logo


Gejolak Masyarakat Multidimensional

Simak berita selengkapnya

13 Desember 2019 17:19 WIB

Bimo Laksono Mahardika ( Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta )
Bimo Laksono Mahardika ( Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta )
dibaca 277 x

GEJOLAK MASYARAKAT MULTIDIMENSIONAL

 

Berbagai problema yang terjadi masa kini di Indonesia kian kompleks, mengkritisi lebih spesifik terkait dengan realita sosial serta dinamika yang ada saat ini , mulai hilangnya orang-orang yang memiliki kemampuan berbangsa yang baik , budaya konservatif para pendiri bangsa yang telah tercipta seakan mulai luntur bangsa yang besar ini memerlukan sebuah pemikiran yang revolusioner agar cita cita dari bangsa Indonesia dapat terwujud. Proses pembangunan yang dilaksanakan guna mendapatkan bentuk perubahan sosial yang tepat kiranya adalah  suatu upaya yang menentukan sebuah konsep penentuan nasib suatu bangsa . Masyarakat dengan pembangunan butuh penentuan nasib sendiri,kebutuhan dasar manusia,kelangsungan hidup dan pembangunan berdasarkan pertimbangan lain yang bersifat lokal .


Saudi Terapkan Visa Berbayar, Kemenag: Tolong Disosialisasikan Kepada Jamaah Haji dan Umroh

Krisis tidak lagi tumbuh akibat kesenjangan masalah ekonomi antara kelompok masyarakat kaya dan miskin , tetapi telah berkembang sangat kompleks antara benturan – benturan yang bersifat agama,etnis ( racial ) dan kedaerahan . Di Indonesia , permasalahan yang paling mendasar adalah mispersepsi  konservatif yang terlalu sempit sehingga membuat banyak orang hanya mengaitkan konservatif dengan sikap-sikap yang mengarah ke konteks intoleransi dan primordialisme. Konflik masyarakat serupa ini terjadi hampir di semua bentuk masyarakat dunia, ditingkat lokal muncul semangat demokratisasi yang semakin mengkristal dengan basis kekuatan etnik budaya dan budaya lokal yang sangat beragam ( Huntington, 1991 ) .

Kemajemukan ideologi masyarakat Indonesia yang menekankan pada keanekaragaman suku bangsa tidak mungkin mewujudkan masyarakat sipil yang demokratis . Untuk mencapai tujuan proses-proses demokratisasi yang sedang di jalani di Indonesia itu perlu pemahaman terkait dengan ideologi keanekaragaman atau multikulturalisme . Indonesia adalah sebuah masyarakat majemuk , yaitu sebuah masyarakat negara yang terdiri atas warga agama,warga budaya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dipaksa untuk bersatu dibawah kekuasaan sebuah ssstem nasional ,yang menjadi ciri dari kemajemukan masyarakat indonesia ialah lebih menekankan kepada pentingnya kesukubangsaan yang terwujud dalam kelompok-kelompok suku bangsa, dan digunakannya kesukubangsaan tadi sebagai acuan utama bagi seorang individu ,sentiment-sentimen semacam  inilah yang mempunyai potensi pemecah belah dan penghancuran diantara sesame bangsa Indonesia . Potensi yang dimiliki dapat dimanipulasi secara social dan politik sebagai pemecah belah dan anti demokrasi itu antara lain karena masyarakat majemuk mengahasilkan batas-batas suku bangsa yang didasari stereo-type dan prasangka ,yang menghasilkan penjenjangan sosial secara primordial yang subjektif .

Sampai saat ini diketahui bahwa demokrasi hanya mungkin dapat berkembang dan hidup dalam sebuah tatanan masyarakat sipil yang terbuka ,yang warganya memiliki rasa toleransi terhadap perbedaan-perbedaan dalam bentuk apapun , karena adanya kesetaraan dalam derajad kemanusiaan yang saling menghormati ,yang diatur dalam sebuah peraturan-peratuan hukum yang bersifat adil dan beradab yang mendorong kemajuan dan menjamin kesejahteraan hidup warga negaranya . Kesetaraan derajad individu yang meniadakan sebuah hierarki atau jenjang sosial ( stratifikasi ) yang menempel berdasarkan rasial,suku bangsa,kekayaan maupun kekuasaan . Masyarakat majemuk yang menekankan keanekaragaman suku bangsa sudah sepatutnya dikaji ulang untuk digeser penekanannya pada keanekaragaman kebudayaan ,yang harus mencakup tidak hanya kebudayaan suku bangsa ,tetapi juga berbagai kebudayaan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat setempat di Indonesia ,harus dibarengi dengan tindakan yang bijaksana dalam melaksanakan politik nasional yang akan meletakkan berbagai budaya itu dalam kondisi kesetaraan derajat . Sehingga nantinya diharapkan tidak aka nada lagi suku bangsa yang merasa lebih tinggi atau merasa paling terpuruk dan tidak berguna , karena tidak ada lagi jenjang sosial asal suku bangsa yang bersangkutan , seharusnya dengan keanekaragaman suku bangsa yang dimilki bisa ini digunakan untuk mengikat dan menjembatani warga negaranya untuk mengakomodasi perbedaan-perbedaan ,termasuk perbedaan suku bangsa ,etnis dalam masyarakat,perbedaan itu harus dipahami dalam wadah-wadah yang bersifat transparan sehingga diketahui oleh umum ,sehingga dalam ruang publik yang diketahui oleh banyak orang tidak terlihat lagi adanya budaya yang dominan,kemudian perlu adanya revitalisasi dan reaktualisasi pendidikan kewargaan berbasis Pancasila.Pancasila disini sangat berperan sebagai pengatur lalu lintas berbagai ideologi yang ada agar tidak saling bertabrakan ,  dan juga sebagai sebuah sistem nilai, sistem pengetahuan, dan sistem perilaku bersama bangsa secara keseluruhan diharapkan dapat membentuk lingkungan sosial yang membuat disposisi karakter perseorangan berkembang ke arah yang lebih baik.

 

 

 

Ditulis oleh: Bimo Laksono Mahardika

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Identifikasi 7 Tantangan Industri, Agus Gumiwang: Solusinya Tidak Bisa Hanya dari Kemenperin

Halaman: 
Admin : Trisna Susilowati