teman mereka. Menjadi autentik adalah tentang menyatakan nilai-nilai dasar yang kita percayai dan bersikap jujur kepada orang lain. Cari tahu nilai-nilai dasar kita lalu lindungi dari inkonsistensi seperti mengatakan satu hal dan melakukan hal lain. Inkonsistensi akan menimbulkan keraguan dan merusak citra diri kita.

Di tahun 2020, mari redefinisikan diri dengan menemukan keunikan kita dan menggunakannya untuk menyelesaikan masalah di sekitar. Gunakan media sosial secara bijak untuk membagikan keunikan kita yang dapat menginspirasi banyak orang. Selamat membangun branding!

Ditulis oleh: Devenni Putri

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Catat! Ini Strategi yang Bisa Anda Lakukan untuk Membuat Presentasi Lebih Menarik

Halaman: 
Admin : Trisna Susilowati