logo


Darmawan Prasodjo: Mobil Listrik Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Berikut Ulasannya

10 Oktober 2019 10:44 WIB

Deputi I Kepala Staf Kepresidenan Darmawan Prasodjo
Deputi I Kepala Staf Kepresidenan Darmawan Prasodjo Dok. KSP

Konsekuensi yang harus dihadapi ke depan, kondisi ekonomi akan tertekan dalam menghadapi kondisi tersebut.

Berbeda dengan kondisi apabila pakai mobil listrik sekelas Toyota Innova, untuk jarak 10 km, butuh 2 KWh yang harganya sekitar Rp 1.500 per KWh. Apabila 2 KWh, membutuhkan Rp3.000.

“Sementara kalau pakai mobil bensin, 1 liter Pertalite sekitar Rp8.000-an. Jadi biaya pakai mobil listrik lebih murah,” urai Darmawan.


Dukung Mobil Listrik, PLN Tengah Siapkan Fasilitas SPLU Fast Charging

Walaupun biaya operasional mobil listrik lebih murah tetapi kendala saat ini harga jual mobil listrik yang masih sangat mahal.

Menyikapi hal itu rancangan Perpres tentang Kendaraan Listrik mengalami perubahan perancangan signifikan dan cara pandang

Semula insentif pajak diberikan hanya berdasarkan pengurangan emisi. Namun skema ini dinilai bisa disiasati oleh industri otomotif yang memproduksi kendaraan berbahan bakar fosil dengan cara mengurangi kapasitas mesinnya.

Darmawan berpendapat Pepres harus didesain menekankan pemberian keringanan pajak atau tax holiday hanya kepada kendaraan yang menggunakan baterai, bukan lagi fokus di soal pengurangan emisi.

“Insya Allah ini akan gaspol. Kalau beli Toyota Innova biasa harganya Rp450 juta per unit, dengan Perpres ini, beli Toyota Innova listrik juga harganya sama, Rp450 juta. Tapi efisiensinya berbeda, bisa meningkat dua kali lipat,” jelas Darmawan.

Dengan tingkat harga jual yang sama dengan mobil berbahan bakar fosil, masyarakat akan lebih memilih untuk menggunakan mobil listrik yang lebih efisien dari segi biaya, di mana biaya operasional mobil listrik kira-kira cuma setengah dari mobil berbahan bakar fosil.

Pemakzulan Presiden Karena Perppu KPK, LIPI: Paham yang Salah

Halaman: 
Penulis : Nurman Abdul Rohman
 
×
×