logo


Bersatunya Prabowo dengan Jokowi di dalam Pemerintahan, Denny JA: Politik itu Santuy

berikut penjelasannya

15 November 2019 01:31 WIB

Denny JA
Denny JA Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Denny JA selaku pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menilai bersatunya Jokowi dan Prabowo Subianto dalam pemerintahan secara tidak langsung menjadi pelajaran berbagai kalangan agar berpolitik secara santai.

"Kita tahu betapa Pilpres 2019 diwarnai dengan pembelahan politik yang mungkin paling keras dalam sejarah pemilu di Indonesia," katanya, di Jakarta, Rabu (13/11).

Hal tersebut ia sampaikan di sela penyampaian press release hasil survei terkait turunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara.


Jokowi: "Infrastruktur Adalah Tahapan Besar Agar Negara Bisa Maju..."

Denny mengungkapkan jika pembelahan politik terjadi begitu kuat hingga menyebabkan banyak komunitas menjadi terbelah. Bahkan, data KPU mencatat provinsi dengan dominasi agama minoritas telah memenangkan pasangan Jokowi-Ma'ruf, sementara provinsi yang didominasi muslim memenangkan Prabowo-Sandiaga Uno.

"Kita berpolitik secara keras sekali, padahal ujungnya bersatu kembali. Sekali lagi, ini hentakan bahwa dalam politik tak ada kawan atau musuh yang abadi. Yang abadi adalah kepentingan," ujarnya.

Bersatunya dua rival, yakni Jokowi dan Prabowo, lanjut Denny JA, menjadi referensi yang paling kuat untuk ajang pesta demokrasi selanjutnya agar berpolitik secara rileks.

Dirinya mengungkapkan jika LSI menemukan efek Pilpres 2019 membuat kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga negara mengalami penurunan. Hal tersebut sebagai dampak dari maraknya kampanye negatif, politisasi agama, dan penyebaran info hoaks yang sangat masif.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa di sisi lain, bersatunya dua capres setelah kontestasi Pilpres 2019 menunjukkan bahwa situasi politik di Indonesia bertambah kuat.

Gibran Menanti Anak Kedua, Kaesang: Doakan Semoga Lancar dan Saya Tambah Kaya

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia