logo


KEK Batam, Strategi Pemerintah Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Penasaran?

9 Januari 2020 20:58 WIB

Monumen Welcome to Batam
Monumen Welcome to Batam
dibaca 376 x

Batam merupakan kawasan strategis di Selat Malaka yang diarahkan menjadi pusat pertumbuhan perekonomian nasional.  Batam diharapkan mampu bersaing dengan kompetitornya di Asia Pasifik, terutama Singapura. Maka dari itu perlu adanya strategi agar visi Batam tersebut dapat terwujud. Salah satu program pemerintah terbaru  untuk mewujudkannya adalah dibangunnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batam.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang KEK, KEK adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. KEK dikembangkan melalui wilayah yang memiliki potensi geoekonomi dan geostrategi yang berfungsi untuk menampung kegiatan industri.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menargetkan akan mengukuhkan dua KEK di Batam pada akhir tahun 2019 kemarin. Kedua kawasan tersebut adalah KEK Maintenance, Repair, dan Overhaul (MRO) Bandara Hang Nadim dan KEK Nongsa Digital Park. Namun rencana ini tertunda karena menunggu rampungnya revisi Peraturan Pemerintah (PP) terkait Kawasaan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam. Sekretaris Dewan Nasional KEK Enoh Suharto belum dapat memastikan kapan persisnya target penetapan dua KEK di Batam.


Mau Rambut Kuat dan Tidak Mudah Rontok, Yuk Konsumsi Buah Rambutan!

“Belum dapat dipastikan karena regulasi (PP) yang mengatur secara khusus pembentukan KEK di Batam itu belum terbut,” ujar Enoh pada 17 Desember 2019.

“KEK sudah berjalan, aturannya tinggal keputusan presiden,” ujar Wali Kota ex-Officio Kepala Badan Pengusahaan Batam Muhammad Rudi pada 21 Oktober 2019.

“Untuk awal, memang baru 2 KEK, agar bisa menjadi contoh bagi KEK lainnya. Nantinya pemerintah juga akan menetapkan sejumlah KEK lain di Batam seperti KEK rumah sakit, KEK pelabuhan, dan lainnya,” lanjutnya.

Pembentukan dua KEK di Batam ini merupakan salah satu target pemerintah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019. KEK MRO dibentuk sebagai pusat pemeliharaan dan servis pesawat terbang. Sedangkan KEK Nongsa dibentuk sebagai sarana pengembangan bisnis digital di Indonesia dan global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution yang juga menjabat Ketua Dewan KEK menyatakan bahwa pemerintah melakukan kerja sama dengan pihak Lion Air dan Garuda Indonesia terkait KEK MRO. Pemerintah juga berencana bekerja sama dengan Hollywood yang terkenal akan industri perfilman untuk membangun KEK Nongsa Digital Park. Dengan terlibatnya Hollywood diharapkan kualitas SDM dan minat investor di Batam meningkat.

“Kita berharap kehadiran KEK ini benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat. Bukan hanya masyarakat Batam tapi seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Darmin.

Saat ini Lion Air Grup dan GMF Garuda Indonesia tengah mengebangkan industri perawatan dan perbaikan kapal di Batam dengan membidik pasar internasional. Darmin menyatakan KEK memiliki potensi yang besar dan pemerintah akan mendukung agar pengusaha tidak merugi di awal pendirian MRO dengan memberikan keluangan dalam pembayaran pajak dan bea lainnya.

“Mereka pasti minta tax holiday dan itu adanya di KEK,” kata Darmin.

Pemerintah berkomitmen untuk menciptakan ekosistem industri penerbangan tanah air yang berkelanjutan karena pada 2020 Indonesia diperkirakan akan masuk 10 besar pasar penerbangan dunia, bahkan menjadi lima besar dunia pada 2034. Saat ini bisnis MRO di Indonesia hanya mampu melayani 30%-35% pasar nasional, sisanya diserap MRO asing.

potensi bisnis MRO nasional tahun 2020 diperkirakan senilai 26 triliun. KEK MRO Batam ini merupakan langkah yang diambil pemerintah untuk mengembangkan efisiensi industri penerbangan agar lebih kompetitif dan tumbuh berkembang.

Batam dipilih sebagai lokasi MRO karena memiliki beberapa keunggulan yaitu berdekatan dengan Signapura, lokasi Original Equipment Manufacturer (OEM) yang menempatkan stock sparepart pesawat dan sebagai hub penerbangan internasional. Batam juga berstatus Free Trade Zone (FTZ) atau Kawasan Perdangangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) dengan berbagai kemudahan bisnis dan insentif fiskal serta tersedia lahan yang sudah disewa seluas 30 Ha. Letak geografis Batam yang berdekatan dengan negara-negara tetangga juga berpotensi besar menjadi target market jasa MRO pesawat.

Kerja sama dan pembangunan pabril vulkanisir ban pesawat dirancang untuk meningkatkan efisiensi biaya operasional. Selain itu juga mendukung industri dalam negeri dan subsitusi impor, karena selama ini harus dibawa ke Thailand. Sedangkan kerja sama pelatihan aviasi oleh Politeknik Kirana Angkasa ditujukan untuk penyediaan SDM Aviasi yang berkualitas. Hal ini sejalan dengan program pemerintah untuk mendorong SDM, terutama Pendidikan Vokasi.

“Ini semua untuk mendukung investasi bernilai USD 466 juta yang tentu akan mampu mendorong perekonomian di Batam sekaligus mendukung pengembangan industri penerbangan,” ujar Darmin.

Dia juga menambahkan, “Yang lain sedang begerak ke arah itu. Ada Nongsa, kami juga mau di bidang kelautan di Batam karena Batam memiliki beberapa pelabuhan sehigga kalau dikombinasikan dengan tepat akan jadi berdaya saing.”

Di sisi lain, dengan statusnya yang berubah menjadi KEK, Nongsa Digital Park (NDP) semakin memperbaiki fasilitas dan minat investasi menjadi lebih besar. NDP tengah mengerjakan sejumlah bangunan lain guna menunjang industri kreatif berbasis digital yang dilengkapi studio film dan animasi. Selain mempekerjakan para kreator digital, NDP juga menyediakan fasilitas teknologi informasi mutakhir. Di antaranya adalah jaringan optik berkecepatan tinggi dan pusat data yang dapat dijadikan server bagi perusahaan digital.

Menurut Direktur NDP Peters Vincen, kawasan NDP tak ubahnya Silicon Valley milik Indonesia yang berlokasi di Batam. “Tenant NDP serta proyek kami kerjakan kebanyakan dari perusahaan asing,” Kata Peter.

Pada 24 Oktober 2019, Achyar Arfan, Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Khusus Batam, menyatakan bahwa penerapan KEK dapat menjadi harapan baru untuk pergerakan ekonomi di Batam. Jika pertumbuhan ekonomi bisa bergerak di angka 7-8 persen, lebih tinggi dari yang ada sekarang, tentunya peluang kerja lebih terbuka, dan daya beli masyarakat meningkat. Sejalan dengan hal itu industri properti juga akan tumbuh dan ikut maju karena banyak orang yang berinvestasi di batam sehingga membutuhkan rumah untuk tempat tinggal.

Penerapan KEK juga berpengaruh terhadap pengembangan industri pariwisata. Menteri Pariwisata Arief Yaya menyatakan, “Menjadikan Batam sebagai  KEK merupakan langkah yang cedas untuk mempercepat pertumbuhan wisata dan ekonomi Kepri.”

Pengamat KEK Suyono Saputri berharap KEK yang ada mampu memperkuat daya saing Batam sebagai kawasan perdangan bebas dan ekonomi. Dengan begitu kita semua harapkan Batam mampu mengejar ketertinggalannya dengan Singapura serta menjadi andalan pusat perekonomian nasional.

Ditulis oleh: Puspita Widya Putri

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Banjir Tetap Bersyukur, Ini Alasan Merry Riana!

Halaman: 
Admin : Raka Kisdiyatma
 
xxx bf videos xnxx video hd free porn free sex