logo


Bijak Bersampah: Strategi Jitu Menghadapi Masalah Sampah

Tips Mengelola Sampah

8 Januari 2020 19:58 WIB

Sampah-sampah pada banjir Jakarta
Sampah-sampah pada banjir Jakarta
dibaca 308 x

Banjir melanda Jakarta dan beberapa daerah lainnya beberapa hari terakhir. Musibah banjir yang terjadi ini menimbulkan keprihatinan banyak pihak. Pasalnya tidak hanya kehilangan harta benda, musibah banjir kali ini juga merenggut korban jiwa. Banyak ahli menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan  musibah banjir kali ini. Menurut BMKG, pemicu banjir kali ini adalah perubahan iklim yang terjadi meningkatkan risiko dan peluang curah hujan ekstrem. Namun, tak sedikit masyarakat yang menyalahkan dan mengecam pemerintah atas musibah yang terjadi. Walaupun, sejatinya tidak hanya pemerintah saja yang bertanggung jawab atas masalah ini.

Banjir kali ini harusnya menyadarkan kita bahwa bumi tempat tinggal kita sekarang sedang sakit dan butuh perhatian banyak pihak. Isu perubahan iklim dan lingkungan ini menjadi tanggung jawab kita bersama, dan seharusnya menjadi agenda prioritas pemerintah dan dunia. Salah satu pekerjaan rumah yang erat kaitannya dengan lingkungan adalah sampah.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu penyebab banjir adalah sampah yang dibuang sembarangan. Sampah yang dibuang ke got atau sungai menghambat aliran air. Jika disertai hujan deras dengan volume yang besar, menyebabkan debit air sungai meningkat, dan akhirnya berakibat banjir. Selain menghambat aliran air, sampah juga menyebabkan pendangkalan sungai dan mencemari ekosistem sungai dan laut. Sampah menjadi sumber masalah bagi kita semua namun sering kali kita abai dengan masalah sampah. Kita dapat memulai perubahan dengan melakukan gerakan-gerakan bijak bersampah mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang.


Kekhawatiran Perang Dunia ke-3 karena Konflik Amerika Serikat VS Iran, Harga Emas Naik Tajam

Gerakan bijak bersampah pertama yang dapat dilakukan adalah mengurangi sampah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyampaikan jumlah timbunan sampah yang diproduksi setiap harinya adalah sebesar 175.000 ton atau 64 juta ton per tahun jika mengunakan asumsi, sampah yang dihasilkan setiap orang per harinya adalah sebesar 0.7 kg. Sedangkan rata-rata timbulan sampah harian di kota metropolitan mencapai 1.300 ton. Jumlah yang tidak sedikit bukan.  Komposisi sampah yang dihasilkan beragam mulai dari sampah organik, sampah plastik , sampah kertas dll. Sampah organic dapat terurai dengan mudah, namun sampah plastik dan kertas, terutama plastik, sulit terurai. Sampah plastik membutuhkan ribuan tahun untuk terurai. Maka dari itu kita harus megurangi jumah sampah plastik dengan aksi-aksi nyata yang sederhana. Seperti membawa botol minum, membawa tas belanja saat berbelanja, membeli barang-barang bekas, tidak mengggunakan sedotan plastik dll. Dengan mengurangi jumlah sampah kita bisa membantu hewan hewan di lautan untuk hidup di laut yang bersih tanpa sampah plastik.

Komposisi jenis sampah yang dihasilkan adalah 50% sampah organic (sisa makanan dan sisa tumbuhan), 15% sampah plastic, 10% sampah kertas, dan 25 % jenis sampah lanninya logam, kain, karet, kaca dll. Pengelolaan dan penangan sampah berbeda-beda tergantung jenisnya. Maka dari itu proses pemilahan sampah ini penting dilakukan. Tanpa proses pemilahan, penanganan terhadap sampah tidak bisa maksimal. Berdasarkan hasil studi Kementerian Lingkungan Hidup, pengelolaan sampah di Indonesia adalah sebagai berikut: diangkut dan ditimbun di TPA (69%), dikubur (10%), dikompos dan daur ulang (7%), dibakar (5%), dibuang ke sungai (3%), dan sisanya tidak terkelola (7%). Persentase jumlah sampah yang dikompos dan didaur ulang masih sangat jauh dibandingkan dengan jumlah sampah organic yang dihasilkan. Sementara dari sisi sumbernya, yang paling dominan berasal dari sampah rumah tangga (48%), pasar tradisional (24%) dan kawasan komersial (9%). Komponen sampah rumah tangga yang cukup besar, menandakan gerakan memilah sampah dapat dilakukan. Penanganan sampah akan menjadi lebih mudah jika sampah telah dipilah dulu. Sampah organik akan diproses untuk kemudian dijakidakn kompos atau pupuk sedangkan sampah plastic dan kertas bisa didaur ulang dan dimanfaatkan kembali misa untuk kerajinan tangan.

Gerakan bijak bersampah ditutup dengan aksi membuang sampah pada tempatnya. Hal ini bukan tanpa sebab, karena tanpa gerakan membuang sampah pada tempatnya, gerakan-gerakan sebelumnya tak punya banyak arti. Jangan malas menyimpan sampah jika tidak menemukan tempat sampah. Kita bisa menyimpannya di dalam tas atau wadah untuk kemudian kita membungnya jika sudah ada temat sampah. Jangan malu jika tidak memakai paiakaian bermerk tapi malulah ketika kalian membuang sampah sembarangan.

Gerakan bijak bersampah ini perlu didukung dengan sistem pengeleolaan sampah yang lebih modern dan sistematis. Selain itu, pengelolaan sampah perlu diatur dalam kebijakan yang terintegrasi sehingga tidak terdapat kebijakan yang salih tumpang tindih. Masalah sampah mungkin dianggap sepele oleh banyak orang, namun sampah bisa menjadi sumber masalah yang tiada  putus-putusnya jika dibiarkan saja,

Ditulis oleh: Mar\'atus Sholikhah

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Strategi Meningkatkan Ketahanan Pangan dengan Mengurangi Food Waste

Halaman: 
Admin : Trisna Susilowati