logo


Sistem Zonasi Sekolah Diubah, Nadiem Makarim: Nggak Semua Daerah Itu Siap untuk Suatu Policy Zonasi

berikut penjelasannya

11 Desember 2019 14:50 WIB

nadiem makarim
nadiem makarim sangpengajar.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, berencana untuk melonggarkan sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru. Kelonggaran tersebut mengacu kepada perubahan komposisi kuota sehingga siswa berprestasi leluasa dalam memilih sekolah favorit.

"Kami sadar, nggak semua daerah itu siap untuk suatu policy zonasi yang sangat rigid (kaku)," kata Nadiem di Rapat Koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (11/12).

"Jadi arahan kebijakan ke depannya adalah sedikit kelonggaran kita memberikan di zonasi. Yang tadinya prestasi 15% sekarang jalur prestasi kami perbolehkan sampai 30%. Jadi bagi orang tua yang sangat semangat mem-push anaknya untuk mendapatkan angka-angka yang baik untuk mendapatkan prestasi yang baik, inilah menjadi kesempatan untuk mereka untuk mencapai sekolah yang mereka inginkan," tegas Nadiem.


UN Dihapus, Nadiem Makarim: USBN Itu Akan Diganti

Dalam kesempatan tersebut Nadiem Makarim menyampaikan jika sebelumnya kebijakan zonasi mengalokasikan 80% untuk siswa yang tinggal sekitar zona sekolah, kini Nadiem akan menurunkan alokasi tersebut menjadi 50%. Sedangkan kuota untuk jalur afirmasi bagi pemegang Kartu Indonesia Pintar tetap 15% sementara kuota untuk jalur perpindahan domisili orang tua juga tidak diubah dan tetap 5%.

Berikut kebijakan kuota sistem zonasi sekolah yang dicanangkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim:

50% untuk jalur zonasi
30% untuk jalur prestasi
15% untuk jalur afirmasi
5% untuk jalur perpindahan domisili orang tua.

Lebih lanjut, nadiem menilai kebijakan zonasi seharusnya mampu memberi kemerdekaan bagi siswa untuk menentukan sekolah favoritnya.

"Zonasi masih bisa mengakomodir anak-anak berprestasi. Kita memberi langkah pertama kemerdekaan belajar di Indonesia," kata Nadiem.

UN dan USBN Diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survey Karakter, Apa Itu?

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia