logo


Sahkan UU Kebiri, Kriminolog UI Minta DPR Segera Hapus

Kriminolog Universitas Indonesia, Mamik Sri Supatmi berharap agar UU tentang hukuman kebiri segera dihapuskan

31 Agustus 2019 13:52 WIB

Hukuman Kebiri - kebiri kimiawai
Hukuman Kebiri - kebiri kimiawai Koran Jakarta

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Dokter Spesialis Urologi, Prof. Dr. dr. Akhmal Taher, Sp(UK) menjelaskan perbedaan antara kebiri fisik dengan kebiri kimia. Kebiri fisik adalah diamputasinya alat vital pria agar tidak lagi memiliki birahi seks. Sementara kebiri kimia adalah disuntikkannya zat kimia ke dalam tubuh untuk mengurangi kadar testoren sehingga fungsi seksual pada pria tidak dapat berjalan normal.

Prof Akmal menuturkan pengertian kebiri kimia yang kini marak diperbincangkan, di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Kuningan, Jakarta Selatan, senin (26/8),

"Sementaar kebiri kimia itu dilakukan agar predator seks nafsu birahinya turun. Caranya disuntiklah zat kimia ke dalam tubuh," ujar Akmal.


Dihukum Kebiri Kimia, Predator Anak: Saya Pilih Mati Saja

Hukuman kebiri pertama kali dicetuskan oleh Pengadilan Negeri Mojokerto. Keputusan ini ditetapkan karena kasus pemerkosaan 9 orang anak yang salah satunya berumur 15 tahun.

"Pengadilan Negeri Mojokerto adalah pengadilan negeri pertama di Indonesia yang menetapkan kebijakan baru berupa kebiri. Saya menghargai keputusan tersebut," ucap Yohana Susana Ambisie selaku Menteri Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak, melalui keterangan tertulis, Selasa (27/8).

Kementerian Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sangat mengapresiasi kebijakan tersebut sehingga penghargaan pun diserahkan kepada Aparat Penegak Hukum (APN) Mojokerto. Sayangnya, peristiwa ini menuai banyak kontra dari berbagai pihak.

Melansir dari hasil wawancara Tirto, berikut komentar-komentar yang tidak setuju dengan penetapan hukuman kebiri.

Anggara Suwahju selaku Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) mempertanyakan kenapa PN Mojokerto diberi penghargaan oleh PPPA.

"Ya mana ada hukuman kebiri bisa menurunkan atau menghilangkan kekerasan seksual," ujar Anggara, Kamis (29/8).

Asfinawati, salah satu warga pada hari Jumat, (30/8) menjelaskan bahwa pernah ada kasus yang dialami WA. Ia diperkosa keluarga kandungnya sendiri. Kini WA dipenjara karena melakukan aborsi.

"Kalau hukumannya kebiri ya dengan kasus seperti itu keluarga pasti memilih bungkam. Lagian kan, kejahatan itu konstruksi sosial jadi seharusnya UU membina bukan menghukum. Pola pikir ini harusnya yang diubah dulu," ujarnya.

Walaupun menuai banyak kontra, DPR telah menetapkan hukuman kebiri bagi para pelaku kekerasan seksual dalam Undang-Undang, yaitu UU No 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak.

Kriminolog Universitas Indonesia, Mamik Sri Supatmi berharap agar UU tentang hukuman kebiri segera dihapuskan.

"Kalau Pemerintah mau serius terhadap kasus kekerasan seksual ya hapus dulu UU kebiri itu," kata Mamik, Kamis (29/8)

Kepolisian Bogor Larang Warga Sebarkan Video Perkosaan Bocah 10 Tahun

Halaman: 
Penulis :
 
xxx bf videos xnxx video hd free porn free sex