logo


Fokus 5 Sektor ini, Kemenperin: Kontribusinya 60 Persen PDB

Dalam menghadapi era industri 4.0 fokus lima sektor manufaktur jadi andalan

8 Oktober 2019 14:14 WIB

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono dok. Kemenperin

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Dalam menghadapi era industri 4.0, Kemeneterian Perindutrian (Kemenperin) akan fokus menggenjot kinerja lima sektor manufaktur di dalam negeri. Kelima sektor ini meliputi industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, kimia, otomotif, serta elektronika.

Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan pemilihan kelima sektor ini berdasarkan evaluasi dampak ekonomi. Hal ini diungkapkan pada acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri dengan Wartawan di Padang.

“Sektor-sektor itu dipilih berdasarkan evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup kontribusi PDB, perdagangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar,” kata Sigit (8/10).

Dedi menjelaskan, dari kelima sektor tersebut dinilai mampu berkontribusi sebesar 60 persen terhadap share ke PDB, nilai ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.


Makin Mendunia, Indonesia Jadi Negara Mitra Strategis Jerman di Hannover Messe 2020

“Sehingga kalau kelima sektor ini kita garap bersama-sama, tentunya akan men-trigger pertumbuhan ekonomi kita lebih signifikan,” imbuhnya.

Dari data yang dihimpun oleh Kemenperin industri makanan dan minuman, dalam kurun lima tahun terakhir kinerjanya konsisten positif melampaui dari pertumbuhan ekonomi.

“Sektor ini tumbuh rata-rata di atas 8-9%. Jadi, kalau industri makanan dan minuman ini kita berikan upaya-upaya peningkatan yang lebih besar lagi melalui industri 4.0, tentu pertumbuhannya bisa double-digit,” ungkap Sigit.

“Sektor ini memang mempunyai nilai tambah paling tinggi, karena seluruh komponen bahan bakunya sebagian besar itu berasal dari dalam negeri. Apalagi, sektor ini didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) sehingga bisa mewujudkan ekonomi yang inklusif,” imbuhnya.

Pada Industri kimia, pemerintah sedang gencar menarik investasi untuk memperkuat struktur manufaktur di dalam negeri.

“Sebab, dari tahun 1998, belum ada investasi yang besar khususnya di industri petrokimia. Padahal, produksi dari sektor tersebut banyak dibutuhkan untuk memasok kebutuhan bagi sektor lainnya,” ujar Sigit.

Dari pertimbangan tersebut Kemenperin mendorong agar dapat menghasilkan produk substitusi impor sehingga bisa menakan defisit neraca perdagangan.

Terkait kontribusi industri tekstile dan pakaian, Sigit mengungkapkan industri ini adalah industri yang tertua di Indonesia, dan dibutuhkan program restrukturisasi mesin produksi sehingga diharapkan dapat memacu produktivitas dan daya saingnya.

“Potensi kita, industri tesktil dan pakaian ini sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir. Kalau didorong dengan penerapan industri 4.0, kami optimistis bisa mengejar kapasitas produksi dari negara-negara kompetitor,” ujarnya.

Di sektor industri elektronik, Kemenperin juga sedang mendongkrak kinerjanya melalui peningkatan investasi.

“Kita masih memerlukan investasi yang cukup besar khususnya di sektor hulu, yang bisa menghasilkan berbagai komponen untuk memasok kebutuhan bagi sektor-sektor lainnya seperti industri otomotif,” tutur Sigit.

Sementara itu pada bidang otomotif, kemenperin mencatat terjadi kenaikan yang cukup signifikan dibanding 20 tahun lalu.

Dalam jangka waktu tersebut terjadi peningkatan investasi dalam negeri dan sejumlah produsen global menjadikan Indonesia basis produksinya untuk mengisi pasar ekspor.

“Saat ini perkembangan teknologinya pun terus berkembang, seperti pada pengaruh mesinnya terhadap lingkungan. Maka itu, pengembangan kendaraan listrik menjadi prioritas ke depannya. Jadi, nanti ada aturan mengenai PPnBM yang didasarkan pada emisi yang dikeluarkan. Kalau emisinya rendah, PPnBM-nya akan rendah,” pungkasnya.

Dikira Mahal, Mobil-mobil Bekas Ini Ternyata Harganya...

Halaman: 
Penulis : Nurman Abdul Rohman