logo


Program Pranikah Dianggap Mempersulit, Menko PMK: Justru Kita Memperlancar

berikut penjelasannya

22 Desember 2019 05:54 WIB

Muhadjir Effendy
Muhadjir Effendy jitunews

BANDUNG, JITUNEWS.COM - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyatakan program kursus pranikah bertujuan untuk mencegah munculnya keluarga miskin baru. Lebih dari itu, kebijakan pun dianggap sebagai solusi untuk menekan kemungkinan stunting pada bayi.

Tercatat saat ini jumlah keluarga miskin sebanyak 57 juta keluarga dimana lebih dari 90 persen termasuk kategori sangat miskin. Menko PMK menilai jumlah ini akan terus bertambah jika tidak dilakukan pencegahan melalui kebijakan strategis.

"Konyolnya ini kalau yang miskin cari jodoh yang miskin juga kemudian menciptakan keluarga miskin baru. Dan itu di lapangan sudah terbukti. Jarang orang kaya cari menantu dari orang miskin. Atau yang miskin cari yang kaya tidak mungkin," ucap dia di Bandung, Sabtu (21/12).


Menko PMK Apresiasi Peran Perempuan dalam Pembangunan Bangsa

"Ini harus dipotong, kalau tidak dipotong akan menggila ini jumlahnya keluarga miskin," ia melanjutkan.

Muhadjir mengungkap bahwa setiap tahun ada sedikitnya 2,5 juta jumlah perkawinan yang terjadi di Indonesia. Melalui program kursus pranikah, calon pengantin akan dianalisa tentang semua aspek, termasuk peluang dari segi ekonomi yakni dengan diberikan pelatihan keterampilan, kartu prakerja hingga fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR).

"Kalau nanti ada pasangan yang punya potensi miskin itu, belum memiliki keterampilan, keahlian, maka dia bisa mendapatkan fasilitas namanya kartu pra kerja khusus calon pengantin," terang dia.

"Kemudian untuk calon pengantin yang belum memiliki penghasilan tetap, maka didorong menjadi wiraswasta. Kemudian dapat akses KUR khusus pengantin," katanya.

Atas dasar tersebut, Muhadjir Effendy menyanggah dugaan bahwa pemerintah mempersulit pasangan yang akan menikah.

"Justru kita memperlancar. Paling tidak memastikan mereka tidak akan salah dalam membangun keluarga itu," imbuhnya.

Selain itu, kebijakannya ini juga dianggap mampu untuk menekan kasus bayi stunting yang saat ini mencapai 27,4 persen. Pasalnya, lewat program pranikah, calon pasangan suami istri akan diberi pemahaman untuk menjaga kesehatan alat reproduksi dan pemenuhan gizi bayi sejak dalam kandungan.

"Calon rumah tangga baru harus diberi bekal, bukan hanya keagamaan tapi tentang kesehatan reproduksi menghindari generasi yang hilang ya. Itu begitu anak stunting," pungkasnya.

Rakornas dan Anugerah Revolusi Mental, Menko PMK: Revolusi Mental Hanyalah Tema

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia
 
xxx bf videos xnxx video hd free porn free sex