logo


Strategi Meningkatkan Ketahanan Pangan dengan Mengurangi Food Waste

Simak berita selengkapnya

8 Januari 2020 15:49 WIB

Sisa makanan di piring bisa menambah jejak karbon
Sisa makanan di piring bisa menambah jejak karbon
dibaca 187 x

Ketahanan pangan sejak dahulu merupakan isu yang sering didengar oleh masyarakat Indonesia. Maklum, segala hal yang berkaitan dengan urusan perut merupakan hal yang sensitif. Apabila tidak terpenuhi dengan baik, maka tidak mustahil akan menjadi keributan yang memicu konflik.

Indonesia dan Ketahanan Pangan
Indonesia merupakan negara yang mempunyai kekuatan (strength) pada sektor agraris dan maritim. Berdasarkan data BPS, luas lahan sawah di Indonesia tahun 2015 sebesar 8.087.393 ha. Sedangkan luas lahan perkebunan tahun 2018 (angka sementara) sebesar 9.407.900 ha.

Dengan luas area pertanian dan perkebunan sebesar itu, tentu akan mudah bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Namun perlu diingat, saat ini terdapat beberapa ancaman (threat) seperti: isu pengalihan lahan, isu pemanasan global, serta isu-isu lain yang mengakibatkan perlunya effort lebih untuk mencapai ketahanan pangan tersebut.


Asuransi BMN, Langkah Baru Menjaga Aset

Banyak hal yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai ketahanan pangan yang stabil. Mulai dari meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pangan, membangun serta mengoptimalkan infrastruktur dalam bidang pangan, sampai pada membatasi impor produk-produk tertentu.

Namun sesungguhnya ada satu hal kecil yang berdampak luar biasa terkait dengan strategi Indonesia yang bersinggungan dengan ketahanan pangan tersebut.

Food Waste
Indonesia mempunyai kelemahan (weakness) berupa masyarakatnya yang cenderung tidak terlalu aware terhadap lingkungan sekitar. Salah satunya mengenai pembuangan sisa makanan yang biasa dikonsumsi, atau dikenal dengan istilah food waste. Menurut statistik foodsustainability.eiu.com, Indonesia merupakan negara penyumbang food waste terbesar kedua setelah Arab Saudi dengan angka pembuangan 300 kg sampah per orang per tahun.

Seringkali kita lihat baik di rumah maupun di restoran, orang-orang tidak menghabiskan makanan mereka sehingga menyisakan sampah makanan (food loss and food waste). Begitu pula dari dapur kita sendiri, kadang kala kita juga tidak pandai dalam menyimpan bahan makanan sehingga bahan makanan terbuang sebelum diolah.

Food waste merupakan hal yang berbahaya karena dia bisa melepaskan jejak karbon. Jejak karbon muncul dari setiap kegiatan yang kita lakukan dan setiap barang yang kita konsumsi. Yang paling utama, dia digadang-gadang berpengaruh terhadap efek rumah kaca dan pemanasan global.

Jika kita bertanya-tanya mengapa food waste bisa menyumbang pemanasan global, maka pikirkan hal ini. Untuk mendapatkan makanan yang siap tersaji di hadapan kita, diperlukan serangkaian rantai proses panjang mulai dari penyemaian benih oleh petani, panen, transfer hasil panen, pengolahan makanan,  pemasaran hasil olahan makanan, penyimpanan dalam lemari es (bila perlu), serta serangkaian kegiatan lain yang diperlukan sampai dengan penyajian di piring kita. Sedemikian panjangnya rantai proses tersebut tentu saja memerlukan banyak bahan bantuan seperti traktor, truk, bahan bakar minyak, kulkas, gas, dan lain sebagainya. Aktivitas pengolahan dan penggunaan bahan bantuan itulah yang akhirnya melepaskan baik CO2 maupun senyawa lain yang menyumbang pemanasan global.

Mengubah Kelemahan Menjadi Kesempatan
Padahal sesungguhnya kelemahan berupa tingginya food waste dapat kita ubah menjadi kesempatan (opportunity) yang bagus. Dengan mengurangi food waste artinya kita mengurangi emisi karbon sehingga berpotensi menurunkan pemanasan global. Hal ini tentunya akan menyebabkan hasil pertanian/perkebunan menjadi lebih stabil. Pendistribusian pangan pun menjadi lebih efisien karena pangan yang diproduksi tidak hanya berakhir di tempat sampah dan menjadi penyumbang pemanasan global. Selain itu, bisa jadi kita mempunyai peluang lebih besar untuk berpartisipasi dalam Carbon Emissions Trading (yaitu sebuah kebijakan yang memperbolehkan negara untuk "menjual jatah" emisi kabon yang tidak digunakannya kepada negara lain) yang akhirnya akan meningkatkan penerimaan negara.

Jadi, marilah kita mulai kurangi food waste kita masing-masing. Habiskan makanan di piring, simpan dan olah bahan makanan dengan baik, serta kelola limbah makanan menjadi kompos!

Ditulis oleh: Galuh Mafela Mutiara Sujak

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Kekhawatiran Perang Dunia ke-3 karena Konflik Amerika Serikat VS Iran, Harga Emas Naik Tajam

Halaman: 
Admin : Trisna Susilowati