logo


Darmawan Prasodjo: Mobil Listrik Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Berikut Ulasannya

10 Oktober 2019 10:44 WIB

Deputi I Kepala Staf Kepresidenan Darmawan Prasodjo
Deputi I Kepala Staf Kepresidenan Darmawan Prasodjo Dok. KSP

Dari kalkulasi di atas dirinya memberikan solusi masalah impor BBM, baik minyak mentah maupun minyak olahan bisa diselesaikan melalui perubahan kebijakan. Dengan cara itu, pertumbuhan ekonomi nasional diharapkan tidak akan terkunci pada kisaran 5 persen.

“Pertumbuhan ekonomi nasional diharapkan bisa naik menjadi sekitar 7,5 persen, paralel dengan terjaganya impor BBM dan berubahnya pola konsumsi BBM di masyarakat,” imbuhnya.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo telah mengantisipasi sekaligus menemukan jalan keluar


Dukung Mobil Listrik, PLN Tengah Siapkan Fasilitas SPLU Fast Charging

Untuk menjawab persoalan ini, Presiden Joko Widodo menemukan solusi yang bisa ditempuh yaitu dengan mengeluarkan Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Pada era Pemerintahan Joko Widodo pertumbuhan penjualan mobil nasional mencapai 1,1 juta unit per tahun. Dibandingkan penjualan mobil nasional selama ini berada di angka 1 juta unit per tahun.

Kondisi ini sendiri tak lepas dari keberhasilan pemerintahan Presiden Joko Widodo yang mampu membangun infrastruktur jalan raya melebihi target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Realisasi pembangunan jalan baru melampui target yang semula sebanyak 2.600 km, namun realisasinya mampu lebih dari 3000 km

“Selain itu, target sesuai RPJMN yaitu membangun jalan tol sepanjang 700 km, ternyata terealisasi lebih dari seribu km,” ujar Darmawan.

Meningkatnya pembelian mobil ini berimplikasi pada tingginya konsumsi BBM, yang semula sekitar 1,4 juta barel per hari, diprediksi 10 tahun dari sekarang bisa mencapai 2,2 juta barel per hari.

Sayangnya produksi minyak Indonesia sudah semakin menipis. Selama ini berbagai investasi pengeboran di Indonesia sudah sulit untuk menemukan cadangan minyak baru. Yang banyak ditemukan justru gas. Sehingga 10 tahun dari sekarang, produksi minyak diprediksi akan menurun dari 750 ribu barel per hari akan turun menjadi 450 ribu barel per hari.

“Saya pikir, nanti impor BBM Indonesia tidak lagi Rp300 triliun per tahun, melainkan meningkat menjadi Rp1.000 triliun per tahun. Ini bisa mengurangi pertumbuhan ekonomi,” jelas Darmawan.

Pemakzulan Presiden Karena Perppu KPK, LIPI: Paham yang Salah

Halaman: 
Penulis : Nurman Abdul Rohman
 
×
×