logo


Indonesia Punya Enam Smelter Baru yang Siap Beroperasi

Nilainya mencapai Rp 11,92 triliun

11 Maret 2015 12:42 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Tahun ini Indonesia akan memiliki enam fasilitas pengolahan dan pemurnian (Smelter). Data yang dilansir dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) enam smelter nikel baru siap beroperasi tahun ini.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, R Sukhyar mengatakan, enam smelter baru untuk nikel akan beroperasi di tahun ini dengan total investasi mencapai Rp 11,92 triliun.

"Enam smelter ini belum termasuk perluasan serta penambahan kapasitas smelter milik Antam, Indoferro dan Modern Group," ujar Sukhyar di Jakarta, Rabu (11/3).


Warga Desa Sungai Bemban Pertanyakan Izin Tambang Galian C

"Ini merupakan hasil observasi yang dilakukan dari lapangan. Kalau soal target, kami yakin pada 2018 produksi nikel dalam negeri mencapai 30 juta ton per tahun," jelasnya.

Berikuti ini data yang diperoleh dari Kementerian ESDM, enam smelter nikel baru yang dijadwalkan beroperasi mulai tahun ini adalah milik:

1. PT Sambas mineral mining dengan kapasitas produksi Feronikel sebesar 1.000 ton per bulan atau 12.000 ton per tahun dan menelan dana investasi sebesar US$ 10 Juta setara Rp 130 miliar.

2. PT Macika Mineral Industri dengan kapasitas Feronikel sebanyak 53.680 per tahun dengan investasi mencapai US$ 61 Juta setara Rp 793 miliar.

3. PT Karyatama Konawe Utara dengan kapasitas produksi Nickel Pig Iron (NPI) sebesar 50 ribu ton per tahun dan menelan investasi sebesar US$ 45 juta setara Rp 585 miliar.

4. PT Bintang Delapan dengan memperoduksi Feronikel dan menelan investasi US$ 636 juta setara Rp 8,26 triliun.

5. PT Fajar Bakti Lintas Nusantara dengan memproduksi NPI dengan nilai Rp 200 miliar, dan

6. PT Gebe Central Nickel dengan memproduksi Nikel dengan kapasitasi 6.000 ton per tahun dengan nilai investasi mencapai US$ 150 juta setara Rp 1,95 triliun.

“Enam smelter ini belum termasuk perluasan serta penambahan kapasitas smelter milik Antam, Indoferro dan Modern Group," ujar Sukhyar di Jakarta, Selasa malam (10/3).

Menyusul beroperasinya keenam smelter tadi, Sukhyar memastikan akan ada lima smelter nikel lain senilai Rp 6,08 triliun yang siap untuk dioperasikan pada tahun depan. Kelima smelter tersebut mencakup:

1. PT Jilin Metal dengan memproduksi Feronikel dan menelan dana investasi mencapai US$ 270 juta setara Rp 3,51 triliun.

2. PT PAM Metalindo dengan produksi feronikel dan menghabiskan dana investasi US$ 100 juta setara Rp 1,3 triliun.

3. PT Putra Mekongga dengan memproduksi NPI dan menelan dana investasi mencapai US$ 25 juta setara Rp 325 miliar.

4. PT Angfang Brother dengan memproduksi NPI dengan nilai investasi US$ 18 juta setara Rp 234 miliar, dan

5. PT Bima Cakra Perkasa dengan nmemproduksi NPI dan menelan dana investasi Rp 719 miliar.

"Ini merupakan hasil observasi yang dilakukan dari lapangan. Kalau soal target, kami yakin pada 2018 produksi nikel dalam negeri mencapai 30 juta ton per tahun," katanya.

Per Januari 2020 Bijih Nikel Dilarang Diekspor

Halaman: 
Penulis :