logo


Tradisi Potong Jari Suku Dani untuk Menghormati Keluarga yang Telah Meninggal

Begini ulasannya

4 September 2019 11:05 WIB

ilustrasi
ilustrasi
dibaca 15164 x

Adat dan tradisi memang bermacam-macam dan juga beragam, apalagi di Indonesia ini. Berbeda daerah, berbeda pula adat dan tradisi yang dilakukan daerah tersebut. Setiap tempat punya adatnya sendiri yang mungkin saja sangat berbeda dengan yang kita punyai. Seperti suku Dani dengan ritual pemotongan jarinya ini.

Bagi kita ritual ini mungkin ekstrem, tapi menurut masyarakat suku Dani, tidak ada cara yang lebih baik untuk mengungkapkan rasa kehilangan selain melakukan ritual berbahaya ini. Rasa sakit yang diterima bagi mereka melambangkan hati dan jiwa yang juga tercabik karena kehilangan.

Untuk mengetahui lebih dalam lagi soal ritual ngeri satu itu, berikut beberapa hal yang mungkin belum kamu ketahui tentang tradisi yang bernama Iki Palek tersebut.


Ferdinand ke Benny Wenda: Jangan Bohongi Rakyat Papua

ilustrasi

Keluarga bagi suku Dani adalah segala-galanya dan pokok dari kehidupan. Makanya, akan jadi rasa sakit luar biasa jika sampai salah satu dari keluarga ada yang meninggal. Pemotongan jari dimaksudkan sebagai lambang kehilangan yang amat sangat. Rasa sakitnya diumpamakan seperti menderitanya hati ketika saudara meninggal. Makanya, mereka pun seolah tak masalah melakukan ritual menyakitkan ini. Di samping itu, kemauan memutuskan salah satu ruas jari juga jadi bukti kesetiaan mereka terhadap keluarga.

Sebagian masyarakat awam mungkin beranggapan kalau ritual ini dilakukan oleh semua orang, tapi dalam praktiknya Iki Palek hanya dijalani oleh kaum wanita saja. Biasanya adalah para ibu atau wanita tertua. Mungkin karena hanya dilakukan oleh wanita tertua, maka kita bisa lihat kalau mayoritas ibu-ibu di sana banyak kehilangan buku jarinya.

Jari yang terputus dari para ibu suku Dani menandakan berapa banyak keluarga mereka yang sudah meninggal. Meskipun katanya hanya dilakukan para wanita, namun pria terkadang juga melakukannya.

ilustrasi

Tidak ada proses yang terlalu khusus dalam ritual Iki Palek ini. Asalkan bisa putus maka cara apapun akan dilakukan. Biasanya orang-orang di sana menggunakan semacam kapak atau pisau tradisional, Namun terkadang ada juga yang memakai gigi alias digigit sampai putus. Soal rasa sakit, tentu hal tersebut tidak bisa dihindari. Tapi, hal ini adalah tanda kesetiaan yang harus dilakukan. Dan mereka tidak merasa berat karena hal tersebut.

Para Pria Memotong Kulit Telinganya

Bagi kalangan pria suku dani juga melakukan ritual ini. Namun hal yang dilakukan disini bukan potong jari, melainkan mengiris kulit telinga. Prosesinya tidak jauh berbeda, Biasanya mereka melakukan ini dengan menggunakan semacam bilah bambu yang tajam. Tidak sampai situ saja, untuk melengkapi momentum berduka, ada juga ritual mandi lumpur sebagai lambang kalau semua yang hidup pada akhirnya akan kembali ke tanah.

ilustrasi

Ritual satu ini konon sudah dilakukan sejak zaman dulu sekali. Dan orang-orang Dani tetap setia melakukannya bahkan di masa-masa sekarang. Tapi, belakangan diketahui jika ritual Iki Palek sudah jarang sekali dilakukan. Penyebab utamanya adalah lantaran pengaruh agama yang menyebar di daerah pelosok Papua.

Meskipun demikian, ada juga yang mengatakan jika ritual ini masih lestari sampai saat ini terutama di daerah-daerah yang lebih masuk dan terpencil lagi. Agak dilematis sebenarnya menyikapi ritual yang seperti ini. Di satu sisi hilangnya tradisi menyakitkan ini adalah hal yang baik karena tidak menyakiti, tapi di sisi lain Iki Palek yang tak dilakukan lagi juga seolah mengubur satu budaya asli tanah Papua. Jadi, dikembalikan ke masing-masing orang bagaimana menyikapi fenomena tradisi menyakitkan satu ini.

Ditulis oleh: Rizky Pratama

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Pesan Asops Panglima TNI Kepada Para Prajurit TNI yang Bertugas Amankan Papua, "Harus Bisa Kendalikan Diri..."

Halaman: 
Admin : Vicky Anggriawan