logo


Tari Bedhaya Ketawang, Ekspresi Cinta nan Sakral Kanjeng Ratu Kidul untuk Raja Mataram

berikut pembahasannya

1 Oktober 2019 13:44 WIB

rakosa-fm.co.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Tari Bedhaya Ketawang adalah tari sakral warisan Keraton Mataram dengan gerakan lembut yang ditampilkan pada waktu tertentu. Biasanya, tarian ini ditampilkan pada saat acara penobatan raja atau pada acara pernikahan salah satu anggota keraton.

Ada beberapa ritual khusus yang harus dilakukan oleh pihak keraton sebelum penampilan tari ini.

Tari Bedhaya Ketawang ditarikan oleh 9 orang penari yang dilatih secara khusus oleh para abdi dalem keraton. Penari juga harus memenuhi beberapa syarat seperti harus masih perawan, suci lahir dan batin.


Yuk! Kenalan Dengan Genderuwo

Sebelum pementasan tarian tersebut, mereka wajib melakukan ritual puasa selama 40 hari dan harus meminta izin dahulu kepada Kanjeng Ratu Kidul secara batin.

Tidak hanya para penari saja yang harus memenuhi syarat, namun Selama pementasan, penonton juga dilarang berbicara, makan dan minum. Mereka harus khusyu melihat setiap gerakan tari yang pementasannya bisa berlangsung hingga 2 jam. Konon, Kanjeng Ratu Kidul juga hadir menonton penampilan tarian tersebut.

Tari Bedhaya Ketawang sangat disakralkan karena tari ini adalah bentuk kisah percintaan antara Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Dikisahkan saat Panembahan Senapati sedang bersemadi di Pantai Selatan, ia sayup-sayup mendengar alunan gending Jawa yang indah, syahdu namun berwibawa. Ia kemudian bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul yang sedang menari.

Konon, gerakan tari skral Bedhaya Ketawang ini adalah lambang cinta birahi Kanjeng Ratu Kidul pada Panembahan Senopati, segala gerakannya adalah representasi dari bujuk rayu dan cumbu birahi kepada Panembahan Senapati. Sang Ratu penguasa Pantai Selatan itu kemudian meminta Panembahan Senapati untuk ikut bersamanya dan menetap di Singgasana dasar laut Pantai Selatan.

Namun, Raja pertama Mataram tersebut menolak. Sebagai gantinya, terjadilah perjanjian antara Kanjeng Ratu Kidul dan Panembahan Senopati yang tidak dapat dilanggar oleh Raja-raja Jawa setelahnya.

Hingga saat ini, tarian ini masih secara rutin ditampilkan dalam pementasan yang meriah di Keraton Surakarta setiap delapan tahun sekali.

Makhluk Seram itu Mereka Beri Nama Suanggi

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia