logo


Angkie: Indonesia Memiliki Harapan Besar dalam Isu Perempuan Disabilitas

Simak berita selengkapnya

6 Desember 2019 12:08 WIB

Staf Khusus Presiden dan Juru Bicara Presiden bidang Sosial Angkie Yudistia hadir dalam Dialog Regional ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) 2019 yang berlangsung di Bangkok, 3-5 Desember 2019 dengan mengambil tema ‘Empowering Persons with Disabilities with Marginalized Gender Identities and Expressions to Participate in Political and Public Life’
Staf Khusus Presiden dan Juru Bicara Presiden bidang Sosial Angkie Yudistia hadir dalam Dialog Regional ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) 2019 yang berlangsung di Bangkok, 3-5 Desember 2019 dengan mengambil tema ‘Empowering Persons with Disabilities with Marginalized Gender Identities and Expressions to Participate in Political and Public Life’ Istimewa

Negara-negara ASEAN juga diharapkan dapat lebih melibatkan perempuan disabilitas dan rekan-rekan lainnya untuk aktif dalam partai politik, serta memberdayakan mereka sebagai peserta aktif dalam pengambilan keputusan dan meningkatkan visibilitas lahirnya para pemimpin dari kelompok disabilitas.

Untuk itu, perlu pemahaman bersama guna menghilangkan berbagai penghalang dan menciptakan peluang terkait partisipasi politik penyandang disabilitas dengan beragam identitas sosial, seperti jenis kelamin, etnis, usia, dan status migrasi.

“Kita juga diminta untuk menciptakan platform untuk berbagi pengalaman terutama untuk perempuan dengan disabilitas dan kelompok termarjinalkan lain, sehingga dapat mengembangkan keterampilan untuk meningkatkan partisipasi politik serta mempengaruhi kebijakan publik,” tegas pendiri ‘Thisable Enterprise’, sebuah wadah bagi para penyandang disabilitas untuk mengembangkan kelebihannya, sehingga bisa mendapat pekerjaan dan berkarya sebagaimana warga negara lainnya.


Presiden Jokowi Tugaskan 'Stafsus Milenial' Garap Kartu Pra Kerja

Angkie mengaku, tidak mudah mewujudkan berbagai catatan dari pertemuan nan amat menginspirasi itu.

“Saya harus akui, banyak program sudah dibuat, tapi hasilnya masih tetap saja sulit. Saya berharap, perempuan disabilitas sebaiknya berdaya, dalam hal apapun. Tidak harus bekerja full time, tapi setidaknya ekonomi keluarga tidak bertumpu pada satu pemasukan,” ungkapnya.

Angkie menyinggung soal permasalahan gaji yang diterima disabilitas masih jauh untuk disamakan dengan pekerja lain. “Ya, ini karena pendidikan disabilitas yang berbeda dengan para pekerja lainnya,” katanya.

Satu hal membuat Angkie begitu terkesima, saat ia mengamati, dari sekian banyak tokoh dan pemimpin disabilitas yang hadir di Bangkok itu, tepat duduk di sebelahnya seorang perempuan netra.

“Wow, kemampuan mengetiknya cepet bener walaupun tidak melihat. Keren juga yaaah!” pungkasnya.

Rocky Gerung Sebut Jokowi Tak Paham Pancasila, Stafsus Presiden: Pada Akhirnya Publik Akan Bisa Menilai

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata