logo


Rilis Indeks Kerukunan Umat Beragama, Menag: Kerukunan Beragama di Indonesia Tinggi

Simak ulasan selengkapnya

11 Desember 2019 11:48 WIB

Menteri Agama Fachrul Razi bersama Kepala Badan Litbang dan Diklat Abdurrahman Masud saat mengeluarkan hasil Indeks Kerukunan Umat Beragama 2019 (11/12)
Menteri Agama Fachrul Razi bersama Kepala Badan Litbang dan Diklat Abdurrahman Masud saat mengeluarkan hasil Indeks Kerukunan Umat Beragama 2019 (11/12) dok. Jitunews/Nurman

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kementerian Agama (Kemenag) mengeluarkan hasil survei terkait Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) 2019. Kemenag mengumumkan hasil dari survei tersebut yang menyimpulkan kerukunan umat beragama di Indonesia tergolong tinggi yaitua dengan skor rata-rata nasional menunjukan 73,83 dari rentang 0-100.

Menteri Agama Fachrul Razi menyabut gembira dengan hasil skor di atas yang dapat disimpulkan bahwa rata-rata provinsi mempunyai tingkat kerukunan beragama yang tinggi. Indeks KUB 2019 ini tercatat lebih tinggi jika dibandingkan 2018 sebesar 70, namun cukup melorot jika dibandingkan 2015 sebesar 75,36.

“Tadi saya luncurkan indeks KUB, dan alhamdulillah hasilnya sangat membanggakan dan harus dipelihara,” kata Fachrul di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Rabu (11/12).


Polemik Khilafah pada Pendidikan Agama, Menag Sebut Akan Dipindahkan Bukan Dihilangkan

Penelitian diatas menggunakan tiga parameter yaitu toleransi, kesetaraan, dan kerjasama. Adapun Skor dari tiga indikator di atas yakni toleransi 72,37, kesetaraan 73,72, dan kerja sama yang cukup signifikan sebesar 75,40.

Adapun Penelitian ini menggunakan metode penarikan sampel secara berjenjang dengan margin of error (MoE) kurang lebih 4,8 persen dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

Survei dan penelitian ini melibatkan 13.600 responden yang tersebar di 34 provinsi, dan responden merupakan masyarakat Indonesia di atas 17 tahun atau yang sudah menikah.

Dari survei ini Kemenag akan melibatkan pemerintah daerah untuk mengidentifikasi faktor apa saja yang menjadi penghambat KUB. Dia juga menekankan bahwa kesuksesan kepala daerah dalam KUB di daerahnya bukan terletak dari kuantitas rumah ibadah yang terbangun.

“Tapi yang dilihat bagaimana kepala daerah itu mampu menjembatani warganya dalam KUB,” pungkasnya.

Khilafah Tetap Diajarkan, Kemenag: Nanti Disampaikan, 'Khilafah' Itu Tidak Lagi Cocok di Indonesia

Halaman: 
Penulis : Nurman Abdul Rohman, Raka Kisdiyatma