logo


FTJ 2019 Usung Tema 'Drama Penonton', Ambisi Membongkar Dapur Penonton Teater

Simak berita selengkapnya

12 November 2019 19:49 WIB

Festival Teater Jakarta 2019
Festival Teater Jakarta 2019 Doc Jitunews

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta kembali menyelenggarakan Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019. Tema yang diangkat pada FTJ tahun ini adalah Drama Penonton.

Anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, Adinda Luthvianti, mengatakan tema Drama Penonton ini diambil dari hasil riset yang dilakukan oleh Dosen Binus Bussines School Jakarta, Sri Bramantoro Abdinagoro.

“Untuk drama penonton tahun ini, kami tertarik dengan risetnya pak Bram. Beliau punya riset atau disertasi S3 di UI tentang penonton,” ujarnya di Lobi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (12/11).


Musik Gamelan Akan Iringi Pagelaran Solo Batik Fashion 2019

“Beliau meriset penonton, jadi pertunjukan penonton tidak hanya ditampilkan di taman Ismail Marzuki tapi juga di gedung kesenian dan di banyak tempat. Pak Bram melakukan presentasi di dewan kesenian Jakarta di komite teater,” imbuhnya.

Menurut Adinda, pihaknya sangat terkejut saat Bramantoro mempresentasikan risetnya tersebut. Pasalnya, penonton teater adalah kalangan menengah dan intelektual.

“Dan kami cukup kaget antara senang dan apakah ini benar karena dari risetnya pak Bram ditemukan beberapa poin penting yang satu sisi membuat kami bersemangat karena ternyata kalangan penonton teater adalah kalangan menengah dan intelektual,” kata dia.

“Motivasinya menonton teater banyak hal, kalau penonton merasa dia terhanyut dalam cerita dalam alur peristiwa bukan hanya peristiwa, dialog atau text tapi juga visual musik dan lain sebagainya yang masuk ke dalamnya itu,”

Dalam hal ini, Adinda menambahkan bahwa tema ‘Drama Penonton’ sebagai diskursus untuk memetakan dan membuat profilling penonton teater di Jakarta.

“Dengan melepaskan diri dari rentetan pertanyaan seperti siapa itu penonton teater, apa motivasi menonton teater, apakah suka atau tidak menonton teater dan seterusnya,”

Menurutnya, FTJ kali ini lebih berambisi untuk membincangkan bagaimana caranya menjadi penonton teater.

“Isu ini dipandang menarik karena sebagai penonton teater, kita umumnya lebih dulu dibentuk oleh aktivasi menonton dan bukan menonton teater. Menonton televisi atau film tentu berbeda dengan menonton teater. Barangkali kita terpeleset dalam paradigma ‘menonton teater’ untuk mencari hiburan, bertemu aktor atau sutradara, diajak teman, atau tertarik pada grup dan venue pertunjukan,” tuturnya.

“Sebagai penonton awam, kita perlu bertransisi untuk masuk ke dalam konteks menonton teater. Setelah beberapa kali nonton, baru mulai muncul persepsi lain: sebuah apresiasi yang tidak semata-mata untuk katarsis tertawa, sedih, atau merasa terbebaskan dari tabu-tabu. Tetapi ada semacam edukasi yang tidak pedagogik, namun kreatif, yaitu sebuah pengelolaan kecerdasan dari berbagai campuran disiplin, media dan budaya,” imbuh dia.

Atas dasar itulah, kata Adinda, FTJ 2019 mengusung tema yang tampak krusial untuk membongkar dapur penonton dengan tujuan melihat motivasi, dorongan, kebutuhan, persepsi, pembelajaran dan perilaku penonton teater.

Menurutnya, selama ini FTJ cenderung berkonsentrasi pada gagasan membongkar dapur pertunjukan teater.

Dia menilai urgensi pembongkaran pasar-penonton ini bertolak dari identifikasi demografi yang dilakukan terhadap penonton teater selama pelaksanaan Djakarta Teater Platform 2019, yang menunjukkan bahwa grup-grup teater telah memiliki penonton bawaan dan spesifik.

“Pertunjukan berbasis kampus dan sekolah umumnya membawa penonton lebih besar. Hal ini memunculkan gagasan untuk menggeser penonton awam menjadi penonton yang mengerti atas kebutuhan menonton teater dengan wawasan lebih beragam dalam memandang praktik-praktik kesenian,” pungkasnya.

Melly Glow Hunt, Pelopor Ajang Pencarian Bakat Model di Indonesia

Halaman: