logo


Jika Gerindra Gabung Jokowi, Pengamat: Apa Gunanya Pemilu Kalau yang Kalah Ikut Berkuasa?

Simak berita selengkapnya

17 Oktober 2019 18:30 WIB

Joko Widodo dan Prabowo Subianto
Joko Widodo dan Prabowo Subianto Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pengamat politik Arbi Sanit menanggapi soal mencuatnya isu tentang bergabungnya Partai Gerindra ke pemerintahan Jokowi-Ma'ruf dan sekaligus mendapat kursi menteri di kabinet kerja jilid II.

Arbi justru mempertanyakan fungsi pemilu. Pasalnya, jika Gerindra benar-benar dapat kursi menteri, apa gunanya Pemilu jika yang kalah ikut berkuasa.

Baca Juga: Ngabalin Pastikan Gerindra Dapat Jatah Menteri, Ini Reaksi Kocak Prabowo


Ini Daftar Nama Calon Menteri Periode 2019-2024 yang Sering Disebut

KPK Sering Lakukan OTT, Fahri Hamzah Heran, "Saya Geleng-geleng Kepala Lihat KPK"

"Ada kemunduran demokrasi. Bahkan, ini merusak demokrasi, merusak pemilu. Apa gunanya pemilu kalau yang kalah juga ikut berkuasa? Tunjuk saja semuanya kayak raja," jelas Arbi yang dilansir dari Telusur.com, Kamis (17/10).

"Ini gak ada makna pemilihan umum. Kalah menang sudah gak ada. Gak ada lagi oposisi, yang oposisi malah ingin dimatikan. Kalau gak ada oposisi apa itu demokrasi," sambungnya.

Ia pun berharap agar partai yang kalah di pilpres berada di luar pemerintahan atau oposisi sebagai penyeimbang dan melakukan fungsi check and balance ke pemerintah.

Ditanya Mahasiswa Soal Utang, Sri Mulyani Bilang, "Mahasiswa Mudah Dihasut...."

"Idealnya yang kalah tetap jadi oposisi. Itu rumusan demokrasi di manapun di dunia kecuali di negeri ini. Gak ada check and balance, ini siapa yang mau jadi penyeimbang? Semua plin plan, semua jadi penjilat, kongkalikong, gak jelas mana kawan mana lawan," tandasnya.

PKB Sebut Jokowi Bijaksana Karena Tak Larang Demo Jelang Pelantikan

Halaman: 
Penulis : Nugroho Meidinata