logo


Tanah DKI Terus Turun, Ini Pesan Menteri Jonan

Jonan meminta pemanfaatan air tanah dilakukan dengan lebih arif dan bijaksana

16 Oktober 2019 10:13 WIB

ignasius jonan
ignasius jonan esdm.go.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meminta warga DKI dan semua pihak untuk perhatian terhadap pemanfaatan air tanah. Pasalnya, penggunaan air tanah yang berlebihan berdampak pada penurunan tanah (landsubsidence) dan intrusi air laut.

Jonan meminta pemanfaatan air tanah dilakukan dengan lebih arif dan bijaksana, serta tidak merusak lingkungan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat khususnya yang tinggal di pesisir.

"Jangan sampai terjadi pemanfaatan air tanah tanpa memperhitungkan ekologi, dan juga tanpa memperhitungkan dampak lingkungan yang timbul sehingga dapat mengakibatkan orang lain yang tinggal di wilayah-wilayah pesisir itu terkena dampak yang sangat besar," ujar Jonan di acara Sosialisasi Penyelamatan Air Tanah Jakarta, Selasa (15/10).


Resmikan 170 Titik BBM Satu Harga, Ignasius Jonan: Kalau Bisa Dilanjutkan 500 Titik

Menurut Jonan, masyarakat yang tinggal di pesisir pantai itu tidak mengambil air tanah namun terkena imbasnya karena eksploitasi air tanah yang berlebihan sehingga menyebabkan intrusi air laut kedaratan, karena itu diperlukan kepedulian semua orang terhadap kondisi ini.

Sementara itu, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Suhendar mengatakan, penurunan permukaan air tanah yang terjadi di Jakarta terbanyak terjadi di wilayah Jakarta Bagian Utara, sehingga saat ini muka air laut sudah mencapai 1,5 meter diatas permukaan tanah Jakarta Utara.

"Kebutuhan akan air bersih masyarakat Jakarta termasuk hotel dan sarana umum lainnya masih didominasi dari air tanah yakni mencapai 60%, sisanya didapat dari air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)," ujar Rudy.

Pengambilan air tanah berlebihan di Jakarta telah mengakibatkan turunnya muka air tanah yang ikut menjadi penyebab terjadinya penurunan tanah (landsubsidence) dan intrusi air laut, terutama di wilayah utara Jakarta. Muka air tanah terendah yang terekam pada tahun 2013 di wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta sekitar - 40 meter di bawah permukaan laut (m.dpl) dari posisi awalnya. Pada tahun 2018 mengalami perubahan positif terpantau muka air tanah terendah di Jakarta utara pada level -35 m.dpl.

Kementerian ESDM bekerjsama dengan pemerintah DKI Provinsi Jakarta melakukan pengetatan pengambilan air tanah dan penindakan terhadap pengguna airtanah yang tidak sesuai aturan. Upaya ini sedikit banyak sudah menunjukkan hasil yang positif, antara lain ditunjukkan dengan adanya kenaikan kedudukan muka airtanah di beberapa tempat di wilayah Utara CAT Jakarta.

Jonan Minta Industri Migas Belajar dari Sektor Telekomunikasi

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan