logo


Dorong Akselarasi Pembangunan Smelter Freeport, Agus Gumiwang: Kami Ingin Proyek Ini

Simak ulasan selengkapnya

30 Oktober 2019 18:00 WIB

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita Doc Jitunews

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pembangunan smelter di tanah air akan mendorong daya saing industri nasional. Saat ini pemerintah sedang melakukan sinkronisasi peraturan antara kementerian dan lembaga terkait. Salah satu upaya yang sedang digenjot adalah percepatan pengoperasian fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter PT Freeport Indonesia.

“Progres pembangunan smelter Freeport sudah sesuai jadwal, tetapi kami ingin proyek ini bisa lebih cepat walaupun sebenarnya line pertamanya ditargetkan bisa berproduksi pada tahun 2022,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Selasa (29/10).

Agus menerangkan saat ini pihaknya sedang melakukan sinkronisasi regulasi, misalnya tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Perlu diketahui smelter Freeport yang dibangun di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur.


Sebut Sudirman Said Tak Punya Prestasi, Ruhut: Mestinya Harus Malu dengan Kelakuannya

“Harus ada aturan-aturan yang mendukung di antara kementerian, seperti aturan berkaitan dengan Amdal, sehingga itu harus kami sinkronkan agar izin lingkungan bisa dikeluarkan lebih cepat,” ujarnya.

Agus juga mengungkapkan proyek yang menelan dana investasi sebesar 2,8 miliar miliar dollar AS tersebut, merupakan salah satu upaya pemerintah untuk terus memacu daya saing industri dalam negeri melalui peningkatan nilai tambah sumber daya alam atau hilirisasi industri.

“Banyak produk hilirisasi yang bisa kami kejar agar di Indonesia bisa ada pabrik-pabrik yang nanti akan menggunakan hasil (pemurnian) dari Freeport. Nilai tambahnya kami dorong,” ungkapnya.

Smelter ini akan dibangun diatas lahan 100 hektar itu diproyeksikan menghasilkan produk hilir diantaranya 550 ribu ton per tahun katoda tembaga, 1,3 juta ton terak, 150 ribu ton gipsum, serta 6.000 ton lumpur anoda per tahun.

“Tentunya ditargetkan dapat mempercepat proses hilirisasi logam tembaga dan emas, sekaligus tumbuhnya industri hilir produk tembaga, seperti industri kabel, aquapipe dan semikonduktor,” imbuhnya.

Kemenperin memproyeksikan indutri smelter tembaga masih banyak dibutuhkan untuk mengolah konsentrat tembaga dan anode slime yang mengandung emas. Kemenperin mencatat ini konsumsi tembaga nasional mencapai sebesar 500 ton per tahun, dan terus meningkat seiring dengan pembangunan infrastruktur kelistrikan, serta perkembangan kendaraan listrik.

Dari data kemenperin diketahui industri dalam negeri mampu menghasilkan konsentrat tembaga sebanyak 3 juta ton per tahun. Konsentrat tembaga ini banyak dihasilkan di Timika, Papua maupun di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Sayangnya, hasil dari konsentrat tersebut baru terserap sebesar 30% oleh smelter tembaga dengan kapasitas 300 ribu ton per tahun.

Selain itu, smelter ini akan menghasilkan produk utama sebesar 30 hingga 60 ton emas per tahun dengan konsumsi dalam negeri sebanyak 10 ton emas. Sedangkan sisanya akan diekspor. Lalu, turunan lain yang dapat diproduksi juga oleh smelter di Gresik adalah 120 ton logam perak.

Mengaku Ditakut-takuti Saat Ambil Saham Freeport, Netizen ke Jokowi, "Genderuwo Apa Kuntilanak?"

Halaman: 
Penulis : Nurman Abdul Rohman, Raka Kisdiyatma
 
×
×