logo


Lembaga Pembiayaan PERPAKI dan Jalan Merintis Pendirian Bank Kelapa

Arang kelapa Indonesia mulai menembus pasar Eropa dan Timur Tengah.

26 Agustus 2019 18:31 WIB

Perkumpulan Pengusaha Arang Kelapa Indonesia (PERPAKI) resmi membentuk lembaga pembiayaan internal, Senin (26/8).
Perkumpulan Pengusaha Arang Kelapa Indonesia (PERPAKI) resmi membentuk lembaga pembiayaan internal, Senin (26/8). PERPAKI

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Tentu bukan rahasia umum lagi bila industri rakyat (UMKM) di negeri ini kurang mendapat perhatian pemerintah. Dibiarkan bertarung melawan raksasa pemodal besar dan industri asing yang serakah mengeruk keuntungan langsung di sumbernya.

Kondisi Industri arang kelapa juga tak jauh berbeda. Pemerintah membiarkan industri asing mulai masuk ke dalam sektor ini dan menggurita hingga ekses kerugian pun mulai menimpa pengusaha lokal/ pribumi.

Di luar itu, kebutuhan modal juga masih menjadi salah satu kendala utama pertumbuhan bisnis industri arang kelapa. Persepsi yang menempatkan bisnis arang kelapa sebagai bisnis murahan membuat mayoritas perbankan enggan memberikan skema pembiayaan bagi pengusaha arang kelapa.

Padahal kini, ditangan PERPAKI, arang kelapa mulai naik kelas. Dengan dukungan banyak pihak, arang kelapa Indonesia mulai menembus pasar Eropa dan Timur Tengah. Lewat produk Briket Shisha dan Carbon Activated, arang kelapa Indonesia kian dikenal sebagai briket terbaik didunia.


Ungkap Kerusuhan Papua Disebabkan Faktor Kemiskinan, Sandi: Terang Saja Orang Marah

Sebagai informasi, kebutuhan arang kelapa untuk briket Shisha di dunia ini pada tahun 2017 lalu mencapai angka 800 ribu ton atau senilai Rp 16 triliun. Ekspor Indonesia baru sekitar 217 ribu ton atau sebesar 27 persen dari kebutuhan tersebut. Jumlah tersebut senilai dengan Rp 4,3 triliun.

Sebagai rumah bersama pengusaha arang kelapa lokal, Perkumpulan Pengusaha Arang Kelapa Indonesia (PERPAKI) merasa tak mau menggantungkan diri pada siapapun. Sebab, dengan jumlah anggota sebanyak 800 pengusaha/pabrik arang, PERPAKI merasa bisa berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) membuat lembaga pembiayaan sendiri.

Dengan menggandeng PT. Mitra Hervin Sumber Abadi (vendor), PERPAKI pun bermaksud mendirikan lembaga pembiayaan internal. Sejauh ini, jika masing-masing anggota memiliki kebutuhan pembiayaan selama Rp 1 miliar dalam kurun waktu 3 bulan, maka plafon yang disediakan secara akumulatif berjumlah Rp 800 miliar. Dalam hitungan setahun, berarti kebutuhan pembiayaan PERPAKI mencapai jumlah Rp 2,4 triliun.

Tentu saja, dengan jumlah kebutuhan pembiayaan tersebut, akan banyak uang dan profit berputar. Supaya manfaatnya kembali kepada anggota, PERPAKI pun membuat skema bagi hasil dengan vendor atas marjin yang diperoleh dari pembiayaan anggota.

Jika skema ini berhasil dan terus berjalan, PERPAKI pun berencana memperluas manfaat lembaga pembiayaan ini ke level kelembagaan perbankan. PERPAKI berharap dengan kelembagaan perbankan ini (Bank Kelapa) semua pemangku kepentingan industri kelapa bisa merasakan manfaatnya.

Secara teoretis, aspek kelembagaan ekonomi memang sangat penting dalam mendukung ekosistem bisnis sebuah industri, termasuk di bisnis kelapa. Selain tentu sebagai lembaga pembiayaan (menghimpun dan menyalurkan dana), Bank Kelapa akan menjadi hub (titik temu jaringan) yang memudahkan interaksi kebutuhan bisnis semua pihak yang bergerak di industri sektor kelapa.

Niat ini tentu juga sejalan dengan rencana PERPAKI membangun integrasi bisnis (Business Integrated) industri kelapa, mulai dari hulu sampai hilirnya. Rencana integrasi tersebut digagas dan disepakati PERPAKI bersama asosiasi industri kelapa lain seperti PERPEKINDO, AISKI, PEPMIKINDO, dan GAPNI demi membuat nilai bisnis industri kelapa semakin kompetitif dan efisien.

Contoh misalnya dalam penyediaan bahan baku kelapa butir. Dengan bersama-sama membeli bahan baku dalam jumlah besar, integrasi bisnis ini mampu memangkas biaya pembelian bahan secara signifikan. Dengan integrasi bisnis, pembelian kelapa senilai Rp 4 miliar dapat menghasilkan nilai tambah produk sebesar Rp 12 miliar.

PERPAKI berkeyakinan tak ada jalan yang tak mungkin untuk membuat industri sektor kelapa ini terus maju dan menjadi tuan di negeri sendiri. Salah satunya tentu dengan mendirikan lembaga pembiayaan internal serta upaya merintis Bank Kelapa ini.

Bersatu Kita Kuat !

Donald Trump Menyesal Tidak Menaikan Tarif Impor Tiongkok Lebih Tinggi

Halaman: 
Penulis : De Sukmono