logo


Dr. Soeko Putra Sleman Patriot Wamena, Rantai Komitmen Dokter untuk Kemanusiaan

Membaca tentang Dr. Soeko, terbayang jiwa pengabdian dan patriotismenya yang tinggi

2 Oktober 2019 14:41 WIB

Dr. Soeko Marsetyo
Dr. Soeko Marsetyo Ist

Hari ini 30 September 2019, hari terakhir Dokter Indonesia menggunakan pita hitam solidaritas di pangkal lengannya. PB IDI melalui Siaran Berita 26 September 2019, mengajak seluruh Dokter Indonesia untuk menggunakan pita hitam di lengannya sebagai tanda ungkapan berkabung, duka yang mendalam, dan keprihatinan atas wafatnya Dr. Soeko Marsetyo saat terjadi kerusuhan di Wamena 23 September yl. Alumni FK Univ.Diponegoro Semarang itu, telah dikebumikan dikampung halamannya di Sleman. Meninggalkan istri dan tiga orang putrinya.

Membaca tentang Dr. Soeko, terbayang jiwa pengabdian dan patriotismenya yang tinggi. Atas kemauannya selepas lulus dari FK Undip dan mendapat STR KKI, dia berangkat mengabdikan ilmu Kedokterannya di tanah Papua sejak 15 tahun yl. Dia bekerja di pedalaman Tolikara, keluar masuk pelosok, bukit dan lembah wilayah Wamena yang luas dan dingin, jaraknya dua jam perjalanan dari kota Wamena.

Menteri Kesehatan, ibu Nila F. Moeloek, dalam kesempatan menyampaikan duka citanya yang mendalam, juga memberikan penghargaan Ksatria Bakti Husada Arutala kepada Dr. Soeko atas dedikasi dan pengorbanannya membuat Indonesia lebih sehat.


Aman! Pelaku Kerusuhan Wamena Telah Ditangkap

Bagaimana kabar teman-teman Dokter lainnya?

Dikabarkan, sekalipun situasi Wamena di Papua cukup mencekam, dimana ribuan orang mengungsi, ratusan bangunan dan rumah terbakar, evakuasi melalui udara sudah mencapai lebih 3000 orang ke Jayapura. Situasi sampai berita tadi malam, belum terkendali sepenuhnya.

Dalam situasi begitu, para Dokter tidak mau ikut mengungsi. Mereka bertekad terus memberi pelayanan. Mereka yang bekerja di RSU Wamena, RSU Oksibil dll termasuk Puskesmas, menyadari betul Tenaga Medis dan tenaga Kesehatan sangat dibutuhkan. Padahal sebagian mereka masih dalam status Wajib Kerja (bukan pegawai tetap). Patriotismen Dokter Indonesia punya sejarah.

Patriotisme Dokter Indonesia sudah tumbuh sejak lebih 100 tahun yl Sejak era STOVIA (pendidikan kedokteran Belanda), berlanjut Pendidikan Dokter Jawa.. Sehingga banyak para pejuang kemerdekaan adalah Dokter.

Dr. Daeng M.Faqih, SH, MM (Ketua Umum PB IDI) pada kesempatan Hari Bhakti Dokter Indonesia ke 111 tahun 2019 yang baru lalu, mengatakan “Dokter diera pra kemerdekaan telah menginspirasi perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan”.

Itu adalah spirit Dokter Indonesia. Spirit kedua, mensetarakan harkat dan martabatnya dengan Dokter Belanda, karena kita dianggap Dokter kelas dua. Dan spirit ketiga adalah pelayanan kesehatan kepada masyarakat dan siap mengabdi dalam situasi dan kondisi seperti apapun. Profesionalitas Dokter Indonesia telah memiliki gene pejuang patriotik. Dokter Indonesia bekerja dengan hati dengan standar yang setinggi-tingginya, termasuk mempertaruhkan dirinya dalam ancaman apapun, baik ancaman alam maupun fisik dan non fisik.

DokterSoekomemilikijiwapatriotik itu, sepertirekan-rekannya. Tugas kita bersama, untuk menghormati profesi ini. Kita berharapsemua pihak ikut menjagakeamanan para Dokter dan PetugasKesehatandalam bekerja. Mereka tidak hanyadisumpahtetapi proses belajartelahmembuatnyamengerti arti kemanusiaan dan memuliakanmanusia.

Cukuplah sejawat kami tercinta Dr. Soeko Marsetyo sebagai martir terakhir, dan menjadi Rantai komitmen Dokter untuk Kemanusiaan. Semoga Dr. Soeko dan para Dokter yang wafat di medan pengabdiannya, mendapat tempat yang terbaik disisi Sang Pencipta Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah SWT.

Penulis: Ahli Utama BKKBN dpk.Kemenkes, Dr. Abidinsyah Siregar

Wiranto Sebut OPM dan Benny Wenda Sebagai Dalang Kerusuhan Wamena

Halaman: