logo


Menang Perang

Jagat politik nasional tiba-tiba hingar-bingar, panas-dingin, penuh narasi "Perang atau damai/diplomasi"

7 Januari 2020 22:57 WIB

Laut Natuna
Laut Natuna Istimewa

Jagat politik nasional tiba-tiba hingar-bingar, panas-dingin, penuh narasi "Perang atau damai/diplomasi". Penyulutnya, cêtho wélo-wélo klaim sekaligus provokasi Cina di perairan Natuna/Laut Cina Selatan.

Si Naga kopèt mengibaskan ekornya, mengejek dan menantang perang Sang Garuda. Tokek pun nimbrung bersuara. Perang - damai ; perang - damai ; perrrrrr ... ang ...

Sepihak


Antisipasi Kapal China Berkeliaran di Perairan Natuna, Bamsoet Sebut Penguatan Armada TNI Sangat Relevan

Klaim Cina tak berdasar dan melanggar keputusan konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional. Padahal, Cina sendiri terlibat aktif di dalamnya. Ironis memang.

Negeri Tirai Bambu memaksanakan kehendak. Keputusan sepihak menuruti selera sendiri. Mengkhianati diri sendiri.

Sembilan garis putus-putus atau nine dash line dasarnya. Inilah garis (batas laut) yang dibuat sendiri oleh Cina serta dijadikan alasan pembenar untuk mencari gara-gara, menantang konflik dan perang dengan negara tetangga.

Wilayah yang dicaplok Cina dengan nine dash line melingkupi laut Kepulauan Paracel, Kepulauan Spratly dan Kepulauan Natuna.

Di Kepulauan Paracel, Cina berkonflik dengan Vietnam dan Taiwan. Di Kepulauan Spratly,  bersitegang dengan Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Brunei Darussalam. Saat ini, di wilayah laut Natuna Utara, Cina berhadapan dengan Indonesia.

Padahal, wilayah yang diklaim Cina adalah bagian dari kedaulatan NKRI secara clear, legal dan final yang didasarkan pada konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hukum Laut.

United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS)

Pada UNCLOS III yang berlangsung sejak tahun 1973 hingga 1982, Cina menjadi bagian/anggota konvensi turut serta secara aktif di dalamnya, termasuk membahas, memutuskan dan menyetujuinya.

Keputusan lainnya, Cina sepakat mengganti perjanjian internasional mengenai laut tahun 1958. Di sini juga mendefinisikan, "hak dan tanggung jawab negara, dalam penggunaan lautan di dunia, serta menetapkan pedoman, untuk bisnis, lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam laut".

Sejak tahun 2014 - menindaklanjuti ratifikasi UNCLOS - Indonesia memiliki Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2014 tentang Kelautan yang disahkan pada 17 Oktober 2014. UU tersebut tercantum dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 294 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 5603.

Sumber ESDM

Seperti telah diprediksi jauh sebelumnya, ulah Cina di kawasan Natuna Complexs mengonfirmasinya. Kini, kawasan Natuna menjadi sumber konflik baru yang riil. Setiap saat, potensial menimbulkan ganggu-gusar, mengundang kerawanan terhadap upaya mewujudkan perdamaian dan keamanan di kawasan.

Daya tarik perairan Natuna bukan sekadar ambisi teritorial dari suatu negara, tapi lebih dikarenakan potensi kekayaan dan kandungan alamnya. Bahkan, perairan Natuna diprediksi menjadi salah satu deposit kehidupan di masa depan.

Adalah keniscayaan seiring dengan hajat menjamin kelangsungan hidup (eksistensi) setiap bangsa. Ya, saat ini, terlebih di masa-masa yang akan datang.

Kini, tiba saatnya setiap negara melakukan perburuan global. Satu yang dicari: Energi dan sumber daya mineral (ESDM) baru.

Semua bangsa berhitung. Bagaimana menemukan? Bagaimana mendapatkan? Bagaimana mempertahankan dan mengamankannya?

Demi ESDM pula segala cara dihalalkan. Bila perlu, jalan perang sekalipun. Tega, jeda dan cuti dari damai. Korbankan persahabatan. Rela hidup bertetangga tanpa rasa aman.

Maju Tak Gentar

Puji syukur mesti dilantunkan. Respon pemerintah atas ulah Cina ini amat tepat.

Presiden Joko Widodo menegaskan, "Tak akan berkompromi soal hak berdaulat Indonesia di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Natuna Utara".

Menlu Retno LP Marsoedi lebih kenceng lagi. Mbegegek ngutho waton. Kêkêh, kukuh dan kokoh (tegas, teguh dan tegar). Penuh jiwa semangat dan nilai-nilai juang (JSN) 1945. Pantang menyerah. "Tidak ada ruang negosiasi lagi,” katanya.

Sikap tegas itu tentu maknanya tunggal. Maju tak gentar. Lu jual gue beli. Dadagi kanthi pecahing dhodho, wutahing ludiro. Siapa takuuuut ... Perangpun jadi ...

Sementara publik juga serujuk sikap tegas itu. Siap berjihad. Hubbul wathon minal iman. Bergegas menyahuti untuk menunaikan hak bela negara. Sebuah hak yang bermakna kehormatan paling suci, luhur dan mulia bagi setiap warga negara.

Satu bukti akan padunya semangat/tekad. Padunya antara penguasa dengan rakyat. Atasan dengan bawahan. Maknanya sinyal positip luar biasa. Menguatkan moril - menggandakan kemampuan. Menerjang terjang merebut sasaran.

Sun Tzu - dalam Bukunya, Art Of War - Seni Berperang - menulis. "Kemanunggalan atau kesamaan keinginan/hasrat, antara penguasa dengan rakyat, antara atasan dengan bawahan, adalah kemenangan".

Hanya saja - maaf - yang satu ini belum ada surveinya. Bagaimana, media massa? Televisi, radio dan surat kabar? Apakah - secara massif - sudah ambil bagian? Menggelorakan semangat 45? Menggemakan lagu-lagu perjuangan? Maju Tak Gentar, Halo-halo Bandung, Padamu Negeri, Butet, Caping Gunung, dan lain-lain.

Diplomasi Si Vis Pacem

Carl Von Clausewitz, dalam Bukunya, On War - Tentang Perang - menulis. "Perang adalah kelanjutan dari politik" atau "Perang adalah kebijakan (politik) dengan cara atau dalam bentuk lain".

Itu berarti, (keputusan) tentang perang, sama penting dan populernya, dengan (keputusan), diplomasi, damai, ekonomi, sosial budaya, serta lain-lainnya.

Entah, apa yang merasukimu, Cina? Hingga kau begitu gegabah berdiplomasi dengan bentuk dan cara yang lain itu? Kenapa melakukan provokasi untuk perang melawan Natuna?

Sesungguhnya, inti pertanyaannya bukan itu. Tapi "akankah Indonesia dan Cina bakal terjebak pada adagium, ‘si vis pacem para bellum’? Berkecamuk dalam pertempuran?

Jika konflik ini - juga yang lain - tidak dikelola dengan baik, segalanya bisa terjadi. Indonesia dan Cina sangat mungkin terjerumus ke dalam simalakama ini.

Sikap bangsa Indonesia sudah jelas. Baik dari amanat konstitusi maupun dari falsafah dan doktrin perangnya. "Indonesia cinta damai tapi lebih cinta kemerdekaan dan kedaulatan. Perang adalah jalan terakhir yang amat terpaksa dilakukan.

Dalam konteks spirit moralitas dan konstitusional, tentu Indonesia lebih memilih si vis pacem. Damba dan berperan aktif dalam mewujudkan perdamaian abadi antar bangsa di muka bumi. Hidup rukun berdampingan. Tanpa konflik dan kekerasan.

Tentu, para bellum, tidak diabaikan. Secara kenyal, terus diperkuat semaksimal mungkin. Dikembangkan sedemikian rupa. Untuk apa? Diabdikan demi menjaga aset/kekayaan negara. Melindungi kemerdekan dan kedaulatan bangsa. Melindungi segenap tumpah darah Indonesia.

Akan tetapi, sekali lagi akan tetapi. Bagi Cina mungkin lain lagi. Mungkin, justru sebaliknya. Cina lagi bernafsu unjuk gigi, lalu sengaja membaliknya. Si vis pacem para bellum, dibalik menjadi si vis bellum para pacem. "Siapa yang mendambakan perang, dialah yang sejatinya siap/cinta damai".

Haaaah ....

Dalil - si vis pacem para bellum - memang simalakama. Masing-masing - damai dan konflik/perang - sama-sama menghadirkan struktur resiko yang tak berujung. Saling berkait dan berkelindan. Membentuk lingkaran setan.

Juga misterius. Pasalnya, tidak jelas siapa yang pertama menemukan? Namun, banyak yang meyakini bahwa peribahasa si vis pacem para bellum dikutip dari penulis militer Romawi. Adalah Publius Flavius Vegetius Renatus yang menulis. "Igitur qui desiderat pacem, praeparet bellum".

Perang & Tempur

Perang disebut juga war. Bersifat totalitas. Sejak tahap perencanaan kampanye militer dan dinamika operasi (tempur) hingga tahap konsolidasi atau pengakhiran.

Sedangkan tempur atau pertempuran, disebut juga dengan battle. Inti atau bagian utama dan terpenting dari "Perang".

Tempur/Pertempuran, merupakan perjumpaan fisik dua pihak yang berseteru secara frontal, sesuai taktik dan strategi.

Pertempuran bisa dalam hubungan perorangan. Tapi juga bisa secara konvensional dalam hubungan satuan/pasukan: Regu, Peleton, Kompi, Batalyon, Brigade dan Divisi.

Daya Tempur Relatif

Dalam Perang, dikenal istilah perbandingan daya tempur relatif.

Asassement atau otak-atik teknis, taktis dan strategis untuk mengetahui kekuatan dan kemampuan lawan. Dihadapkan pada kekuatan dan kemampuan sendiri.

Sun Tzu - memberi wasiat bernas. "Kenali musuhmu, kenali dirimu sendiri. Maka kau bisa berjuang dalam 100 pertempuran, tanpa resiko kalah. Kenali Bumi, kenali Langit, maka kemenanganmu, menjadi lengkap/sempurna".

Dari analisis itu dapat ditentukan, bagaimana susunan bertempur serta taktik dan strategi, yang akan digunakan? Paling utama adalah bagaimana mengetahui secara meyakinkan. Sejauh mana tebal/kuat dan tipis/lemahnya hasrat/niat bertempur dari musuh?

Ingat dan catat. Level, kadar dan derajat niat (berperang/bertempur) menentukan 50% kemenangan. Sisanya, kemenangan ditentukan oleh perencanaan perang atau konsep operasi yang cerdas, komprehensif dan berwawasan.

Sama sekali jangan diabaikan. Faktor kepemimpinan politik  atau militer yang berintegritas, berkomitmen, konsisten dan visioner.

Perhatikan nasehat, Sun Tzu. "Sang Jenderal (Panglima, Komandan, Perwira) yang mampu dan sang Raja (Presiden, Menteri Pertahanan) yang tidak campur tangan adalah kemenangan".

Sementara Jenderal Besar AH. Nasution mengatakan, "Jenderal sejati adalah dia yang mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat di saat kritis/darurat".

Amat Njomplang

Dalam konteks provokasi Cina di laut Natuna Utara, perbandingan daya tempur relatif kedua belah pihak - RI versus Cina - amat njomplang.

Statistik menunjukkan, kekuatan militer Cina berada di urutan nomor 2 dunia setelah Amerika Serikat (AS) atau nomor 3 setelah AS dan Rusia. Sementara Indonesia, berada pada posisi ke 37 dunia.

Jika dikonfigurasikan, kurang-lebih seperti ini :

Pertama, Kekuatan Militer

Baik kualitas, kuantitas dan kapasitas Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) maupun jumlah personil militernya - secara relatif - "Indonesia kalah jauh" dibanding Cina.

Jika boleh diutarakan, indikasi lain tentang kisah "kalah" itu, sebagai berikut :

(1) Pernyataan Jenderal TNI Prabowo Subianto (PS). Capres 2019 nomor urut 02. Pada debat Capres putaran pertama sesi keempat tentang Pertahanan Negara.

PS berujar, "Pertahanan kita masih lemah. Pertahanan kita harus kuat. Militer/TNI harus kuat. Bukan untuk invasi atau perang. Tapi untuk melindungi kekayaan negara dan kedaulatan bangsa".

Saat itu, PS - sekarang menjabat Menteri Pertahanan (Menhan), tidak ketinggalan menyitir "mantra dilematis", "si vis pacem para bellum".

(2) Pernyataan (mantan) Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantio.

Jenderal Gatot berkata, "Jika dihadapkan pada perang, (Alutsista) kita hanya mampu bertahan selama tiga hari".

Dari data di atas, apa yang mesti dikatakan? Logika lurusnya hanya menyediakan satu jawaban yang amat jujur, "TNI/Indonesia pasti kalah," dalam pertempuran melawan Cina.

Kedua, Kekuatan non-militer/non Teknis

Kemenangan perang/tempur tidak hanya ditentukan oleh faktor teknis kemiliteran atau Alutsista dan jumlah personil militer semata.

Keberhasilan perang/tempur juga ditentukan oleh nilai-nilai yang bersifat non teknis, nilai-nilai psikologis-spiritual.

Di sini berhitung tentang empat faktor atau nilai utama nan mulia. Kepemimpinan, militansi (termasuk spirit, kejuangan dan dedikasi), serta disiplin dan loyalitas.

Indonesia Menang

Pengalaman membuktikan, perjuangan fisik menegakkan kemerdekaan menjadi monumen kemenangan abadi. Kemenangan maha dahsyat dan legendaris bagi NKRI.

Sejarah mencatat, pada hakekatnya, keempat nilai spiritual tersebut menjadi kunci penentu yang sesungguhnya dari setiap kemenangan, dalam setiap episoda dan palagan perang/pertempuran yang dilakoni Indonesia.

Nilai-nilai spiritual itulah "batu bangun" dalam merancang kualitas militer Indonesia menjadi "fondasi tradisi pembinaan" secara turun-temurun. Dari generasi ke generasi. Dari masa ke masa.

Namun demikian, keburu nafsu tidak ada manfaatnya. Sabar sedikit ya, bro ... Sebab, perang itu, tidak/belum tentu terjadi. Setidaknya, FainsyaAllah dalam waktu dekat ini.

Sesuai khitthah NKRI, diplomasi akan digeber habis-habisan. Bukan diplomasi sempit, tentang UNCLOS, tapi diplomasi besar tentang "persahabatan dan perdamaian". Diplomasi untuk mengurangi - dan jika mungkin meniadakan sama sekali - "niat/hasrat berperang" - dari pihak Cina.

Dari kacamata intelijen (strategis) memang belum tentu segaris atau linear. Apa yang tampak dan ada di permukaan belum tentu terhubung dengan apa yang tidak tampak atau ada di balik layar.

Bukan sesuatu yang mustahil jika Cina sekadar bermain api dengan menerobos masalah amat sensitif itu. Natuna Complex. Sekadar iseng-iseng berhadiah.

Siapa tahu, Indonesia terpancing. Byar ... ambyar ... Siapa tahu, Cina hanya belanja masalah untuk  pemanasan atau test case guna mengetahui reaksi global dan tentunya Indonesia sendiri.

Di atas segalanya, provokasi itu juga bentuk kecerdasan. Cina - secara relatif - menjadi tahu benar luar-dalam isi perut dan dapur Indonesia. Bahkan boleh jadi "Cina lebih tahu dari Indonesia sendiri".

Bukankah secara ekonomi,  jarum neraka berupa hutang dan investasi  konon sudah membelenggu Indonesia? Kini, giliran kekuatan pertahanan RI yang dicoba. Teorinya amat sederhana, "mana ada yang ekonominya saja hutang bisa membangun kekuatan pertahanan?”.

Dari sanalah, Cina melakukan "survei keras" untuk emastikan ajaran dari suhu dan moyangnya, Sun Tzu.

"Mengetahui kapan suatu bangsa/negara dapat atau tidak dapat bertempur adalah kemenangan".

Penulis: Brigjen TNI (Purn) Drs. Aziz Ahmadi, M.Sc

Menko PMK: Sinergitas Penanganan Banjir 3 Provinsi Berjalan Baik

Halaman: