logo


Jadi Jenderal Gara-gara Ditolak oleh Mendikbud, Ini Kisah Suharno

Simak ulasan selengkapnya

27 November 2019 10:15 WIB

Ketua Umum Partai Republik, Mayjen TNI (Purn) DR. Ir. Suharno Prawiro.
Ketua Umum Partai Republik, Mayjen TNI (Purn) DR. Ir. Suharno Prawiro. Jitunews/Latiko A.D

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Mayjen TNI (Purn) Suharno merupakan mantan Kepala Badan Perbekalan TNI tahun 2011-2013 dan jabatan terakhir sebagai Perwira Staff Ahli Tk. III, Bid. Polkamnas, Panglima TNI, 2013 dan Ketua Desk Papua.

Sebelum masuk ke militer, Suharno pernah mendapatkan penolakan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) ketika menyampaikan ide dan gagasan. Ide Suharno ditolak karena dianggap bisa memicu demonstrasi.

Ceritanya begini, pada tahun 1977, Suharno diterima sebagai mahasiswa IPB dengan bebas tes (PMDK). Suharno merasa berat meninggalkan kampung halamannya tercinta, Jetis, Karanganyar. Apalagi ia juga meninggalkan ibunda tercinta yang mulai sakit dan kondisi kesehatannya semakin menurun.


Semangatnya "Menular" pada Sang Anak, Musannif Ryacudu Pernah Lakukan Ini!

Selama berada di Bogor, Suharno khawatir dengan kesehatan ibunya. Untuk menghilangkan rasa rindunya terhadap keluarga, Suharno memilih aktif di berbagai kegiatan kampus.

“Untuk sedikit menghilangkan rasa kerinduan, saya mencoba aktif di berbagai kegiatan kampus, seperti mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) HMI mempererat silaturahmi sesama mahasiswa seangkatan dan kakak-kakak angkatan. Bermanfaat sekali mendapat bimbingan belajar oleh kakak-kakak angkatan. Melatih berorganisasi, keberanian menyampaikan ide-ide, gagasan-gagasan lisan maupun tertulis,” ujar Suharno, Rabu (27/11).

Kemudian, ia bersama teman seangkatannya, Rochman Damhuri, menjadi pengurus Lembaga Pertanian Mahasiswa Islam HMI. Kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian jurusan Teknologi Hasil Pertanian/ (Pangan dan lndustri).

Hampir setiap hari, Suharno kegiatannya kuliah dan praktikum di laboratorium. Ia kemudian memiliki ide, laboratorium pengolahan pangan pada hari libur dipakai praktek mahasiswa untuk produksi dan dijual ke pasar umum. Maka para mahasiswa bisa berlatih produksi, pemasaran, keuangan, dan memimpin perusahaan.

Ide tersebut kemudian disampaikan pada kampaye pemilihan Ketua Umum lkatan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (IMALOSITA) IPB TA 1980/1981. Mendapat sambutan yang baik, Suharno terpilih menjadi Ketua Umum IMALOSITA IPBS 1980/1981.

Ia lalu mendirikan Industri Mini IMALOSITA yang digunakan sebagai tempat latihan usaha/bisnis mahasiswa agar mendapatkan uang. Dalam Seminar Nasional Pemanfaatan Limbah lndustri Hasil Pertanian tahun 1981, Suharno menjadi pemenang lomba inovatif produktif mahasiswa Tingkat Jawa Barat dan Tingkat Nasional.

Suharno menyiapkan Kongres Ikatan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian/Industri/Pangan Indonesia dalam rangka menyebarluaskan ide profesional menumbuhkan jiwa wirausaha. Namun, kegiatan itu gagal karena tidak diizinkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Prof. DR. Daud Yusuf, di era Orde Baru NKK, BKK. Mendikbud khawatir kegiatan tersebut bisa menimbulkan demonstrasi.

Suharno lulus pada tahun 1982, saat itu ia bertekad ingin menjadi Jenderal.

“Jika ayahku jenderal pasti bisa menjelaskan kepada Bapak Menteri! Oleh karena itu aku harus jadi Jenderal," ucap Suharno.

Lulusan sarjana yang masuk militer bisa menduduki jabatan penting berpangkat Perwira Tinggi Bintang Tiga. Setelah lulus, Suharno mendaftarkan diri dan dinyatakan lulus seleksi test Caton Siswa Sepamilwa TA 1982/1983. Suharno kemudian dididik di Secapa AD, Hegarmanah, Bandung.

Bicara Soal Dewasa Menyikapi Persoalan, Suharno: Kalau Panutannya Ngawur Pengikutnyapun Nabrak-nabrak

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata