logo


Menkominfo: Perguruan Tinggi Perlu Melakukan Perubahan Besar Secara ‘No Box Thinking’

SDM cetakan perguruan tinggilah yang nanti akan berperan bagi kemajuan bangsa

15 Oktober 2019 14:13 WIB

Rudiantara Menteri Komunikasi dan Informatika
Rudiantara Menteri Komunikasi dan Informatika dok. Kominfo

DEPOK, JITUNEWS.COM - Menteri komunikasi dan informatika (Menkominfo) Rudiantara memaparkan peranan penting Perguruan Tinggi dalam melahirkan SDM Unggul, khususnya di sektor ekonomi digital.

Dalam forum diskusi “Keuangan dan Keasetan”, Rudiantara meyakini SDM cetakan perguruan tinggilah yang nanti akan berperan bagi kemajuan bangsa. Acara ini adalah rangkaian dari Sidang Tahunan Perguruan Tinggi Nasional Berbadan Hukum (PTN BH).

Dia juga memberikan tanggapan terkait perkembangan dunia kampus saat ini, dalam kesematan ini dirinya menyarankan harus ada perubahan di dunia kampus dewasa ini.


Menristekdikti Menantang Perguruan Tinggi untuk...

“Perguruan tinggi perlu melakukan perubahan besar secara ‘no box thinking’ untuk meningkatkan capacity pengajar, memaksimakan aset universitas, dan memunculkan prodi (program studi) baru yang sesuai kebutuhan di lapangan,” jelasnya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, Senin (14/10).

Dalam dunia digital, Rudiantara memaparkan pesatnya perkembangan usaha rintisan atau (startup) lokal yang saat ini sudah menjadi unicorn.

“Unicorn kita tahun ini sudah 5, ini semua bergerak cepat tapi semua perguruan tinggi tenang-tenang aja. Padahal khususnya ekonomi digital, ekosistemnya salah satunya adalah sumber daya manusia yang dikembangkan dari perguruan tinggi,” kata Menkominfo.

Sebelum memberikan pemaparan propek fakultas ekonomi di beberapa perguruan tinggi ternama, dia menyindir saat ini tidak ada kampus ternama yang memiliki program logistik. Padahal menurutnya logistik merupakan salah satu yang terpenting dalam ekonomi digital.

“Fakultas ekonomi pasti ada jurusan akuntansi, ada jurusan managemen pembangunan mungkin, ada jurusan bisnis, tetapi gitu-gitu aja udah puluhan tahun. Kenapa ngga ada prodi yang berkaitan dengan logistik khusus,” ujarnya.

Logistik merupakan komponen biaya yang harus diperhatikan karena dia mencatat biaya logistik di Indonesia sekitar 24% dari total GDP. Kalau kita bandingkan GDP maka 24% dari Rp3.500 triliun habis untuk biaya logistik saja.

“Kenapa di perguruan tinggi ngga ada yang berpikir bagaimana menurunkan logistic cost, cari prodinya. Saya mau bantu, mau bantu dengan apa? Perguruan tinggi saya kerjasamakan dengan global logistics company,” paparnya.

“Saya undang global logistics company, karena global logistics company punya akademi, akademi punya silabus. Ya sudah kita jangan studi banding, studi contek aja, studi tiru. Ini yang dilakukan Kominfo sebetulnya,” terangnya.

Soal Rektor Asing, Guru Besar UI Berharap Kualitas Perguruan Tinggi Meningkat

Halaman: 
Penulis : Nurman Abdul Rohman