logo


Ekonomi Indonesia Masih Stabil, Jokowi: Kita Harus Bersyukur

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5% ditengah resesi global

12 November 2019 17:09 WIB

Presiden Jokowi di Rakornas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah 2019
Presiden Jokowi di Rakornas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah 2019 Antara

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Gejolak perekonomian dunia menuju resesi makin kentara di beberapa negara. Lihat saja Jerman Argentina Venezuela, bahkan Turki juga merasakan dampak ekonomi global.

Bukan hanya pada negara-negara tersebut yang merasakan dampak ekonomi global yang sedang terjadi bahkan Negara kita pun merasakan dampaknya. Satu yang patut disyukuri: perekonomian Indonesia bisa stabil di tengah gejolak global tersebut.

Presiden Joko Widodo menyampaikan rasa sukur itu saat memberi sambutan pada acara peringatan HUT ke-8 Partai Nasional Demokrat (NasDem) yang digelar di JI-EXPO Convention Centre, Kemayoran, Jakarta Pusat.


Jokowi Minta Mendikbud Benahi Sistem Vokasi, "Reformasi Harus Dimulai dari Hulu"

"Kita patut bersyukur alhamdulillah masih berada di posisi pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Jangan kufur nikmat. Harus kita syukuri alhamdulillah bahwa kita masih diberikan pertumbuhan ekonomi di atas lima (persen)," ujar Presiden Jokowi (11/11).

Jokowi menyebutkan negara-negara lain yang sebelumnya memiliki pertumbuhan ekonomi 5 persen, kini nyaris mendekati 0 persen. Ada juga negara yang sebelumnya tumbuh 7 persen, kini malah minus. oleh karena itu dia mengajak semua pihak untuk membenahi salah satu permasalahan ekonomi Indonesia.

"Oleh sebab itu, ini agak serius, saya mengajak kita semua untuk bersama-sama melihat betapa berpuluh tahun kita menghadapi defisit neraca transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan yang tidak bisa kita tangani secara baik," imbuhnya.

Presiden menegaskan telah mengintruksikan jajarannya untuk melihat lebih rinci dan membenahi urusan ekspor dan impor. Dengan begitu presiden berharap dafisit neraca berjalan defisit neraca perdagangan bisa dicarikan jalan keluarnya.

"Saya meyakini, apabila ada konsistensi terus menerus, saya yakin penyakit ini akan bisa kita selesaikan dalam waktu 3 sampai 4 tahun yang akan datang," tegasnya.

"Impor minyak, kurangi. Produksi minyak dalam negeri, tingkatkan. Refinery, bangun. Produksi B20, B30 sampai B100, jalankan. Jangan sekali-kali ada yang main-main dengan yang baru saja saya sampaikan," sambungnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga menegaskan bahwa dirinya tak mau Indonesia terus menerus mengimpor barang. Dia juga memperingatkan apabila ada pihak-pihak yang mencoba menghalangi usaha pemerintah untuk menyelesaikan masalah perekonomian Indonesia.

"Jangan ada yang coba-coba menghalangi saya dalam menyelesaikan masalah yang tadi saya sampaikan. Pasti akan saya gigit dengan cara saya," ungkapnya.

Pemerintah akan mengambil langkah menyederhanakan kebijakan dengan membuat omnibus law untuk Undang-Undang Cipta Lapangan Kerja yang berkaitan dengan investasi. Dikatakan akan ada 70 Undang-Undang yang nanti akan direvisi menjadi satu Undang-Undang saja. Untuk itu dia meminta dukungan semua pihak agar hal tersebut bisa terwujud.

"Ini memang belum pernah terjadi di Republik kita. Tapi ini akan kita lakukan sehingga kecepatan kita bertindak, kecepatan kita dalam memutuskan betul-betul akan didukung apabila UU yang satu ini nanti bisa kita selesaikan," tandasnya.

Siapkan Kartu Prakerja, Jokowi Tawarkan Pelatihan dari Barista Hingga Programming

Halaman: 
Penulis : Nurman Abdul Rohman