logo


Soal Aturan Unggas Nyelonong, Yasonna: Jangan Dikatakan Mengkriminalisasi

Yasonna Laoly menyebut hukuman soal unggas nyelonong diatur lebih rendah dalam RKUHP.

21 September 2019 04:15 WIB

Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly.
Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly. Antara

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Publik dibuat ramai dengan adanya aturan hukum bagi sang pemilik unggas dimana hewan piaraannya tersebut nyelonong masuk ke pekarangan orang lain. Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, menyebut hukuman terkait hal itu diatur lebih rendah dalam RKUHP.

"Jadi setiap orang yang membiarkan unggas atau ternaknya berjalan di kebun (orang lain), justru ancaman hukumannya kita buat menjadi kategori II yang menjadi lebih rendah dari apa yang diatur dalam KUHP (yang sudah berlaku)," kata Yasonna di kantor Kemenkum HAM, Jakarta Selatan, Jumat (20/9).

Yasonna menyebut aturan soal unggas yang masuk ke dalam pekarangan orang lain masih perlu diatur mengingat Indonesia merupakan negara agraris dan banyak petani yang melakukan pembibitan tanaman di halaman rumah.


Demi Batalkan Revisi KUHP, Dian Sastro Ajak Warganet Tanda Tangani Petisi

Menurutnya, hukuman untuk kasus unggas yang nyelonong bukan hukuman penjara tapi denda.

"Mengapa ini masih diatur? Kita ini masih ada desa, masyarakat kita masih sebagian besar banyak yang agraris, di mana banyak petani, di mana banyak namanya masyarakat yang membibitkan bibit, sawah dan lain-lain. Ada orang yang usil, dia tidak pidana badan, dia hanya denda," ujar Yasonna.

"Dan itu ada KUHP dan di KUHP itu lebih berat sanksinya. Kita buat lebih rendah, jadi jangan dikatakan mengkriminalisasi," lanjut dia.

Aturan soal unggas nyelonong tertuang dalam Pasal 278 RKUHP. Berikut bunyinya:

Setiap orang yang membiarkan unggas yang diternaknya berjalan di kebun atau tanah yang telah ditaburi benih atau tanaman milik orang lain dipidana dengan pidana denda paling banyak Kategori II.

RUU KUHP Baru Bikin Hukuman Koruptor Makin Ringan?

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata