logo


Wakil Ketua KPK Sebut Komisioner KPU Wahyu Setiawan Terima Suap Rp 200 Juta

Wahyu Setiawan diduga hanya menerima uang sebesar Rp 200 juta untuk membantu memuluskan politisi PDIP Harun Masiku sebagai anggota DPR pergantian antar waktu (PAW).

10 Januari 2020 03:45 WIB

detik.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Wakil Ketua KPK, Lili Pintauli Siregar menyampaikan, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan diduga hanya menerima uang sebesar Rp 200 juta untuk membantu memuluskan politisi PDIP Harun Masiku sebagai anggota DPR pergantian antar waktu (PAW).

Wahyu sebelumnya meminta dana sebesar Rp 900 juta yang dilakukan dalam dua kali proses pemberian.

"Untuk merealisasikan hal tersebut dilakukan dua kali proses pemberian," ujar Lili dalam konferensi pers di gedung KPK, Kamis (9/1/2020).


DKI Jakarta Banjir Parah, PDIP Bakal Usung Isu Lingkungan dalam Rakernasnya

Selain itu, KPK juga menetapkan Agustiani Tio Fridelina dan Saeful sebagai tersangka.

Lili kemudian menjelaskan awal mula kasus penyuapan ini terjadi saat pengurus DPP PDI Perjuangan memberi instruksi pada pengacara bernama Doni untuk mengajukan gugatan uji materi Pasal 54 Peraturan KPU Nomor 3 Tahun 2019 Tentang Pemungutan dan Penghitungan Suara di Mahkamah Agung pada awal bulan Juli 2019. Hal itu terkait dengan meninggalnya calon legislatif terpilih dari PDI Perjuangan Nazarudin Kiemas pada Maret 2019.

Gugatan ini kemudian dikabulkan oleh Mahkamah Agung pada 19 Juli 2019.

Dari putusan MA ini, kemudian PDIP mengirimkan surat kepada KPU untuk menetapkan Harun sebagai pengganti caleg tersebut.

"Namun, tanggal 31 Agustus 2019, KPU menggelar rapat pleno dan menetapkan Riezky Aprilia sebagai pengganti almarhum Nazarudin Kiemas," kata Lili.

Pada agenda selanjutnya pada tanggal 13 September 2019, PDI Perjuangan lagi-lagi mengajukan permohonan fatwa MA dan pada 23 September mengirimkan surat berisi penetapan caleg.

"SAE (Saeful) menghubungi ATF (Agustiani) dan melakukan lobi untuk mengabulkan HAR (Harun) sebagai PAW," ujar Lili.

Selanjutnya, ATF mengirim dokumen dan fatwa MA yang ia dapat dari SAE (Saeful) kepada Wahyu Setiawan untuk memuluskan proses penetapan Harun. Wahyu menyanggupi hal tersebut dengan membalas via WhatsApp.

"Dengan membalas: “Siap, mainkan!," isi pesan Wahyu tersebut kata Lili.

"Untuk merealisasikan hal tersebut dilakukan dua kali proses pemberian," ujar Lili.

PDIP Gelar Rakernas, Gibran Tak Dapat Undangan

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia