logo


Industri Permainan yang Tidak Main Main

Industri permainan atau industri game (games industry) adalah industri yang kerap dipandang sebelah mata. Pemain games seringkali dipandang bukan sebagai sebuah profesi meskipun berpenghasilan jauh lebih besar daripada pegawai kantoran pada umumnya.

28 November 2021 11:49 WIB

Ilsutasri
Ilsutasri Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Industri permainan atau industri game (games industry) adalah industri yang kerap dipandang sebelah mata. Pemain games seringkali dipandang bukan sebagai sebuah profesi meskipun berpenghasilan jauh lebih besar daripada pegawai kantoran pada umumnya. Hal ini karena kebanyakan orang tua melihat bermain games sebagai sebuah stereotype anak anak muda yang malas bekerja dan menghabiskan uang saja.

Dalam kenyataannya industri permainan adalah industri yang terus tumbuh terutama di saat pandemi. Hal ini dikarenakan banyaknya anak anak dan bahkan orang dewasa yang menghabiskan waktunya dengan bermain di hape mereka. Ketua Harian Pengurus Besar Esports Indonesia (PBESI), Bambang Sunarwibowo mengungkapkan, pendapatan industri game di Indonesia mencapai 2,08 miliar dolar AS atau Rp 30 triliun pada tahun 2021. Angka ini melonjak dari tahun 2020, di mana pendapatan industri game di Indonesia mencapai 1,1 miliar dolar AS atau Rp 15,7 triliun.

"Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pangsa pasar game asia, dan memiliki pertumbuhan tercepat selain India dan Thailand," ujar Bambang dalam pembukaan Final Eksibisi Esports PON XX Papua 2021 yang disiarkan via YouTube, Selasa (21/9/2021). Bambang melanjutkan, saat ini Indonesia memiliki 118 juta pemain game. Dari data itu, sebanyak pemain game esports tercatat berjumlah 44,2 juta orang. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa pemain game di Indonesia yang terdiri dari generasi Z di Indonesia saat ini mencapai 67 juta jiwa dan generasi milenial mencapai 62 juta jiwa.


3 Game Populer Favorit Orang Indonesia

Kampus BINUS University dan daerah sekitarnya merupakan salah satu hot spot bagi para pemain games sejak awal tahun 2000an. Hal ini didukung oleh infrastruktur TI yang baik di sekitar kampus dan populasi mahasiswa yang sangat fasih terhadap komputer menjadikan daerah Kemanggisan sebagai rujukan bagi para pemain games jika ingin bertemu dan mengadu keahlian di berbagai event yang dahulu kerap diselenggarakan di warnet di seputaran kampus.

Pada saat banyak games beralih dari web based games menjadi games yang dapat dimainkan di hape, BINUS University menangkap peluang tersebut dengan mendirikan jurusan Games Application Technology dan Mobile Application Technology di bawah Fakultas Ilmu Komputer yang banyak menarik minat calon mahasiswa untuk belajar di kedua jurusan tersebut dan mencoba mengembangkan aplikasi dan games.

Salah satu kelompok mahasiswa dari Computer Science yang terlibat dalam pembuatan games dengan mendirikan developer games bernama Kajew Developer adalah Kevin Jaya Wiguna (Kajew). Awalnya, Kajew Developer hanya membuat video pada platform youtube dengan konten “Game Developer Vlog”. Lalu, Kajew Developer mulai merambat pada platform lain seperti Tiktok dan juga Instagram. Dan pada saat namanya mulai dikenal, dia memulai untuk membuat game – game pada platform mobile. Game pertamanya yaitu “Bungee Fight” dan mendapat feedback yang positif dari penggemarnya. Setelahnya, ia terus membuat konten dan juga game – game yang nantinya dipublish di Playstore.

Pada Febuari 2021, CEO dari Kajew Developer (Kevin Jaya Wiguna) bersama temannya Cristian Winata, membuat game studio bernama Moshu Games yang lebih berfokuskan kepada pembuatan game android dengan mekanisme yang unik. Beberapa game yang dihasilkan dari Moshu Games antara lain Weakbones dan TOBS.

Coach Hans Daniel dari BINUS Incubator Kemanggisan yang mendampingi para mahasiswa ini di BINUS Incubator mengatakan bahwa telah banyak prestasi yang dicapai oleh Moshu Games diantaranya kanal Youtube yang telah mempunyai 500 ribu subscriber dan jutaan view, ratusan ribu download di Playstore untuk games ciptaan mereka, penjualan app dan bahkan kerja sama dengan publisher games asal China. “ Mendampingi Kajew Developer dalam proses inkubasi di BINUS Incubator menjadi sebuah pekerjaan yang menyenangkan karena selain sebagai coach dan dosen, saya sendiri juga merupakan seorang gamer di masa lampau. Mendampingi mereka membuat saya menjadi pribadi yang komplit, mengajar, membimbing usaha dan bermain games di saat yang bersamaan”, tutup Hans.

Kominfo, LIPI dan AGI Luncurkan Buku Peta Ekosistem Industri Game Indonesia 2020

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan