logo


Optimalkan Marikultur Indonesia, KKP Gandeng Norwegia

Dipilihnya Norwegia dalam berkerjasama karena negara itu mempunyai industri marikultur yang lebih maju

22 Oktober 2019 14:01 WIB

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam Indonesia Sustainable Aquaculture Seminar di Jakarta yang merupakan kerja sama antara KKP dan Pemerintah Norwegia, Senin (21/10).
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam Indonesia Sustainable Aquaculture Seminar di Jakarta yang merupakan kerja sama antara KKP dan Pemerintah Norwegia, Senin (21/10). Dok. KKP

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya terus mengoptimalkan potensi marikultur (budidaya laut) Indonesia. Tercatat dari total potensi lahan marikultur yaitu 12,1 juta hektar, baru sekitar 325.825 hektar yang dimanfaatkan, sehingga ini menjadi potensi besar untuk terus dioptimalkan.

“Sektor akuakultur pada tahun 2018 menyumbang 57,14% dari total GDP (Gross Domestic Product) nasional perikanan, ini membuktikan bahwa sektor ini dapat dijadikan tumbuan bagi pembangunan ekonomi nasional,” tutur Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat memberikan sambutan Indonesia Sustainable Aquaculture Seminar di Jakarta yang merupakan kerja sama antara KKP dan Pemerintah Norwegia, Senin (21/10).

Kata Slamet, potensi marikultur ini harus dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kemakmuran rakyat. “Untuk itu, KKP berupaya untuk menyelaraskan rantai bisnis dari hilir ke hulu dan juga memperkuat daya saing produk akuakultur,” ujarnya.


Kontes Ikan Cupang, Sarana Penyaluran Hobi dan Edukasi

KKP juga berkolaborasi dengan pemerintahan Norwegia dalam pengembangan marikultur berkelanjutan di Indonesia. “Saat ini melalui proyek Sustainable Marine Aquaculture Development in Indonesia (SMADI), kita berupaya meningkatkan produksi ikan laut melalui intergrasi produksi dan industri marikultur yang berkelanjutan,” tutur Slamet.

“Kerja sama mendapatkan pendanaan dari Pemerintah Norwegia senilai 4 juta NOK, atau sekitar 6 Milyar Rupiah, dengan durasi kegiatan 2 tahun. Kerja sama dilakukan untuk mengoptimalkan potensi lahan marikultur di Indonesia melalui pendampingan dan pelatihan, peningkatan kapasitas SDM serta sharing knowledge (berbagi pengetahuan), yang dilaksanakan pada 4 komponen, yaitu pertama, perencanaan spasial dan daya dukung lingkungan. Kedua, kontrol penyakit dan parasit ikan, kemudian ketiga seleksi breeding atau pengembangan genetik kakap putih serta terakhir penyusunan standar prosedur budidaya laut berkelanjutan,” jelas Slamet.

Lanjutnya, dipilihnya Norwegia dalam berkerjasama karena negara itu mempunyai industri marikultur yang lebih maju. Hal ini terbukti dengan keberhasilannya menghasilkan ikan salmon kualitas tinggi sehingga dapat diekspor ke berbagai negara.

“Kita terus optimallkan sumberdaya perikanan laut, sektor ini sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memerangi kelaparan sebagaimana diartikulasikan dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa,” tambahnya.

Ia menyampaikan sudah saatnya menyatukan pemikiran bagaimana menyediakan pangan yang sehat, murah dan kontinyu melalui sektor akuakultur yang berkelanjutan terutama pemanfaatan marikultur yang masing sangat terbuka luas.

“Selain kerja sama ini, KKP mendorong digitalisasi. Digitalisasi sektor ini telah menjadi kebutuhan akhir-akhir ini, mengingat teknologi dan inovasi tidak pernah berhenti untuk berkembang begitu pula akuakultur,” tuturnya.

KKP Pastikan Kebijakan Program Prioritas Perikanan Budidaya Sejalan dengan Arah Pembangunan 2020

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata