logo


Soal Penyerangan KKB Papua Terhadap TNI, Filep Wamafma: Mereka Harus Duduk dan Bicara dari Hati ke Hati

Simak berita selengkapnya

19 Desember 2019 15:15 WIB

Radar Sorong News

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ketua Pansus Papua DPD RI, Filep Wamafma mengaku prihatin dengan adanya aksi penyerangan yang diduga dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap Satgas TNI yang sedang bertugas.

Diketahui adanya penyerangan, dua personel TNI dari Nanggala 15, yaitu Lettu Inf. Erizal Zuhri Sidabutar dan Serda Rizky meninggal dunia, setelah sempat dirawat akibat terkena tembakan.

“Hari Selasa tanggal 17 Desember 2019 merupakan hari yang menyedihkan karena terjadi kontak senjata antara sekelompok orang yang diduga Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menyerang Satgas TNI yang sedang bertugas,” ujar Filep Wamafma di Jakarta, Kamis (19/12).


Wah! Kota Ini Sudah Wajibkan Bimwin, Tak Ikut Berarti Tak Dapat Surat Nikah

Filep mengatakan peristiwa ini sangat mengejutkan tim Pansus Papua DPD RI yang sedang bekerja giat untuk menciptakan perdamaian di Tanah Papua.

“Pansus Papua, pertama-tama menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa yang mendalam atas gugurnya para personel TNI tersebut, seraya berharap agar peristiwa serupa tidak terulang lagi,” kata dia.

Filep menyebut peristiwa penyerangan semacam ini bukanlah sekali dua kali terjadi di daerah rawan konflik semacam Intan Jaya.

Menurutnya, perulangan berbagai peristiwa ini seharusnya membuka mata berbagai pihak bahwa semua persoalan di Papua harus segera diselesaikan.

“Persoalan semacam ini juga sejatinya membuka hati nurani semua orang bahwa nuansa kebencian sedang berakar dan berkembang di Tanah Papua. Mengapa demikian?” terang Filep.

“Konflik yang terjadi, sesungguhnya merupakan letupan-letupan dendam akibat saling menyerang, saling menuding kesalahan, saling mempertahankan ego, baik pihak pemerintan maupun pihak KKB,” sambungnya.

Filep berpendapat dalam keadaan semacam ini, pendekatan-pendekatan berkarakter militeristik sudah sepantasnya ditinggalkan, demikian juga halnya perlawanan yang bernuansa militer.

“Ini berarti, ada kepentingan lain yang lebih besar yang harus dilindungi, yaitu masyarakat sipil yang tidak ingin wilayahnya menjadi ajang pertumpahan darah, atau bahkan menyaksikan sendiri adanya pertempuran antara saudara sebangsa,” nilainya.

Demi kedamaian rakyat sipil, menurut dia, kedua belah pihak baik TNI dan KKB perlu menahan diri untuk memikirkan langkah-langkah konstruktif kooperatif sehingga kedamaian di Papua dapat dirasakan.

“Sesungguhnya tidak mudah mendudukkan singa dan harimau pada satu meja, kecuali kepada keduanya dihadirkan santapan yang sama lezatnya,” tandas Filep.

“Meskipun tidak mudah, negara harus memastikan bahwa baik TNI maupun KKB harus duduk bersama dan bicara dari hati ke hati, tentang masa depan anak-anak Papua, tentang kedamaian yang seharusnya dirasakan di Papua,” pungkasnya.

Nikmati Malam di Tarakan, Presiden Jokowi Cicipi Sambal Buatan Gubernur Kaltara

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Iskandar