logo


Sesuaikan Kebutuhan Program Pemerintah, TNI Lakukan Pengembangan Organisasi

Simak berita selengkapnya

4 Desember 2019 16:48 WIB

Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, saat menutup Pendidikan Reguler ke-46 Sesko TNI TA 2019, di Gedung Sarasan Sesko TNI, Bandung, Rabu (4/12/2019).
Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, saat menutup Pendidikan Reguler ke-46 Sesko TNI TA 2019, di Gedung Sarasan Sesko TNI, Bandung, Rabu (4/12/2019). Puspen TNI

BANDUNG, JITUNEWS.COM - Dalam mewujudkan postur organisasi yang adaptif atau mampu menyesuaikan keadaan, TNI telah melaksanakan pengembangan organisasi sesuai kebutuhan dan disesuaikan dengan Program Pemerintah.

Dibutuhkan organisasi TNI yang adaptif dan mampu bersinergi secara lebih erat dan lebih luas dengan berbagai komponen bangsa, seperti Polri, Lembaga-lembaga Pemerintah maupun non-Pemerintah, Lembaga Kemasyarakatan, serta organisasi-organisasi Kepemudaan.

Demikian disampaikan Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, saat menutup Pendidikan Reguler ke-46 Sesko TNI TA 2019, yang diikuti 152 Perwira Siswa terdiri dari TNI AD 67 orang, TNI AL 40 orang, TNI AU 26 orang, Polri 12 orang dan Siswa Mancanegara 7 orang, bertempat di Gedung Sarasan Sesko TNI, Bandung, Rabu (4/12/2019).


Pemerintah Malaysia dan Filipina Dinilai Lamban, Anggota DPR: Biarkan TNI yang Menyelesaikan Kasus Penculikan

Visi pemerintah dalam lima tahun mendatang adalah meneruskan pembangunan infrastruktur, penyiapan sumber daya manusia, investasi seluas-luasnya, reformasi birokrasi, dan penggunaan APBN secara tepat. “Kelima poin tersebut sejatinya sangat berkelindan dengan pembangunan TNI,” kata Hadi.

“Sesuai dengan 11 Program Prioritas yang saya tetapkan, TNI telah melaksanakan validasi organisasi yang dituangkan dalam Perpres No. 66 tahun 2019. Organisasi-organisasi Staf dan Komando mengalami pengembangan untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) dibentuk untuk membagi tugas-tugas TNI berdasarkan ruang lingkup geografis. Kogabwilhan juga menjadi Komando gabungan permanen yang mengisi kekosongan dalam doktrin Proses Pengambilan Keputusan Militer (PPKM),” jelasnya.

Menurut Hadi Tjahjanto, seluruh dimensi terlibat dan harus diorkestrasi dengan baik supaya dapat bersinergi dan memperoleh keberhasilan yang tinggi.

“Saya yakin operasi-operasi yang bersifat multi dimensi tersebut akan semakin menjadi kebutuhan di masa mendatang, baik dalam konteks Operasi Militer Untuk Perang (OMP) ataupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP),” katanya.

Ia mengingatkan bahwa dalam melaksanakan tugas-tugas negara, TNI maupun Lembaga atau organisasi lainnya tidak bekerja sendiri-sendiri. Saat ini kegiatan operasi yang bersifat multi dimensi menjadi hal sangat mengemuka.

“Dalam upaya mengatasi permasalahan, Negara tidak membebankan tugas pada satu instansi saja. Satu persoalan dapat melibatkan berbagai dimensi kelembagaan untuk dapat menjawab dan menuntaskan persoalan tersebut,” tutupnya.

Menhan Prabowo: Tingkatkan Industri Pertahanan, Menggandeng Swasta

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata