logo


Gerindra Merapat ke Kabinet, Politisi Golkar: Tidak Baik dalam Kerangka Demokrasi Kita

Simak berita selengkapnya

14 Oktober 2019 11:47 WIB

Presiden Jokowi menerima Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Beranda Istana Merdeka, Kamis (17/11).
Presiden Jokowi menerima Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Beranda Istana Merdeka, Kamis (17/11). Setpres/Rahmat

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Kunjungan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto ke Istana bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu disinyalir membahas kemungkinan merapatnya Gerindra ke sisi kabinet pemerintahan.

Pertemuan itu mengundang pendapat dari berbagai pihak. Salah satunya dari Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily. Ia menegaskan demokrasi Indonesia bisa monolitik apabila partai luar koalisi pemerintah turut bergabung usai kalah Pilpres.

Ace menyebut bahwa Gerindra justru sewaktu-waktu bisa menjadi musuh dalam selimut di dalam koalisi pemerintah.


Setelah Bertemu Surya Paloh, Prabowo Berencana Temui Ketum Golkar dan PKB

“Saya tendensinya ke arah sana. Jangan sampai mereka berada di dalam pemerintahan tetapi dalam posisi seperti oposisi. Tidak baik dalam kerangka demokrasi kita,” ujar Ace kepada wartawan, di Jakarta, (13/10).

Ace menilai seharusnya sudah menjadi keharusan bagi yang kalah menerima dan siap berkontestasi menunggu lima tahun mendatang. Menurutnya, parlemen saat ini sudah begitu kuat dengan 63 persen kursi DPR. Jadi, tak perlu ada tambahan koalisi di tubuh pemerintah.

“Dengan 63 persen di parlemen saya kira sdah modal yang sangat cukup untuk mengawal pemerintahan dan menunaikan janji politiknya,” tukas dia.

Prabowo dan Surya Paloh Tak Bahas Menteri, NasDem: Betul-betul Harus Pisahkan

Halaman: 
Penulis : Iskandar
 
×
×