logo


Sekolah dalam Asap, Cerita dan Harapan Siswa Batu Ampar Kalbar

Berikut ulasannya

23 September 2019 13:44 WIB

kebakaran hutan
kebakaran hutan
dibaca 244 x

Kebakaran lahan di Kabupaten Kubu Raya khususnya di Kecamatan Batu Ampar terjadi sejak penghujung bulan Agustus dan mulai meluas hingga mendekati areal lahan di sekeliling sekolah pada awal September.

Pada tanggal 6 September 2019 sekolah kami di SMA Negeri 2 Batu Ampar sudah dikelilingi oleh api. Sekolah kami berdiri di tengah-tengah areal lahan gambut, yang ditumbuhi semak belukar berupa tanaman pakis dan akasia sehingga ketika lahan tersebut terbakar sulit untuk dipadamkan karena bara api tetap menyala di bawah permukaan tanah. Pada saat kebakaran lahan kegiatan belajar mengajar di sekolah kami tengah berlangsung. Guru dan peserta didik bahu membahu memadamkan api dengan alat seadanya, sumur yang berada di sekitar sekolah sudah kehabisan air akibat kemarau panjang.


300 Hektare Lahan Cengkih dan Karet di Sukabumi Hangus Terbakar

Keesokan harinya suasana pembelajaran di kelas sangat terganggu oleh asap karena api di sekitar sekolah kami tidak kunjung padam dan justru semakin meluas. Siswa kami mulai terkena dampak asap, beberapa siswa mengalami gangguan pernafasan sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Beberapa siswa juga mengalami pusing, dugaan kami mereka keracunan karbon dioksida yang dilepaskan dari lahan gambut yang terbakar. Lahan gambut sebenarnya menyimpan karbon dalam jumlah yang besar dan ketika lahan gambut terbakar maka karbon yang tersimpan akan terbebas dan menjadi gas beracun bagi yang menghirupnya.

Dampak asap yang tebal sayangnya minim sekali perhatian dari dinas kesehatan dan dinas pendidikan untuk sekedar memberikan bantuan masker.

Pada tanggal 10 akhirnya gubernur Kalimantan Barat mengeluarkan perintah untuk meliburkan kegiatan belajar selama 3 hari, sayangnya pada tanggal 13 saat kami masuk sekolah keadaan cuaca masih belum mendukung kegiatan pembelajaran sehingga libur sekolah ditambah dan masuk sekolah pada hari senin 16 September. Pada hari Senin ketebalan asap tidak berkurang justru asap semakin pekat dan sekolah kembali diliburkan hingga hari Rabu. Akibat libur yang panjang siswa kehilangan waktu belajar di sekolah. Pada hari ini 23 September telah turun hujan di sekitar sekolah kami sehingga kegiatan belajar bisa dilaksanakan dengan nafas yang lebih lega.

Harapan kami pelaku pembakaran lahan dapat disanksi sesuai undang-undang yang berlaku dan kebakaran lahan dapat dicegah pada tahun-tahun berikutnya karena udara bersih sangat berharga.

Ditulis oleh: Dwi Setiawan

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Masalah Karhutla Riau, BMK Akui Kesulitan Membuat Hujan Buatan

Halaman: 
Admin : Gun-Gun