logo


Maman Imanulhaq: Dakwah Moderat Harus Lebih Inovatif

Metode dakwah NU yang dijiwai tiga nilai utamanya: kebijaksanaan, keluwesan, dan moderatisme

20 September 2019 11:08 WIB

Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH Maman Imanulhaq
Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH Maman Imanulhaq Ist

PURWAKARTA, JITUNEWS.COM - Metode dakwah yang dikembangan Nahdlatul Ulama (NU) sudah saatnya menjurus pada pengendalian masa depan yang ditandai kecepatan, kompleksitas, risiko, perubahan, dan kejutan.

Metode dakwah NU yang dijiwai tiga nilai utamanya: kebijaksanaan, keluwesan, dan moderatisme akan tetap berdiri kokoh sebagai organisasi dakwah Islam moderat.

Demikian disampaikan Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH Maman Imanulhaq, yang menjadi narasumber dalam forum seminar nasional pada area Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2019 di Pesantren Al-Muhajirin, Cisereuh Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (19/9) malam.


Menpora Jadi Tersangka KPK, Maman Imanulhaq: Kita Menghormati Proses KPK

“Untuk mengendalikan masa depan, para juru dakwah NU harus memperhatikan empat nilai yakni antisipasi, adaptasi, evolusi, dan inovasi," tegas Anggota DPR RI terpilih dapil Sumedang, Majalengka dan Subang ini.

Selama ini, lanjut Maman, para pendakwah NU cenderung mengusung bersikap antisipasipatif, mengabaikan tiga nilai lainya: adaptasi, evolusi dan inovasi.

“Kelompok lain yang anti kebhinekaan, Pancasila, dan NKRI justru lebih kreatif dan inovatif dalam menguasai kanal media digital seperti Youtube, Twitter, Facebook. Kelompok moderat kurang militan dan cenderung tidak mau berinovasi," kritik tokoh Muda NU yang akrab dipanggil Kang Maman.

Menurutnya, Juru dakwah NU, baik Dai (Laki-laki) atau Daiyah (Perempuan), harus menguasai Kitab Kuning, Kitab Putih dan Kitab Abu-abu. Artinya mereka memiliki kemampuan dan wawasan keilmuan agama yang luas, mampu menganalisa realitas masyarakat dan harus masuk ke dalam bagian persoalan yang dihadapi masyarakat. Mereka juga perlu membangun model strategi yang cocok diterapkan di masyarakat sesuai dengan zamannya.

“Para Dai harus memahami ruang dan Waktu, mengenali aktor dan agent budaya modern dan membangun jaringan yang luas dan plural," tutur mantan Direktur Relawan TKN Jokowi-Amin.

Seminar nasional ini dihadiri oleh seratus lebih warga NU. Forum ini mengangkat transformasi dakwah di era digital. Narasumber pada forum ini adalah KH Maman Imanulhaq, Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian–Maritim Kominfo RI, Septriana Tangkary, dan dai muda NU Aqib Malik (Gus Aqib).

Adapun Septriana Tangkary mengatakan bahwa komitmen NU sangat tampak terkait dengan penguatan pemahaman keagamaan untuk umat muslim di Indonesia.

Menurutnya, seiring dengan perkembangan zaman tantangan yang dihadapi oleh masyarakat juga berbeda sehingga membutuhkan model pendekatan baru.

“Jumlah penduduk kita 2.682 juta. Sementara pengguna internet kita 150 juta orang. Jadi  sangat besar potensinya dalam mengembangkan berbagai hal termasuk dakwah dan usaha,” ujarnya.

Soal Revisi UU KPK, Ini Kata Maman

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan